MMSPH
5: Antara Kau dan Aku
oleh Darwis Tere Liye pada 04 September 2011 jam 7:09
Antara Kau dan Aku
Lantai sebelas sepi. Nyaris semua
penghuninya keluar makan siang, hanya ada dua-tiga orang saja yang masih
berkutat di depan komputer masingmasing. Dan salah dua di antaranya adalah
gadis dan pemuda yang duduk jauh berseberangan itu. Terpisah oleh meja-meja dan
partisi setinggi pundak, juga dispenser dan printer sentral multi fungsi di
tengahtengah ruangan.
Tetapi entah siapa yang menyusun
berbagai halangan tersebut, disengaja atau tidak, mereka berdua tetap masih
bisa saling melihat dari sela-sela berbagai barang. Untuk ukuran sejauh itu
tidak jelas benar memang paras muka masing-masing, tetapi kalian masih bisa
dengan mudah memahami gerak tubuh orang di seberangnya.
Seperti yang sedang terjadi saat
ini. Gadis itu melirik berkali-kali ke depan, ia sedang menunggu. Menunggu
pemuda itu beranjak berdiri, kemudian turun untuk makan siang. Resah sekali ia.
Seperti kemarin, hari ini gadis itu ingin berpura-pura tidak sengaja
berbarengan turun dengannya. Sedikit saling menyapa di lift, lantas sedikit
basa-basi sebelum berpisah menuju tempat makan “favorit” masingmasing. Tetapi
nampaknya pemuda itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengakhiri
pekerjaannya.
Detik demi detik, waktu berjalan
terasa amat lambat. Istirahat siang tinggal tiga puluh menit lagi. “Ayolah,
lakukan saja,” bujuk separuh jantungnya. “Bodoh! Kau hanya akan mempermalukan
dirimu saja!” separuh jantungnya lagi menyela dengan sinisnya.
Dan setelah sekian menit lagi
berkutat dengan keraguannya, akhirnya gadis itu nekad memberanikan diri
berjalan menghampiri, toh ia bisa berpura-pura menuju toilet yang memang harus
melewati meja pemuda itu jika rencananya terpaksa berubah. Sedikit gugup,
seperti hari-hari yang lalu, melangkahlah kakinya mendekat.
“Nggak makan siang, Zhar?” gadis itu
berusaha menegur senormal mungkin, tersenyum selepas mungkin.
Pemuda itu mengangkat kepalanya.
Balas tersenyum. Menggeleng.
“Masih banyak kerjaan. Kamu sendiri,
nggak makan?”
“Malas. Nggak ada teman turun!”
gadis itu tersenyum mengangkat bahu, menanti harap-harap cemas reaksi pemuda
itu. Si pemuda ternyata hanya balas mengangkat bahu,
“Mungkin kamu bisa bareng, Sinta.
Kayaknya dia juga belum makan!”
Begitulah.
Gadis itu sekian detik kecewa,
sia-sia sudah, tak ada lagi yang bisa dilakukannya selain beranjak lemah
melangkah menuju pintu keluar. “Seharusnya, si bodoh itu bilang, ‘Ah, kebetulan
sekali. Aku juga belum makan. Mau kutemani?’ Dasar bodoh!” umpatnya dalam hati.
Atau karena ia kurang jelas menyampaikan maksudnya? Seharusnya ia bilang saja
langsung, “Kamu mau menemaniku?” seperti yang seringkali dilakukan Susi saat
menggoda manajer lantai sepuluh.
Tetapi itu tidak mungkin
dilakukannya kan? Ia bukan type Susi yang agresif. “Seharusnya si bodoh itu
cukup mengerti,” umpatnya sekali lagi.
***
Berkali-kali ia melirik gadis di
seberangnya. Menunggu tak sabaran. “Kapan lagi ia akan turun makan siang?”
serunya dalam diam. Apakah ia harus melangkah mendekatinya, lantas mengajaknya
makan siang bersama, seperti yang selalu dianganangankannya? Tidak. Ia tidak
pernah memiliki keberanian untuk melakukannya.
Kegelisahaan pemuda itu semakin
memuncak, istirahat siang tinggal tiga puluh menit. “Ayolah, berdiri,” mohonnya
dalam-dalam. Ia menangkupkan kedua telapak tangannya.
Dan akhirnya wanita itu berdiri juga
dari tempat duduknya. “Ya Tuhan, semoga ia melewatiku. Please, God!” si pemuda
bersorak penuh harap. Tentu saja gadis itu harus melewatinya, karena pintu
keluar terletak dekat mejanya.
Suara sepatu gadis itu terdengar
memenuhi gendang telinganya. Si pemuda dengan segala upaya terus berpura-pura
menatap layar komputer, mengisikan sembarang angka ke dalam kotak kosong. Tentu
saja semua pekerjaannya sudah rampung setengah jam yang lalu. Sedari tadi ia sudah
ingin turun makan siang, tetapi seperti dua hari lalu, ia ingin sekali
berpura-pura tidak sengaja berbarengan turun dengannya. Sedikit saling menyapa
di lift, lantas sedikit basa-basi sebelum berpisah menuju tempat makan
“favorit” masingmasing.
Gadis itu semakin dekat, detak
jantung si pemuda semakin kencang. Ia bersiap-siap hendak bangkit dari
duduknya. Paling sial jika ia tidak berani mengikutinya, mungkin ia bisa
berpura-pura menuju toilet, bukankah letaknya searah dengan pintu lift? Yang
penting ia bisa sekadar tersenyum menyapanya.
“Nggak makan siang, Zhar?” ternyata
gadis itu justru menegurnya, sambil tersenyum.
Meluncurlah sepuluh kembang api
besar di jantung si pemuda. Ini diluar rencananya, apalagi dengan senyum itu.
Ya Tuhan, gelagapan si pemuda bingung hendak menjawab apa.
“Masih banyak kerjaan. Kamu sendiri,
nggak makan?”
Hanya itu yang keluar dari mulutnya.
Sekadar menggeleng patah-patah, dan tersenyum dengan muka kebas. “Semoga ia
tidak melihat tampang tololku,” keluh pemuda itu dalam hati.
“Malas. Nggak ada teman turun!”
gadis itu tersenyum sambil mengangkat bahu.
Separuh jantungnya sontak berteriak,
come on man, sekaranglah waktunya, ajak ia makan siang bersama. Bukankah ia
“mengundang”mu? Tetapi separuh jantungnya yang lain gemetar tak tahu harus
bilang apa. Senyuman dan kerlingan gadis itu telah mematikan otaknya berpikir,
dan di tengah kegaguan ia justru berkata, “Mungkin kamu bisa bareng, Sinta.
Kayaknya dia juga belum makan!”
Ya ampun, apa yang telah kukatakan,
si pemuda menekuk lututnya. Perutnya tiba-tiba melilit menyesali kebodohannya.
Dan gadis itu dengan amat anggun hilang dari pandangan.
***
Hari ini jum’at. Besok dan lusa
libur. Gadis itu sudah merencanakan untuk berlibur keluar kota, tapi undangan
pernikahan anak direktur membatalkan rencananya. Lagipula bukankah itu berarti
semua orang akan hadir di sana, dan jika semua orang hadir itu berarti pemuda
itu juga akan datang. Ia senyumsenyum sendiri. Otaknya terbungkus oleh
harapanharapan.
Setidak-tidaknya di sana ia bisa
mencari berbagai alasan untuk duduk di dekatnya. Berbincang tentang apa saja.
Dan jika sedikit beruntung mungkin saja bisa pergi-pulang ke tempat pesta
bersama-sama. Membayangkannya saja gadis itu sudah tidak bisa berkata-kata
lagi.
Tetapi semenjak undangan itu dibagikan
seminggu yang lalu, pemuda itu dalam sedikit kesempatan mereka bertemu di lift
saat berangkat kerja (ia sengaja menunggu di lobby sampai pemuda itu tiba),
saat makan siang, dan saat pulang kerja (ia sengaja menunggu pemuda itu
membereskan mejanya sebelum turun pulang) pemuda itu sedikit pun tidak pernah
menyinggung soal pesta pernikahan. Bagaimana hendak menyinggungnya, jika selama
ini mereka sekadar saling ber-hai apa kabar saja. Berkali-kali gadis itu
membujuk jantungnya agar berani bertanya, “Minggu depan, kamu datang gak ke
tempat pernikahan Vania?” tapi ia selalu gagal.
Jum’at semakin senja. Kesempatannya
untuk menjadikan mimpi-mimpi itu menjadi nyata semakin tipis. Ia harus
melakukannya jika tidak maka musnah sama sekali harapan itu. Dan setelah
bergulat habishabisan meneguhkan diri, gadis itu beranjak mendekati pemuda itu.
Gemetar kakinya melangkah, “Ya Tuhan, tolonglah….” seru batinnya lirih.
“Hai, Zhar. Kamu lagi sibuk?”
Kentara sekali kata-katanya bergetar
saking gugupnya. Gadis itu membujuk jantungnya segera tenang. Tersenyum amat
kaku. Pemuda itu mengangkat kepalanya, balas tersenyum. Menghembuskan nafasnya
dalam-dalam.
“Iya nih. Kayaknya aku lembur malam
ini!”
“Kamu hari minggu datang ke resepsi
Vania, gak?”
Gadis itu berdiri sambil diam-diam
menyilangkan jari telunjuk dan jari tengahnya. Please, God.
“Belum tahu. Lihat besok. Kamu nggak
kesana?”
“Belum ada teman. Malas kalau
sendirian!”
Ya Tuhan, orang bodoh sekali pun
tahu apa maksud hatinya. Tetapi pemuda itu hanya menatapnya lamat-lamat,
kemudian sambil menggeleng, pelan berkata,
“Si Sinta katanya harus menjenguk
ibunya!”
Lumat sudah harapan gadis itu,
dengan lemah ia berkata, “Ya, ibunya sakit, sepertinya aku harus berangkat
sendirian.”
“Dasar bodoh. Bodoh. Bodoh sekali,”
umpat gadis itu dalam hati. Jika sudah begini apalagi yang harus dilakukannya?
“Hai, Dahlia. Kamu belum punya teman
pergi ke pernikahan Vania?” pemuda lain yang dari tadi berdiri membereskan
berkas di mejanya, di sebelah mereka, menyela pembicaraan. Gadis dan pemuda itu
menoleh serempak ke muasal suara. Andrei, nama pemuda itu, dan ia tersenyum
jantan mendekati Dahlia.
“Aku juga belum punya barengan. Kamu
mau bareng aku? Bagaimana? Nanti aku jemput kamu pagi-pagi ya!”
Gadis itu hendak mengangkat bahunya:
keberatan. Tetapi hatinya yang berkali-kali mengumpat, “Dasar bodoh, harusnya
kau melakukannya seperti Andrei. Harusnya kau menyela dan berkata, ‘ia tidak
akan pergi bersamamu, ia akan pergi bersamaku’” kesal sekali, dan tanpa
disadarinya ia justeru menganggukkan kepalanya. Andrei tersenyum senang, sambil
memegang bahu gadis itu ia berkata menggoda, “Oke, sayang. Sampai ketemu hari
minggu! Jangan lupa, dandan yang cantik.”
***
Hari ini jum’at. Besok dan lusa
libur. Sudah seminggu ini pemuda itu menanti-nanti kesempatan untuk bertemu
lebih lama dengan gadis itu, sekadar untuk bilang, “Hai, kamu mau pergi bareng
aku ke pernikahan Vania, gak?” ia butuh waktu kurang lebih lima menit untuk
berbincang dan mengajaknya pergi bersama.
Dengan hanya bertemu di lift saat
berangkat kerja (ia sengaja menunggu di lobby sampai gadis itu tiba), saat
makan siang, dan saat pulang kerja (ia sengaja menunggu gadis itu membereskan
mejanya sebelum beranjak turun) itu sama sekali tidak cukup untuk membicarakan
masalah ini. Apalagi mereka hanya saling ber-hai apa kabar, tersenyum kaku,
lantas berdiam diri dalam dengungan suara lift yang bergerak.
Berkali-kali ia membujuk jantungnya
untuk mendekati meja gadis itu. Bertanya langsung padanya, “Apakah kau mau
pergi bersamaku,” tapi berkali-kali pula ia gagal meneguhkan diri. Sore jum’at
semakin senja. Kesempatannya untuk menjadikan mimpi-mimpi itu menjadi nyata
semakin tipis. Ia harus melakukannya, jika tidak ia akan menyesalinya seumur
hidup. “Lakukan sekarang juga, Zhar,” bisikan itu semakin kencang.
Dan pemuda itu di ujung
keputus-asaan akhirnya nekad juga memutuskan. Tetapi saat ia siap berdiri dari
duduknya, gadis itu justeru terlihat berdiri dari mejanya. Melangkah menujunya.
“Ya Tuhan, semoga ia melewatiku, please God.” Desak batinnya kuat-kuat. “Jika
ia melewatiku, aku berjanji akan menanyakan soal itu,” janjinya untuk kesekian
kali.
Suara sepatu gadis itu terdengar
semakin keras di telinganya. Ia semakin dekat, dan debar jantungnya semakin
kencang. Dengan meneguhkan hati pemuda itu bersiap untuk menyapa,
“Hai, Zhar. Kamu lagi sibuk?”
Gadis itu sambil tersenyum ternyata
lebih dahulu menyapanya. Pemuda itu kaku seketika. Kata-katanya hilang
menyentuh udara. Berusaha tersenyum senormal mungkin. Menarik nafas dalamdalam.
“Iya nih. Kayaknya aku lembur malam
ini!” Ya Tuhan, padahal pekerjaan untuk minggu depan pun sudah kurampungkan.
“Kamu hari minggu datang ke resepsi
Vania, gak?”
Gadis itu tersenyum semakin manis.
Pemuda itu duduk semakin kebas. Ayolah katakan. Ajak dia. Ayolah katakan.
Tetapi separuh jantungnya yang lain gemetar ketakutan. Kau hanya akan
mempermalukan diri sendiri, bodoh. Bagaimana kalau dia menolak?
“Belum tahu. Lihat besok. Kamu nggak
kesana?”
Ya Tuhan, apa yang telah kukatakan,
pemuda itu mengumpat berkali-kali. Seharusnya langsung saja mengajaknya pergi
bersama. Senyuman gadis ini membuatnya sedikit pun tidak bisa berpikir sehat
lagi.
“Belum ada teman. Malas kalau
sendirian!”
Ayolah katakan. Ajak dia. Bukankah
ia telah memberikan kode padamu. Sedikit lagi.... tak terlalu susah. Pemuda itu
mencengkeram keras-keras kursinya. Apa sulitnya mengatakan itu, bentak separuh
jantungnya. Dan tanpa ia sadari, di tengah usahanya membujuk separuh jantungnya
yang lain, ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia teringat Sinta, mungkin dengan
menyela pembicaraan ini dengan kabar soal Sinta akan sedikit membantu, maka
tanpa menyadari akibatnya sedikit pun pemuda itu justeru berkata,
“Si Sinta katanya harus menjenguk
ibunya!”
Tidak. Ia sama sekali tidak
bermaksud menolaknya. Tetapi gadis itu dengan tetap tersenyum berkata pelan,
“Ya, katanya sakit, sepertinya aku harus berangkat sendirian.”
Ya Tuhan, kerusakan apa yang telah
kuperbuat?
“Hai, Dahlia. Kamu belum punya teman
pergi ke pernikahan Vania?” pemuda lain yang dari tadi berdiri membereskan
berkas di mejanya, di sebelah mereka, menyela pembicaraan. Gadis dan pemuda itu
menoleh serempak ke muasal suara. Andrei, nama pemuda itu, dan ia tersenyum
jantan mendekati Dahlia. “Aku juga belum punya barengan. Kamu mau bareng aku?
Bagaimana? Nanti aku jemput kamu pagi-pagi ya!”
“Tolonglah. Jangan. Jangan katakan
setuju,” pemuda itu memohon dalam hatinya. “Jangan sampai kau pergi dengan
bajingan ini. Ia playboy kelas kakap, dan kau akan terperangkap.” Tetapi gadis
itu justeru tersenyum menganggukan kepalanya.
Andrei tersenyum senang, sambil
memegang bahu gadis itu ia berkata menggoda, “Oke, sayang. Sampai ketemu hari
minggu! Jangan lupa dandan yang cantik.”
***
Ia mengharapkan pagi ini pemuda itu
yang datang menjemputnya. Tetapi justru Andrei yang datang parlente memencet
bel. Tak tahu malu, Andrei mengaku sebagai pacarnya. Dan gadis itu dengan
terpaksa tersenyum masam menanggapi godaan ibu dan bapaknya, “Akhirnya, anak
gadis kami pergi dengan teman lelakinya. Nak Andrei jangan sampai kau
membuatnya menangis, loh!” Itu kata ayah gadis itu sambil tersenyum di balik
pagar. Dan pemuda playboy ini tersenyum begitu meyakinkan menggandengnya.
Semua teman kantor bersuit saat
melihat mereka tiba di ruang resepsi, Susi pun sempat berbisik pelan, “Gila lu,
katanya pemalu. Ternyata yang kakap begini berhasil juga lu gaet!” mukanya
memerah. Dengan tingkah laku Andrei yang sangat berpengalaman, gadis itu merasa
di dahinya seakanakan tertempel baliho besar yang menunjukkan kalau mereka
berdua benar-benar pasangan hebat. “Bodoh, seharusnya kaulah yang bersamaku
sekarang,” umpatnya dalam hati, mencari sosok pemuda itu dalam keramaian. Dan
si bodoh itu ternyata berdiri tak acuhnya di pojok ruangan. Menyendok koktail.
Seolah tak peduli kehebohan yang sedang terjadi.
Ketika tiba saatnya berfoto, semua
teman-teman berkumpul di sebelah panggung, bersiap menunggu MC menyebutkan
giliran mereka: lantai sebelas. Ketika olok-olok semakin ramai saat mereka
berkumpul, si bodoh ini justeru semakin tak peduli.
“Ah ini dia si Azhar, kamu udah
lihat Dahlia kan. Gila, serasi bukan!”
“Seharusnya kau menirunya Zhar.
Pendiam, tapi diam-diam bawa gebetan!”
Yang lain tertawa ramai sekali.
“Andrei, kalau lu sedikit saja
membuat Dahlia menangis, kutikam kau!” seru seseorang lagi, dan Andrei sambil
merengkuh bahu Dahlia tersenyum lebar, seolah menunjukkan, jangankan menangis,
membuatnya murung saja takkan ia lakukan.
Gadis itu kusut sekali dengan senyum
tanggungnya. Berkali-kali ia melirik pemuda itu. “Ya Tuhan, seharusnya yang kau
lakukan saat ini memegang kerah Andrei, dan menonjoknya kuatkuat, dasar bodoh,
dan bukan justru sebaliknya ikutikutan tertawa.”
Gadis itu tersenyum getir.
***
Pagi ini seharusnya ia-lah yang
sambil bersiul datang memencet bel rumah gadis itu. Tersenyum takzim menyapa
calon mertua. Tetapi lihatlah, ia justeru kacau berdandan seadanya, memakai
kemejakusut dasi-berdebu, berjalan gontai menghidupkan kendaraan, berpikir
gadis itu pasti sedang tertawa bahagia bersama playboy kelas kakap itu.
Semua teman kantor bersuit saat
melihat mereka tiba di ruang resepsi. Dengan tingkah laku Andrei yang sangat
berpengalaman, mereka benar-benar kelihatan seperti pasangan hebat. Gadis itu
terlihat tersenyum kemana-mana, mengumbar kebahagiannya. “Begitu mudahkah ia
terpikat dengan playboy itu?” dengan masam pemuda itu menyendok koktail di
pojok ruangan. Jantungnya pedih sekali.
Ketika tiba saatnya berfoto, semua
teman-teman berkumpul di sebelah panggung, bersiap menunggu MC menyebutkan
giliran mereka: lantai sebelas. Ketika olok-olok semakin ramai ketika mereka berkumpul,
gadis itu justeru terlihat tersenyum semakin bahagia. “Ia benar-benar
menikmatinya,” bisiknya lirih.
“Ah ini dia si Azhar, kamu udah
lihat Dahlia kan. Gila, serasi bukan!”
“Seharusnya kau menirunya Zhar.
Pendiam, tapi diam-diam bawa gebetan!”
Yang lain tertawa ramai sekali.
“Andrei, kalau lu sedikit saja
membuat Dahlia menangis, kutikam kau!” seru seseorang lagi, dan Andrei sambil
merengkuh bahu Dahlia tersenyum lebar, seolah menunjukkan, jangankan menangis,
membuatnya murung saja takkan ia lakukan.
Gadis itu tersenyum, semakin
mengembang. “Bah. Ia sedikit pun sama sekali tidak menatapku,” bisik pemuda itu
dalam hening. Berkali-kali melirik mencoba memberikan kode. “Lihatlah aku,
Dahlia. Please. Bukankah aku lebih baik darinya? Sesungguhnya apa yang kau
cari?” terluka pemuda itu meratap dalam diam. Dan ketika mereka berfoto
bersama. Bajingan itu merengkuh lebih erat lagi bahu gadis itu.
Dan ketika semua teman-teman lantai
sebelas turun, mereka berdua masih berdiri di sana, berfoto berempat bersama kedua
mempelai. Gadis itu sekali lagi tersenyum amat bahagia. “Senyum mempelai wanita
saja kalah,” umpat pemuda itu dalam hati. Maka semenjak detik itu, si pemuda
dengan jantung tercabik-cabik mengubur dalam-dalam segenap cintanya.
“Cinta memang tak pernah adil,”
keluhnya terluka.
***
Extended:
“Hai!” Gadis itu tersenyum.
“Hai!” Pemuda itu juga tersenyum.
Pintu lift menutup pelan. Keheningan
kemudian menyelimuti. Tak pernah ada yang bisa mendengar dengung lift bergerak,
tetapi bagi mereka berdua yang sedang takzimnya, bekas telapak tangan di kaca
lift pun terlihat amat jelas. Si gadis sembunyisembunyi melirik. Si pemuda
batuk-batuk kecil berusaha mengendalikan perasaannya. Mereka bertatapan
sejenak. Gelagapan bersama.
“E, mau makan di mana?” si pemuda
pura-pura merapikan dasinya. Mukanya merah kebas. Ia tahu persis gadis itu
selalu makan di basemen itu. Gadis itu juga tahu persis pemuda itu lebih suka
makan di lantai satu.
“Lanti satu! Lu, mau makan dimana,
Zhar?”
“Basemen!” Ya ampun, ia sungguh tak
tahu kenapa kalimat itu yang keluar dari mulutnya.
Basa-basi saling melambaikan tangan,
mereka berpisah saat pintu lift terbuka. Berharap seharusnya mereka saat ini
justeru sedang bergandengan menuju kafe di menara atas.
Kafe para pencinta.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar