MMSPH
14: Perbandingan-Perbandingan
oleh Darwis Tere Liye pada 11 September 2011 jam 9:02
PERBANDINGAN2
JONI, hari ini ujian skripsi. Bangun
pagi-pagi. Semangat. Yakin dengan semua persiapan. Tiba di kampus 45 menit
sebelum pintu ruang ujian dibuka. Menunggu di aula depan gedung Departemen
Akuntansi. Masih sempatlah SMS sana, SMS sini. Bilang hari ini dia mau sidang
skripsi. Pliz, kasih doa-doa biar lancar. Setengah jam berlalu, sayang
sepuluh SMS dikirim, tak satupun yang ngasih reply. Mungkin
teman-temannya lagi sibuk. Mungkin masih di jalan. Mungkin HP mereka
tertinggal. Mungkin entahlah. Joni membesarkan hati.
Dosen penguji mulai berdatangan.
Joni semakin ketar-ketir. Eh, masa’ iya nggak ada teman-temannya yang reply
SMS? Joni mencet-mencet nomor. Mencoba menghubungi teman-temannya. Apes! Nada
sibuk. Kalaupun ada nada tunggu, ya nggak diangkat-angkat. Pada kemana mereka
hari ini?
Duh, kemana pula Puput pacarnya.
Masa’ di hari sepenting ini, pacarnya nggak kasih doa selamat berjuang atau apa
kek. Joni mengusap dahinya yang berkeringat. Puput mungkin masih bete. Mereka
memang habis bertengkar dua hari lalu. Puput malah ngancam mau putus segala.
Teng! Waktunya masuk ruang sidang.
Joni mengusir hal-hal negatif di kepalanya. Berusaha merapikan dasi dan kemeja
lengan panjangnya. Berdoa sebentar. Semoga semuanya lancar.
***
DONI, hari ini ujian skripsi. Bangun
pagi-pagi. Semangat. Yakin dengan semua persiapan. Tiba di kampus 45 menit
sebelum pintu ruang ujian dibuka. Menunggu di aula depan gedung Departemen
Manajemen (beda sepuluh meter dengan gedung Departemen Akuntansi). Masih
sempatlah SMS sana, SMS sini. Bilang hari ini dia mau sidang skripsi. Pliz,
kasih doa-doa biar lancar. Setengah jam berlalu, sayang sepuluh SMS dikirim,
tak satupun yang ngasih reply. Mungkin teman-temannya lagi sibuk.
Mungkin masih di jalan. Mungkin HP mereka tertinggal. Mungkin entahlah. Doni
membesarkan hati.
Dosen penguji mulai berdatangan.
Doni semakin ketar-ketir. Eh, masa’ iya nggak ada teman-temannya yang reply
SMS? Doni mencet-mencet nomor. Mencoba menghubungi teman-temannya. Sial! Nada
sibuk. Kalaupun ada nada tunggu, ya nggak diangkat-angkat. Pada kemana pula
mereka hari ini?
Celingukan kesana-kemari. Ngelihat
Joni yang berdiri di aula Gedung Akuntansi. Sial, tuh anak hari ini ujian
skripsi juga. Doni benci banget dengan Joni. Apalagi kalau bukan gara-gara
Puput! Dari dulu Doni naksir berat sama Puput. Sayang Puput malah jadian sama
Joni. Semoga Joni nggak lulus. Doni berseru sirik dalam hati.
Teng! Waktunya masuk ruang sidang.
Doni mengusir hal-hal negatif di kepalanya. berusaha merapikan dasi dan kemeja
lengan panjangnya. Berdoa sebentar. Semoga semuanya lancar.
***
Dua jam berlalu, Joni keluar dengan
muka merah. Benar-benar menyakitkan. Skripsinya dibilang sampah. Dan
benar-benar dibuang ke kotak sampah oleh salah-seorang dosen penguji yang punya
reputasi super-killer. Hiks! TIDAK LULUS. Joni tertunduk, melangkah patah-patah
keluar gedung Departemen Akuntansi.
Baru tiba di pintu aula depan,
HP-nya berdengking. Puput yang telepon. “Mulai hari ini kita putus!” Puput
tanpa bilang salam, tanpa say sayang, langsung to the point.
“Put, dengarkan aku….” Tut. Tut. Tut. Joni panik. Berusaha telepon balik Puput.
Apes! Tidak aktif. Ya Tuhan! Joni mengeluh dalam. Lihatlah, hari ini dia nggak
lulus ujian skripsi dan Puput bilang putus.
Joni melangkah tertatih ke air
mancur kampus. Duduk nelangsa di kursi taman. Ketemu Doni di sana.
***
Dua jam berlalu, Doni keluar dengan
muka merah. Benar-benar sempurna. Skripsinya dibilang luar-biasa! Dikasih nilai
A+ oleh salah-seorang dosen penguji yang punya reputasi super-killer. Dahsyat, man!
LULUS. Doni melangkah riang bin gagah keluar gedung Departemen Akuntansi.
Menuju air mancur kampus. Duduk dengan bangganya di kursi taman. Ketemu Joni di
sana. Ngelihat tampang Joni yang nelangsa. Yes!! Kalau lihat mukanya, dia nggak
lulus. Doni bersorak riang dalam hati. Benar-benar hari yang sempurna.
“Lu lulus, Jon?” Basa-basi.
Joni menggeleng lemah.
“Nggak. Sial banget gw. Lu lulus?”
Doni mengangkat bahu, sok-banget.
“Gw benar-benar apes, Don.” Joni
tertunduk pelan.
“Kenapa?”
“Hari ini Puput juga mutusin gw!”
Doni bahkan hampir tak kuasa menahan
diri untuk tidak melompat riang jingkrak-jingkrak.
“Gw ke kantin dulu, Jon.” Doni
beranjak pergi. Hari yang menyenangkan. Teman-teman se-gengnya pasti lagi
ngumpul di kantin. Bakal seru banget ngomongin kabar hari ini.
***
Joni duduk bengong di depan air
mancur. Sedih banget. Sesak. Dia benar-benar apes hari ini. Nggak lulus.
Diputusin pacar. Terus lihat Doni yang bahagia banget.
Joni ngambil HP-nya dari kantong
celana. Lihatlah, tetap nggak satupun teman-temannya yang reply SMS.
Sekali lagi mencoba send SMS. Bilang dia nggak lulus. Bilang Puput
mutusin. “Hari ini gw sedih banget, frens!” Satu jam berlalu tetap nggak
satupun dari (sekarang) dua puluh SMS yang dikirim berbalas. Mungkin mereka
nggak tahu kalau ada SMS darinya. Joni mencet-mencet nomor. Coba menelepon.
Nada sibuk. Nggak diangkat. Tidak aktif. Voice-box. Pada kemana?
Joni duduk semakin nelangsa.
Lihatlah! Hari ini pas dia lagi sedih banget, justru nggak ada satu pun
teman yang bisa jadi tempat curhat. Sendiri. Joni mengusap wajahnya.
***
Doni pergi ke kantin. Semangat.
Mereka harus tahu kabar-baik hari ini. Doni tersenyum lebar. Tuing! Ternyata
nggak ada satupun teman se-geng-nya ada di kantin. Malah kantin terlihat sepi.
Kok? Doni mengambil HP di kantong celananya.
Pada ke mana sih? Masa’ SMS-nya tadi
pagi belum di-reply juga? Doni send dua puluh SMS lagi. “Gila, frens,
gw lulus. Trus lu tau, nggak? Puput putus sama Joni! Haha! Gw bahagia banget
hari ini.” Doni duduk di kursi kantin.
Satu jam berlalu. Ampun, belum ada
satupun juga reply SMS! Mungkin mereka nggak tahu kalau ada SMS darinya.
Doni mencet-mencet nomor. Coba menelepon. Nada sibuk. Nggak diangkat. Tidak
aktif. Voice-box. Pada kemana?
Doni menatap kosong langit-langit
kafe yang sepi. Bagaimana mungkin? Hari ini dia lagi hepi banget, tapi
justru nggak ada satu pun teman yang bisa jadi tempat untuk cerita
kebahagiaannya. Sendiri. Doni mengusap wajahnya.
***
Percayalah, hal yang paling
menyakitkan di dunia bukan saat kita lagi sedih banget tapi nggak ada satupun
teman untuk berbagi. Hal yang paling menyakitkan adalah saat kita lagi hepi
banget tapi justru nggak ada satupun teman untuk membagi kebahagiaan tersebut.
Tapi ada yang lebih celaka lagi,
yaitu ketika kita justru senang banget pas lihat teman susah, dan sebaliknya
terasa susah banget di hati pas lihat teman lagi senang. Hiks!
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar