MMSPH
4: Harga Sebuah Pertemuan
oleh Darwis Tere Liye pada 03 September 2011 jam 17:49
Harga Sebuah Pertemuan
Korban 1:
Laki-laki; 178cm/80kg; usia, 45
tahun; golongan darah, AB; pekerjaan, wiraswasta dan politisi sukses; tidak
merokok, tidak minum minuman beralkohol, tidak menggunakan obat-obatan
terlarang; tampan, kaya raya, memiliki kekuasaan dan pengaruh politik besar;
kepala rumah tangga yang baik dan bertanggung-jawab. Menurut tetangga sekitar,
korban sehari-hari dikenal ramah-bersahabat, memiliki keluarga yang terlihat
amat bahagia.
Ditemukan tewas oleh room boy di
kamar 709 salah satu hotel ternama, 28 Februari tahun ini. Hasil diagnosis
laboratorium forensik menunjukkan korban positif tewas karena kesengajaan.
Meskipun belum bisa dipastikan bagaimana dan oleh siapa. Kemungkinan besar
diracun.
Korban 2:
Perempuan; 164cm/55kg; usia, 39
tahun; golongan darah, O; pekerjaan, perancang busana (pakaian wanita); dua
kali dalam seminggu rutin fitness dan berendam lulur madu; cukup cantik dan
menarik (untuk ukuran wanita yang sepuluh tahun lagi menginjak usia setengah
abad); ibu rumah tangga yang baik meskipun pernikahannya sekarang memaksa istri
pertama suaminya pergi entah kemana. Korban adalah istri korban 1.
Ditemukan tewas oleh pembantu rumah
tangga di kamar tidurnya di lantai dua, 7 Maret tahun ini (satu minggu setelah
suaminya meninggal). Hasil diagnosis laboratorium menunjukkan korban positif
tewas karena diracun (brucine).
Korban 3:
Perempuan; 170cm/52kg; usia, 27
tahun; golongan darah, O; pekerjaan, artis dan model ternama; bintang iklan
salah satu produk sabun dan shampo terlaris di seluruh negeri; cantik, single
dan masih muda. Korban adalah adik sepupu korban 2, satu tahun terakhir tinggal
bersama di rumah besar mewah suami-istri (korban 1 dan korban 2) tersebut.
Ditemukan tewas oleh anak sulung
suami-istri tersebut di kamar mandi, 14 Maret tahun ini (satu minggu setelah
kakak sepupunya tewas dan atau dua minggu setelah suami kakak sepupunya
ditemukan mati). Hasil diagnosis laboratorium menyimpulkan korban positif tewas
karena diracun (arsenik).
Skenario 1:
Semenjak pertemuan pertama mereka
setahun silam, Ardem Asmoro sudah jatuh hati dengan gadis itu. Amat cantik,
segar mengundang di usia mudanya. Apalagi kondisi pernikahan keduanya saat ini
semakin lama semakin menyebalkan. Sofia sangat possesif dan Ardem Asmoro
kehilangan semua kepercayaan dan kebebasannya, dua kemewahan yang sangat
penting bagi seorang pengusaha dan politisi sukses seperti dirinya. Lihatlah
istrinya sekarang, sama sekali tidak terlihat menarik, bahkan dibandingkan
dengan sekretaris pribadinya yang gendut sekalipun. Padahal daya tarik itulah
yang dulu membuatnya menggebu-gebu menceraikan istri pertamanya dan nekad
menikahinya.
Ironisnya Ardem Asmoro bertemu
dengan gadis muda itu pada acara ulang tahun pernikahannya dengan Sofia yang
kesepuluh. Gadis itu menyempatkan diri datang setelah pemotretan sebuah produk
lokal yang tidak terkenal. Dengan malu-malu dituntun sendiri oleh Sofia, ia
memperkenalkan dirinya: Ajeng, adik sepupu jauh Sofia. Seketika Ardem melupakan
resepsi dan seluruh undangan yang memadati ruang convention besar hotel.
Sepanjang sisa malam itu, matanya tak lepas menatap wajah berhias senyuman
Ajeng, yang lemah gemulai menyeruak di antara kerumunan orang-orang, serta
suaranya yang terdengar bak buluh perindu.
Dengan kekuasaan bisnis dan
pengaruhnya, Ardem Asmoro dengan mudah membawa gadis itu menuju puncak
ketenaran karir modelnya. Dan entah karena memang Ardem Asmoro terlihat tampan,
kaya, serta berkuasa atau karena Ajeng ingin membalas budi baiknya, mereka
berdua terlibat affair panas. Istrinya yang merasa telah menguasai dan
me-monitor segala aktivitas suaminya, sedikit pun tidak curiga dan menyetujui
begitu saja saat Ajeng memutuskan untuk pindah ke kota megapolitan ini, tinggal
bersama dengan mereka.
Jangankan istrinya, media massa yang
terkenal amat ganas di kota ini pun tak mampu mendeteksi hubungan gelap
tersebut. Andaikata tahu, mereka bagaikan mendapatkan durian runtuh: gosip
terpanas yang pernah ada, perselingkuhan seorang kandidat kuat penguasa kota
dengan seorang artis dan model ternama, yang tak lain adalah adik sepupu jauh
istrinya sendiri.
Malam itu mungkin karena nafsu liar
mereka yang menggebu-gebu, Ardem Asmoro dan Ajeng bertindak tidak hati-hati. Ia
lupa istrinya sedang mengadakan pargelaran adibusana di tempat yang sama.
Diduga Sofia menangkap basah mereka
berdua tengah mabuk bersama di lorong hotel tanpa sedikit pun menyadarinya.
Malam itu juga, Sofia yang sakit hati, terhinakan dan terkhianati membayar
salah seorang service room untuk membubuhkan racun di minuman yang dipesan oleh
mereka. Dan hasilnya segera terlihat, Ardem Asmoro ditemukan tewas membeku
keesokan harinya. Kenapa Ajeng bisa selamat? Penyidik menduga mungkin karena ia
tidak sempat meminum minuman mematikan tersebut, atau mungkin ia pulang lebih
awal dari biasanya. Entahlah.
Tetapi dipastikan Ajeng mencurigai
keterlibatan Sofia atas pembunuhan Ardem Asmoro malam itu. Ia merasa
perselingkuhan mereka berdua sudah diketahui oleh Sofia dan itu menjadi musabab
pembunuhan. Ia menyadari setiap saat posisinya terancam. Hubungan mereka di
rumah besar-mewah itu menjadi tegang, meskipun itu luput dari perhatian puluhan
wartawan dan penyidik yang ramai meliput dan bertanya.
Malam itu, satu minggu setelah
kematian Ardem Asmoro, Ajeng memutuskan untuk membunuh Sofia terlebih dahulu
sebelum ia yang malah dibunuh. Racun yang dimasukkan secara hati-hati ke dalam
tablet obat peramping badan yang rajin diminum Sofia setiap malam, benar-benar
pamungkas. Sofia ditemukan tewas membeku esok paginya.
Ternyata Ajeng tidak menyadari
perbedaan beban psikis antara saat seseorang tengah merencanakan membunuh,
kemudian mengeksekusinya dengan setelah melakukan kejahatan itu sendiri. Ia
ketakutan sepanjang hari, apalagi wartawan dan penyidik semakin gencar
mencercanya dengan ribuan pertanyaan. Berbagai hipotesis digelar media massa,
berbagai skenario digelar oleh penyidik. Meskipun tak satu pun yang
menyinggung-nyinggung keterlibatannya, Ajeng merasa kejahatannya setiap saat
bisa terungkap. Tak tahan membayangkan berbagai kemungkinan yang akan
menimpanya, malam itu Ajeng nekad memutuskan untuk menenggak sebotol racun
lainnya.
Ia ditemukan tewas dengan mulut
berbusa pagi itu. Seminggu setelah kakak sepupunya ditemukan tewas di kamar
tidurnya. Dua minggu setelah suami kakak sepupunya ditemukan mati di kamar
hotel.
Skenario 2:
Malam itu Ajeng berteriak histeris
meminta pertanggung-jawaban Ardem Asmoro. Ia sudah berbadan dua, tetapi
sebaliknya Ardem Asmoro dengan ringannya bersikukuh menolak, dan malah memilih
menggugurkan kandungan tersebut. Banyak hal penting yang harus dilakukannya
enam bulan mendatang. Pemilihan penguasa kota, ekspansi bisnis besar-besaran,
hingga memulai kampanye nasional agar ia bisa menguasai organisasi besar itu.
Affair ini tidak akan mungkin
berlanjut menjadi sebuah pernikahan. Seberapa besar pun otak warasnya tergoda
pada Ajeng. Situasinya amat berbeda dengan ketika ia dulu memutuskan untuk
meninggalkan istri pertamanya. Resikonya terlalu besar.
Maka membuallah Ardem Asmoro soal
betapa ia masih mencintai Sofia. Tentang hubungan mereka selama ini yang hanya
selingan belaka, baginya sedikit pun ia tidak mencintai Ajeng. Pertengkaran itu
berakhir ketika Ajeng berurai air mata berlari keluar dari kamar hotel yang
terasa seperti neraka. Tetapi sebelum pergi meninggalkan hotel itu, di tengah
rasa kecewa yang membelit, putus asa yang menggantung, dan rasa malu yang
mencoreng paras cantiknya, tanpa pikir panjang Ajeng masih sempat mengupah
seorang service room untuk membubuhkan racun di minuman yang dipesan oleh Ardem
Asmoro. Dan hasilnya, Ardem Asmoro ditemukan tewas membeku pagi itu. Seluruh
media massa ramai memberitakan pengusaha dan penguasa yang ditemukan mati
mengenaskan di kamar hotel yang secara bersamaan entah kebetulan atau tidak
ternyata juga tengah menggelar pargelaran adibusana koleksi istri tercintanya.
Kemarahan Ajeng ternyata tidak cukup
hingga disitu. Merasa Sofia-lah yang menjadi penghalang baginya memiliki Ardem
Asmoro, seminggu setelah kematian pasangan selingkuhnya, Ajeng nekad memasukkan
racun ke dalam tablet obat peramping Sofia. Racun itu bekerja efektif dan
cepat, Sofia ditemukan beku tak bernyawa esok paginya di kamar tidurnya.
Penduduk kota semakin heboh. Belum genap mereka membangun dugaan penyebab
kematian misterius pertama tuan rumah, sekarang ditambah lagi dengan kejadian
yang lebih misterius di keluarga yang selama ini dikenal bahagia dan jauh dari
gosip media.
Dan ternyata pembunuhan berantai itu
belum usai. Menyadari semuanya sudah tak tersisa lagi. Masa depannya, kekasih
pujaan hatinya, harga dirinya, dan beribu perasaan dicampakkan, dihinakan dan
lain sebagainya, malam itu Ajeng gelap mata, nekad memutuskan untuk menenggak
sebotol penuh racun lainnya. Dan seperti seminggu lalu dan atau dua minggu
lalu, tubuh Ajeng ditemukan membeku dengan mulut berbusa telentang di atas
tegel mewah kamar mandinya.
Meninggalkan berjuta pertanyaan.
Skenario 3:
Dua skenario itu menjadi favorit
media massa, apalagi setelah penyidik laboratorium forensik memastikan bahwa
Ajeng dipastikan memang tengah mengandung tiga bulan. Tetapi bagi masyarakat
kota kami, sulit sekali membayangkan Sofia dan Ajeng yang selama ini dikenal
sebagai figur baik hati dan dermawan mampu melakukan kejahatan sebesar itu.
Bagaimana mungkin kalian akan mencurigai tetangga baik kalian yang selama ini
dikenal amat santun, respek, dan pandai membawa diri. Untuk menuduhnya membunuh
seekor anjing dengan sengaja pun kalian takkan tega.
Maka berkembanglah skenario ketiga
yang melibatkan orang luar. Skenario yang hingga hari ini sama sekali tidak
bisa dibuktikan, meskipun harus diakui lebih menyenangkan untuk menjawab rasa
penasaran dan ketidakpercayaan publik atas dua skenario sebelumnya.
Malam itu, istri pertama Ardem
Asmoro yang sepuluh tahun lalu diusir oleh suaminya dan lari entah kemana,
kembali pulang ke kota ini. Pulang membawa dendam yang membinasakan.
Malam itu, dengan menggunakan jaket
tebal dan topi yang menutupi separuh muka ia menyelinap ke ruang pargelaran
adibusana Sofia. Ia menatap penuh kebencian Sofia yang amat anggun duduk
tersenyum menerima kilau jepretan puluhan kamera. Wanita itu sungguh telah
merampas seluruh kebahagiaannya.
Maka sesuai rencananya, di
tengah-tengah acara pertunjukkan ia naik ke atas, menuju kamar bekas suaminya
yang tengah menginap. Ia juga yang pagi hari sebelumnya berpura-pura menjadi
Sofia, menelepon kantor bekas suaminya, meminta Ardem Asmoro agar mau menginap
di hotel tempat berlangsungnya pargelaran adibusana Sofia.
Ia mencegat service room yang datang
menghantarkan hidangan makan malam. Membubuhkan sebotol racun yang menjadi
simbol sakit hatinya selama ini di minuman yang dipesan oleh suaminya. Dan
keesokan harinya, Ardem Asmoro ditemukan mati membeku di kamar hotel itu.
Dendam percintaan yang terkhianati
itu ternyata sangat mengerikan. Mantan istri Ardem Asmoro juga memutuskan untuk
membunuh Sofia seminggu kemudian. Dengan dingin ia membayar petugas apoteker
langganan Sofia untuk mengganti isi tablet obat peramping tubuh dengan bubuk
racun brucine. Keesokan paginya Sofia ditemukan tewas mengenaskan.
Yang menjadi pertanyaan kenapa Ajeng
menjadi sasaran berikut pembalasan dendam mengerikan tersebut? Besar
kemungkinan mantan istri Ardem Asmoro itu tahu hubungan gelap mereka selama
ini. Ia tidak peduli apakah Ajeng memiliki kaitan yang membuatnya terusir
sepuluh tahun silam atau tidak, baginya semua pihak yang memiliki affair dengan
mantan suaminya harus dibinasakan. Maka malam itu ia membayar orang upahan
untuk memasukkan sebotol racun lainnya ke dalam santap malam Ajeng. Pagi itu,
model dan artis terkenal itu ditemukan mati tertelentang di tegel mewah kamar
mandinya.
***
Hujan gerimis membasahi pemakaman.
Orang-orang berjalan pelahan dengan pakaian serba hitam merapat mendekati
buncahan tanah merah. Beberapa di antaranya memegang sapu tangan, menyeka
buliran air mata, membuang hingus, atau sekadar basa-basi agar terlihat turut
bersimpati. Imam membacakan doa-doa, berharap langit berbaik hati menerima
kembalinya sang anak manusia.
Tragis sekali.
Ini adalah pembunuhan ketiga di
rumah keluarga terkenal itu. Seminggu yang lalu nyonya rumah yang dikenal
masyarakat luas sebagai perancang busana ternama juga ditemukan tewas diracun
di kamar tidurnya. Dua minggu sebelumnya sang tuan rumah, seorang pengusaha dan
politisi sukses, lebih mengenaskan ditemukan mati terbunuh di kamar hotel
tempat berlangsungnya pargelaran adibusana istrinya. Dan tadi pagi, artis serta
model ternama, sekaligus adik sepupu nyonya rumah yang kebetulan tinggal
bersama dengan mereka ditemukan tertelentang mati dengan mulut berbusa di
lantai kamar mandi.
Peti mayat itu pelahan-lahan
diturunkan. Orang-orang menahan nafas. Aku menaburkan rangkaian bunga melati
sambil tak henti melirik kesana-kemari.
Akulah, putri sulung Ardem Asmoro,
anak tiri Sofia, yang tadi pagi menemukan mayat Ajeng membeku di kamar mandi
itu. Akulah yang berteriak histeris memanggil bantuan, seperti yang juga aku
lakukan saat menemukan mayat biru Sofia sebelumnya.
***
Acara pemakaman yang menjemukan ini
sudah hampir berakhir, tetapi pria yang kutunggu-tunggu itu belum kelihatan
juga. Aku mendesah dalam hati. Pura-pura menghentikan taburan bunga melati
untuk menghapus air di kelopak mataku.
Ketika ayah mati dua minggu lalu,
yang aku yakin sekali itu memang pilihannya, di sore pemakamannya, pria itu
datang entah dari mana. Begitu tegap dan gagah. Ia mengenakan tuksedo hitam
legam, dasi hitam kelam, sepatu hitam mengkilat, dan kacamata hitam hebat. Aku
terkesima melihat kehadirannya. Seperti para pelayat lainnya, ia mengecup
tanganku takzim, berbisik tentang duka cita. Dan hatiku entah mengapa
sebaliknya tiba-tiba goncang berbisik soal cinta. Ia melepas kaca mata
hitamnya, dan kami berdua untuk beberapa kejap bertatapan dalam sekali.
Aku tiba-tiba lunglai dalam putaran
perasaan yang tidak aku mengerti. Pria gagah itu, siapapun dia, telah membunuh
jantungku seketika. Sayang sekali, setelah acara pemakaman ayah, ia raib begitu
saja ditelan bumi.
Berhari-hari aku mencoba melacak
keberadaannya. Siapa dia? Dari mana asalnya? Tak satu pun yang bisa memberikan
jawaban. Malam-malam kuhabiskan dengan menyebut parasnya, pagi-sore kubakar
dengan meratapi tubuhnya, dan siang kubunuh dengan membayangkan bisikan
suaranya. Hingga entah dari mana, di ujung rasa rindu dan keputusasaan untuk
menemukannya, tiba-tiba muncul gagasan gila tersebut. Gagasan yang benar-benar
gila.
Pria itu mungkin akan datang
kembali, jika di keluarga ini ada pemakaman berikutnya. Ya, kenapa tidak.
Pasti ia akan datang kembali, jika di keluarga ini ada pemakaman
berikutnya. Aku tak bisa menghentikan otak jahatku berpikir tentang gagasan
tersebut. Semakin lama semakin keras menghantam jantungku. Dan bukankah dari
dulu aku memang tidak menyukai anggota keluarga lainnya. Harus ada yang mati di
keluarga ini sebagai harga pertemuan dengannya.
Maka malam itu aku memasukkan bubuk
racun brucine ke dalam tablet obat peramping tubuh Sofia. Ia berhak
mendapatkannya. Terlebih aku berhak mendapatkan kesempatan kedua untuk bertemu
kembali dengan pria misterius itu.
Di sore hari pemakaman Sofia, di
tengah-tengah kesedihan para pelayat, pria gagah itu kembali datang. Dengan
tuksedo hitam legam, dasi hitam kelam, sepatu hitam mengkilat, dan kacamata
hitam hebat. Aku terkesima melihat kehadirannya lebih dari saat pertama kali
dulu bertemu. Seperti para pelayat lainnya, ia mendekatiku mengecup tanganku
takzim, berbisik tentang duka cita. Dan hatiku tiba-tiba entah terbang kemana.
Ia melepas kaca mata hitamnya, dan
kami berdua untuk beberapa kejap bertatapan dalam sekali. Tidak hanya itu, ia
bahkan memelukku erat-erat. Gemetar badanku menahan luapan perasaan itu. Aku
benar-benar dimabukkan, sama sekali tidak peduli dengan kenyataan bahwa
pertemuan ini sangat mahal harganya. Sayang sekali, ketika acara pemakaman
Sofia berakhir, pria gagah itu untuk kedua kalinya hilang entah kemana.
Aku semaput dalam perasaan rindu.
Aku ingin menghambakan diri dalam pelukannya. Aku menginginkannya, tetapi tidak
tahu harus mencarinya kemana. Dan tidak mengejutkanku ketika cepat sekali
gagasan yang sama itu muncul kembali di otakku. Pria itu akan datang jika ada
pemakaman berikutnya di keluarga ini. Jika ada pemakaman itu berarti harus ada
yang mati di keluarga ini. Dan Ajeng, yang selama ini memanfaatkan ayah untuk
mengejar popularitasnya layak menjadi tumbal pertemuanku dengan pria itu.
Malam itu aku membubuhkan sebotol
racun arsenik dalam minuman Ajeng. Keesokan paginya, pura-pura aku hendak
membangunkannya, dan persis seperti dugaanku, gadis binal itu ditemukan mati
tertelentang di kamar mandinya. Menjadi harga yang harus dibayar.
***
Satu dua para pelayat meninggalkan
pemakaman. Senja semakin kelam. Hujan turun semakin deras. Aku gemetar memegang
payungku. Menatap nanar sekeliling. Pria gagah itu belum juga kelihatan batang
hidungnya
Deru mobil distarter terdengar
ramai, kemudian dengan pelan dan khidmat meninggalkan tanah merah pemakaman,
menyisakan deretan kendaraan yang sekarang bisa dihitung dengan jari tangan.
Pria misterius itu belum juga datang.
Petugas pemakaman membenahi
peralatan hatihati, takut mengganggu kesendirianku. Malam datang menjelang.
Hujan turun semakin gila. Petir sambarmenyambar diselingi dengan hentakan
guruh.
Pria itu belum juga datang.
Mungkin ia sudah terbiasa dengan
satu pemakaman. Mungkin sekarang dibutuhkan dua pemakaman sekaligus untuk
membuatnya datang. Otak jahatku tak terkendali bergemuruh mencari alasan. Ya,
dua pemakaman sekaligus. Memikirkan itu, aku menyeringai tersenyum lebar: kedua
anak kembar Sofia sekarang pasti sedang tertidur pulas di kamarnya.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar