MMSPH
12: Kutukan Kecantikan Miss X - Season 2
oleh Darwis Tere Liye pada 09 September 2011 jam 13:51
KUTUKAN KECANTIKAN MISS X 2
Januari
Musim penghujan, sejak semalam
gerimis membungkus kota. Pagi yang dingin. Aku berlari-lari kecil,
mengembangkan payung putih. Menuju halte depan kost-an. Hari kerja pertama
tahun ini. Sekaligus Senin pertama tahun ini. Langit kota terlihat muram, awan
kecoklatan menggantung. Aku berbisik pelan, semoga hari ini tidak berjalan
menyebalkan.
Bus Patas AC nomor 102 terlihat dari
kejauhan. Kondekturnya melambai-lambai berteriak menyebut tujuan. Aku berdiri.
Mobil merapat. Naik. Inilah bus yang kugunakan setiap hari berangkat kerja.
Sudah hampir empat tahun. Dengan jadwal yang sama. Bus yang sama. Sopir yang
sama. Meski penumpangnya berbeda-beda.
Dan inilah awal segala kisah
menyedihkan ini….
Pagi itu, se-isi bus terlihat muram.
Mungkin setelah libur akhir tahun yang menyenangkan, kembali bekerja bukanlah
hal yang bisa membangkitkan antusiasme. Aku tersenyum ke beberapa penumpang
yang kukenali. Wajah-wajah masih mengantuk. Hingga, hei! Di kursi tempatku
biasa duduk, baris ke enam dari depan, dekat jendela sebelah kanan. Sudah duduk
dengan manisnya seorang gadis. Oh-Ibu! Aku menelan ludah. Sungguh selalu
membuatku terpesona.
Aku berdehem pelan. Gadis itu
mengangkat kepalanya, “Kursi di sebelahnya kosong?” Pertanyaan basa-basi.
Gadis itu mengangguk.
“Boleh aku duduk?”
Gadis itu mengangguk lagi.
Percaya atau tidak, itulah percakapan
terlama yang pernah aku lakukan dengannya selama tiga bulan berlalu. Sisanya?
Aku hanya duduk diam membeku. Hanya melirik-lirik. Hanya bergumam tak jelas.
Hanya sibuk meneguhkan hati untuk mengajaknya bicara. Sementara gadis itu
takjim melihat keluar jendela kaca. Menatap jalanan yang mulai ramai.
***
April
Bulan ini, penghujung musim hujan,
sejak semalam gerimis membungkus kota. Pagi yang dingin. Aku berlari-lari
kecil, mengembangkan payung putih. Menuju halte depan kostan. Hari kerja
pertama bulan ini. Sekaligus Senin pertama bulan ini. Langit kota terlihat
muram, awan kecoklatan menggantung. Aku berbisik pelan, semoga hari ini tidak
berjalan menyebalkan.
Bus Patas AC nomor 102 terlihat dari
kejauhan. Kondekturnya melambai-lambai berteriak menyebut tujuan. Aku berdiri.
Mobil merapat. Naik. Inilah bus yang kugunakan setiap hari berangkat kerja.
Sudah empat tahun tiga bulan. Dengan jadwal yang sama. Bus yang sama. Sopir
yang sama. Dan tentu saja ada satu penumpangnya yang selalu sama. Gadis itu.
Duduk anggun di kursi baris ke enam, dekat jendela sebelah kanan. Dan aku yang
duduk di sebelahnya setelah bersitatap sejenak satu sama lain.
Sempurna tiga bulan berlalu, dan
kami tidak pernah berbincang-bincang. Buat apa? Lirikan mata kami sudah bicara
banyak bukan? Ya Tuhan, dusta sekali pernyataan ini. Baiklah, terus-terang saja
kuakui, aku tidak berani mengajaknya bicara. Terlalu gugup. Terlalu cemas.
Mulutku selalu kelu saat hendak dibuka. Dan kerongkonganku seperti tersumpal.
Jadi apa yang harus kulakukan? Hanya
duduk salah-tingkah. Sibuk membujuk hati untuk memulai. Sibuk membujuk….
Sisanya tidak ada. Tetap sepi. Sepi yang sedikit terpotong oleh kondektur yang
mengambil ongkos, oleh pengamen yang bernyanyi serak, oleh lalu-lalang
penumpang.
Gadis itu masih takjim menatap
keluar jendela kaca.
***
Juli
Bulan ini sudah masuk musim kemarau,
tetapi sejak semalam gerimis membungkus kota. Pagi yang dingin. Aku
berlari-lari kecil, mengembangkan payung putih. Menuju halte depan kostan. Hari
kerja pertama bulan ini. Sekaligus Senin pertama bulan ini. Langit kota
terlihat muram, awan kecoklatan menggantung. Aku berbisik pelan, semoga hari
ini tidak berjalan menyebalkan.
Bus Patas AC nomor 102 terlihat dari
kejauhan. Kondekturnya melambai-lambai berteriak menyebut tujuan. Aku berdiri.
Mobil merapat. Naik. Inilah bus yang kugunakan setiap hari berangkat kerja.
Sudah empat tahun enam bulan. Dengan jadwal yang sama. Bus yang sama. Sopir
yang sama. Meski penumpangnya mulai berbeda-beda.
Gadis itu masih di sana. Selalu naik
bus yang sama kugunakan berangkat kerja. Selalu duduk anggun di baris ke enam
dari depan, dekat jendela sebelah kanan. Dan aku duduk di sebelahnya.
Namanya? Enam bulan berlalu aku
sempurna belum tahu. Bagaimanalah akan tahu kalau aku tidak pernah
berani menanyakannya. Yang aku tahu rambutnya hitam legam sebahu, lesung pipit
menghias indah wajah sempurnanya. Matanya hijau (sehijau hatiku saat
meliriknya). Ia selalu mengenakan blouse kerja warna cokelat setiap
Senin. Dipadu dengan rok selutut dengan warna yang sama. Hari Selasa ia memakai
baju berwarna biru. Hari Rabu berwarna hijau. Hari Kamis berwarna krem. Hari
Jum’at berwarna putih.
Ia turun di gedung itu. Empat halte
lebih jauh dari gedung tempatku bekerja. Karena aku sejak awal tahun memaksakan
diri tidak turun sebelum ia turun, maka itu berarti sudah enam bulan aku
terpaksa menyeberang, naik bus lainnya, berbalik arah, kembali ke gedung
kantorku.
***
September
Bulan ini, kembali musim penghujan,
sejak semalam gerimis membungkus kota. Pagi yang dingin. Aku berlari-lari
kecil, mengembangkan payung putih. Menuju halte depan kostan. Hari kerja
pertama bulan ini. Sekaligus Senin pertama bulan ini. Langit kota terlihat
muram, awan kecoklatan menggantung. Aku berbisik pelan, semoga hari ini tidak
berjalan menyebalkan.
Bus Patas AC nomor 102 terlihat dari
kejauhan. Kondekturnya melambai-lambai berteriak menyebut tujuan. Aku berdiri.
Mobil merapat. Naik. Inilah bus yang kugunakan setiap hari berangkat kerja.
Sudah empat tahun delapan bulan. Dengan jadwal yang sama. Bus yang sama. Sopir
yang sama. Meski penumpangnya berbeda-beda.
Gadis itu masih di sana. Selalu naik
bus yang sama kugunakan berangkat kerja. Selalu duduk anggun di baris ke enam,
dekat jendela sebelah kanan. Dan aku duduk di sebelahnya. Delapan bulan
sempurna berlalu.
Aku mulai menyumpah-nyumpah betapa
pengecutnya diriku. Betapa pecundangnya kehidupan cintaku. Entahlah. Aku
mendesis lemah. Bagaimana mungkin akan seperti ini? Bukankah selama ini mudah
saja aku bergaul dengan gadis-gadis lain. Berkenalan. Berbincang sambil tertawa
riang. Mudah saja. Tidak ada masalah. Tapi yang satu ini. Aku sempurna membeku.
Aku sungguh tidak mengerti….
Hari itu ia tidak mengenakan blouse
kerja cokelat seperti biasanya. Tapi berwarna merah marun. Bukankah itu ide yang
baik? Memulai pembicaraan dari sana.
Oh-Ibu, tolonglah aku…. Aku
mendesis.
Setengah jam berlalu, bus patas AC
nomor 102 terus merayap di jalanan padat. Aku berdehem. Gadis itu menoleh.
“Kau tidak mengenakan gaun cokelat?”
Ia sedikit bingung menatapku.
“Ergh, bukankah kalau hari Senin kau
selalu mengenakan gaun cokelat? Hari Selasa berwarna biru. Hari Rabu berwarna
hijau. Hari Kamis berwarna krem. Hari Jum’at berwarna putih….” Aku mulai
semaput menerima tatapan matanya.
“Bagaimana kau tahu?” Gadis itu tertawa.
“Tahu apa?” Aku yang sekarang
menjadi bingung.
“Warna pakaian kerjaku? Kau
memperhatikanku?”
Entahlah seperti apa warna wajahku
pagi itu. Malu. Benar-benar malu dengan kalimat barusan. Mungkin gabungan warna
cokelat, biru, hijau, krem dan putih…. Gadis itu tertawa kecil sekali lagi.
Tersenyum amat manisnya.
“Terima-kasih kau sudah amat
perhatian….”
Itulah pembicaraan kami hingga tiga
bulan ke depan. Aku terlanjur gugup untuk bicara lagi esok-esok harinya. Jadi
semuanya kembali ke awal. Hanya lirikan mata. Tersenyum tanggung. Dan gadis itu
kembali takjim menatap keluar jendela, jalanan yang mulai ramai.
***
Desember
Musim penghujan, sejak semalam
gerimis membungkus kota. Pagi yang dingin. Aku berlari-lari kecil,
mengembangkan payung putih. Menuju halte depan kostan. Hari kerja terakhir
tahun ini. Sekaligus Jum’at terakhir tahun ini. Langit kota terlihat muram,
awan kecoklatan menggantung. Aku berbisik pelan, semoga hari ini tidak berjalan
menyebalkan.
Bus Patas AC nomor 102 terlihat dari
kejauhan. Kondekturnya melambai-lambai berteriak menyebut tujuan. Aku berdiri.
Mobil merapat. Naik. Inilah bus yang kugunakan setiap hari berangkat kerja.
Sudah lima tahun. Dengan jadwal yang sama. Bus yang sama. Sopir yang sama.
Meski penumpangnya berbeda-beda.
Gadis itu masih di sana. Selalu naik
bus yang sama kugunakan berangkat kerja. Selalu duduk anggun di baris ke enam,
dekat jendela sebelah kanan. Dan aku duduk di sebelahnya.
Setahun sempurna berlalu. Semalam
aku sungguh berkutat dengan ide itu. Bagaimana mungkin setahun berlalu sia-sia?
Bagaimana mungkin aku begitu pecundangnya? Maka aku memutuskan nekad hari ini.
Apapun yang terjadi aku harus berhasil mengajaknya bicara, berkenalan….
Semalam aku sudah menyiapkan sepotong bunga mawar. Menyiapkan dialog hingga
empat versi, tergantung seberapa gugup aku….
Tetapi pagi ini semuanya sungguh
terlihat berbeda. Gadis itu tidak mengenakan baju kerja lazimnya. Ia memakai
gaun berwarna putih. Di tangannya tergenggam sebuah kotak besar. Dengan hiasan
pita. Wajahnya riang seperti semburat cahaya matahari pagi. Aku menelan ludah.
Mendadak kehilangan seluruh keberanian yang ku-kumpulkan semalam, hei bukan
hanya semalam tetapi selama setahun….
Maka kami seperti biasa membisu
sepanjang perjalanan. Hanya lirikan. Tersenyum tanggung. Satu jam berlalu
begitu saja, bus patas AC nomor 102 hampir mendekati tujuan gedung kantor gadis
itu.
“Maukah kau membantuku?” Tiba-tiba
gadis itu bicara, menyentuh lembut ujung kemeja lengan panjangku.
Aku gemetar. Menoleh. Ya Tuhan, ia
mengajakku bicara? Apa aku tidak salah dengar?
“A-pa?”
“Kotak ini…. Maukah kau membantuku?”
Gadis itu tersenyum, membuka kotak yang dipegangnya.
Sebuah kue indah terletak di
dalamnya. Dengan bentuk sepotong hati yang memesona. Buah chery menghiasi atas
kue tersebut. Berbaris rapi. Aku menelan ludah.
“Aku akan turun di halte depan…. Aku
dari tadi malu untuk melakukannya, jadi maukah kau membantuku?”
“Mem-ban-tu a-pa?”
“Tolong bagikan kue ini ke
penumpang bus yang lain…. Besok pagi aku akan menikah…. Aku ingin berbagi
kebahagiaan dengan sepotong kue chery ini dengan penumpang bus ini, yang
setahun terakhir selalu bersama…. Maukah kau membantuku?”
Aku sudah membeku. Tidak lagi kuasa
mendengarkan ujung kalimatnya. Mencengkeram erat bunga mawar di balik kemejaku.
Aku sungguh amat terlambat.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar