MMSPH
15 (terakhir): Kupu-Kupu Monarch
oleh Darwis Tere Liye pada 12 September 2011 jam 10:25
KUPU-KUPU MONARCH
Aku lama tidak kembali ke kota ini.
Hampir dua puluh tahun. Perjalanan yang melelahkan. Mengelilingi separuh dunia
hanya untuk melupakan. Hari ini aku pulang. Berusaha mengenang semua jejak
kaki. Semoga masih ada yang tersisa. Semoga masih ada yang kukenali. Dengan
semua kenangan itu, bukan keputusan mudah untuk kembali. Seperti menoreh
kembali luka yang sudah mengering. Menyakitkan. Tapi ibarat seekor bangau yang
terbang jauh, aku harus kembali jua ke kota ini. Rindu. Tak mengapa mengenang
sedikit luka itu.
Aku berdiri takjim di pemakaman
kota. Menatap sekitar.
Sepagi ini pemakaman kota terlihat
begitu indah. Dipenuhi hiasan bunga. Merah. Kuning. Putih. Bertebaran.
Bebungaan yang disampirkan di nisan-nisan besar. Bebungaan melilit kayu yang
dipasang silang-menyilang. Bebungaan di air mancur tengah pemakaman. Bebungaan
di patung yang banyak berserak. Sungguh pekuburan berubah menjadi taman bunga.
Nuansa buram kecoklatan berpadu dengan warna-warni ceria. Hari ini: Hari Monarch.
Hari di mana seluruh penduduk kota kami meyakini jiwa yang pergi akan
kembali. Hari ini penduduk kota akan berpiknik di pemakaman.
Tepat benar dengan jadwal
kedatanganku.
Semburat cahaya matahari pagi
menambah magis suasana. Menelisik sela-sela dedaunan pohon cemara. Cahaya itu
seolah menggantung di atas barisan nisan. Aku tersenyum, bukan menatap ribuan
larik cahaya memesona, lebih karena menatap ribuan kupu-kupu kuning yang
memenuhi pemakaman, sudut-sudut kota, pohon-pohon cemara. Kupu-kupu itu disebut
Monarch. Kupu-kupu itu hanya datang sekali setahun ke kota ini. Terbang.
Membuat anak-anak berlarian mengejarnya. Membuat pasangan berpelukan mesra
melihatnya. Atau sekadar membuat penziarah pemakaman seperti aku menghela nafas
lega.
Kupu-kupu itulah jiwa-jiwa yang
kembali. Sepanjang hari terbang tanpa takut dengan penduduk kota. Entah
dari mana datangnya. Dan sore hari, persis ketika senja membungkus bibir
pantai, kupu-kupu itu kembali ke hutan cemara tepi danau yang berada dekat
kota. Lenyap. Selalu begitu, beratus-ratus tahun. Tidak pernah ingkar memenuhi
janji setianya, selalu datang sehari setiap tahun.
Jam di kapel tua berdentang.
Sembilan gema yang panjang dan berwibawa. Aku takjim mendengarnya. Perayaan ini
akan segera dimulai. Orang tua mulai bergegas meneriaki anak-anak mereka.
Segera turun. Bekal piknik disiapkan. Pakaian tebal dan topi disampirkan.
Menuju pemakaman kota.
Seekor kupu-kupu hinggap di ujung
lengan mantelku. Aku menatapnya lamat-lamat. Menghela nafas, “Apakah itu
kau, Cindanita? Putri duyung kecilku? Apakah itu kau yang kembali?”
Jalanan mulai ramai oleh penziarah.
Anak-anak berlarian, enggan dikendalikan. Satu dua hampir menabrakku.
Berkejaran riang. Hari ini sekolah diliburkan. Aku menepi, memberikan jalan
bagi serombongan warga kota yang datang. Mereka mengangguk pelan. Berbincang
akrab satu sama-lain. Menunjuk kupu-kupu yang berterbangan. Hari ini seluruh
kegembiraan melingkupi pemakaman besar ini. Semua datang untuk berkunjung.
Kupu-kupu itu masih hinggap di
mantelku. Aku mendesah lirih, “Aku sungguh rindu padamu, Cindanita.”
***
Dua ratus tahun silam.
Legenda itu dimulai di sini. Legenda
yang selalu diceritakan turun-temurun oleh tetua kota. Diwariskan dari satu
generasi ke generasi berikutnya. Dengan pesan sederhana, jangan pernah mengulangi
kesalahan yang dilakukan Fram, si petani miskin.
Aku ingat setiap kalimat kisahnya.
Terpesona saat pertama kali mendengarnya. Meyakini cinta sejati sejak hari itu.
Merasa kehidupan akan jauh lebih indah ketika perasaan itu muncul. Seperti
indahnya setiap melihat kupu-kupu monarch yang terbang mengelilingi
pemakaman.
Dua ratus tahun silam, alkisah
Fram amat beruntung mendapatkan istri sebaik itu. Kembang kota. Di antara
puluhan pemuda yang menyanjung dan menyatakan cinta, gadis itu justru memilih
Fram, pemuda miskin yang tinggal di danau dekat kota. Meninggalkan janji
kehidupan yang lebih baik yang bisa diberikan pemuda kaya lainnya. Tidak juga,
gadis itu di hari pernikahannya tersenyum riang dan berkata, “Aku akan
menjemput janji cintaku, tidak ada janji kehidupan yang lebih hebat dari itu,
bukan?”
Fram mencintai istrinya. Dan jangan
ditanya apakah istrinya mencintai Fram. Masalahnya, apakah cinta itu? Apakah ia
sebentuk perasaan yang tidak bisa dibagi lagi? Apakah ia sejenis kata akhir
sebuah perasaan? Tidak akan bercabang? Tidak akan membelah diri lagi? Titik?
Penghabisan? Bukankah lazim seseorang jatuh-cinta lagi padahal sebelumnya sudah
berjuta kali bilang ke pasangan-pasangan lamanya: “Ia adalah cinta sejatiku.”
Ah! Urusan ini benar-benar rumit.
Awalnya keluarga muda itu memulai kehidupan bahagia selama lima tahun. Walau
miskin, mereka selalu merasa berkecukupan. Apalagi istrinya tidak banyak
menuntut, selain perhatian dan kasih-sayang. Tepi danau kota kami seperti
berubah menjadi taman bunga. Pondok kecil mereka berdiri indah di tengah
hamparan kembang. Itulah kesukaan istri Fram sejak kecil. Kupu-kupu.
Sayang, di penghujung tahun ke lima
pernikahan mereka, musim dingin datang tak-terperikan. Kota kami dikungkung
badai salju berhari-hari. Berminggu-minggu. Berbulan-bulan. Tidak ada yang tahu
hingga kapan. Salju di mana-mana. Pohon-pohon meranggas dibalut gumpalan es.
Kembang-kembang layu ditimbun tumpukan es. Danau membeku. Dan tidak ada yang
berniat menjejak laut yang sepanjang hari digantang angin-badai.
Seluruh kota mengalami kesulitan
besar. Berebut makanan menjadi pemandangan sehari-hari. Enam bulan kemudian,
harga sepotong roti tawar sebanding dengan sebutir peluru. Tak ada yang bisa
mengalahkan urusan perut. Kota kami yang elok bertetangga selama ini,
karut-marut oleh perkelahian. Dan celakanya, itu semua belum cukup, penyakit
aneh mendadak menjalar dengan cepat. Tubuh-tubuh lumpuh. Muka pucat. Bibir
membiru. Dan kematian!
Enam bulan sejak penyakit aneh itu
tiba, kota kami benar-benar tak-tertolong. Sepanjang hari hanya kidung sedih
yang terdengar. Nyanyian duka-cita. Pemakaman demi pemakaman. Bagaimana dengan
Fram dan istrinya? Jika di kota saja urusan ini pelik apalagi bagi mereka. Enam
bulan pertama mereka menghabiskan cadangan umbi-umbian di gudang. Enam bulan
berikutnya, dimulailah cerita memilukan penuh pengorbanan tersebut. Fram
terkena penyakit ganjil itu.
Tubuhnya membeku di atas ranjang.
Tanpa bisa digerakkan. Tinggallah istrinya yang kalut oleh banyak hal. Ia tahu
persis, sejak memutuskan menikah dengan Fram, bahwa tentu saja tidak setiap
hari janji kebahagiaan itu akan datang dalam kehidupan cinta mereka. Ada
kalanya masa getir tiba. Dan saat itu benar-benar terjadi, tiba waktunya untuk
menunjukkan betapa besar cinta itu. Bukan sekadar omong-kosong.
Tak pernah terbayangkan tangan
lembut itu mengais-ngais tumpukan salju, berusaha menemukan sisa umbi-umbian
yang tersisa. Terseok mengumpulkan kayu bakar di hutan. Melubangi permukaan
danau mencoba peruntungan mendapatkan ikan. Memperbaiki atap rumah yang rusak.
Menambal dinding-dinding yang robek oleh badai salju.
Istri Fram berjanji akan
bertahan hidup.
Dan semakin menyedihkan pemandangan
itu, karena setiap malam dia dengan sabar merawat suaminya yang terbaring
lumpuh di atas tikar. Menyuapinya dengan penuh kasih-sayang. Menggendong tubuh
suaminya yang semakin ringkih mendekati perapian. Membuang sisa kotoran dari
suaminya di atas ranjang. Memandikannya dengan air hangat. Istri Fram bersumpah
akan bertahan hidup, demi suaminya.
Dua belas bulan musim dingin itu
tidak menunjukkan tanda-tanda akan berbaik hati. Kerusuhan besar menjalar di
kota kami. Kecamuk orang-orang yang kelaparan dan sakit semakin menjadi-jadi.
Dan di tengah kota yang sekarat itu, seorang penziarah entah dari mana
datangnya singgah. Penziarah itu amat teganya mengatakan kalimat yang paling tidak
logis bagi penduduk kota, semua penyakit aneh ini hanya bisa disembuhkan
dengan memakan: daging. Astaga, di mana lagi mereka akan menemukan
daging hari ini? Seluruh ternak tak bersisa. Seluruh cadangan makanan tak
berbekas.
Sementara Fram semakin menyedihkan.
Sehari kemudian tubuhnya mendadak kejang-kejang. Sekarat. Istrinya panik. Malam
itu juga sambil terseok-seok dia menggendong Fram menuju kota. Meminta
pertolongan tabib. Badai datang menghajar apa saja. Pohon cemara bertumbangan.
Istri Fram mendesis, menggigit bibir berusaha melalui badai salju. Entah dari
mana kekuatan itu, dia tiba di kota keesokan harinya. Dengan tubuh biru.
Kedinginan.
Sayang, tidak ada pertolongan yang
tersisa di kota. Tabib mengangkat bahu, menatap amat prihatinnya. “Aku tidak
tahu apa itu benar. Berikan suamimu sepotong daging! Semoga itu
menyembuhkannya!” Istri Fram sungguh menatap tak percaya. Kecewa. Sedih.
Setelah perjalanan melelahkan ini, ternyata hanya untuk mendengarkan saran gila
itu? Gemetar dengan sisa tenaga ia membawa Fram kembali ke rumah tepi danau.
Menyedihkan. Tubuh yang semakin kurus-ringkih itu terhuyung, mencoba terus
bertahan.
Jangankan daging, sepotong umbi-pun
sudah sulit didapat. Ia sudah membongkar seluruh bekas kebun suaminya. Tidak
ada. Kalaupun ada, sudah membusuk. Ikan-ikan di danau itu juga entah pergi
kemana. Istri Fram menangis. Menatap wajah suaminya yang semakin sekarat. Ia
tahu, se-sejati apapun cinta mereka, pastilah mengenal perpisahan. Ia tahu
sekali itu. Tapi ia ingin berpisah dengan suaminya dalam sebuah pelukan yang
indah. Saat satu-sama-lain bisa saling menyebut nama. Bukan seperti ini. Malam
itu suaminya benar-benar tidak akan tertolong lagi. Istri Fram tersedu memeluk tubuh
suaminya.
Tetapi, hei! Sudut matanya menangkap
seekor belibis hinggap di jendela. Belibis? Istri Fram menyeka ujung matanya.
Ganjil sekali. Bagaimana mungkin ada seekor belibis tersesat di musim dingin
seperti ini? Tapi ia tidak sempat memikirkannya. Dengan gesit ia berusaha
menangkap belibis tersebut. Jatuh bangun berkali-kali. Mantelnya robek.
Setengah jam berlalu, setelah mengerahkan sisa-sisa tenaga tubuhnya, ia
tersenyum lebar menjepit sayap belibis tersebut.
Malam itu, takdir langit di tepi
danau itu berubah. Sepotong daging yang masuk ke dalam perut Fram mengembalikan
kesehatannya. Malam itu, takdir langit di kota kami juga berubah. Musim dingin
berkepanjangan tersebut berakhir. Digantikan semburat cahaya matahari pagi.
Gumpalan salju mencair. Kecambah mekar tak-terbilang. Tunas tumbuh menghijau.
Janji kehidupan baru datang.
***
Tapi cerita yang lebih menyedihkan
baru saja dimulai. Tidak ada yang tahu kalau seekor belibis itu memiliki pasangan.
Menurut keyakinan penduduk kota kami, dalam waktu tertentu, dewa-dewi di surga
turun menjejak bumi. Celakanya belibis itu turun di waktu dan tempat yang
salah.
Fram dan istrinya kembali ke
keseharian mereka dulu yang menyenangkan. Tubuh Fram kembali kekar. Dia
mengambil-alih tugas istrinya selama ini. Terlebih kaki istrinya pincang
sekarang, terpotong hingga pangkal betis. “Terkena pohon cemara yang roboh.
Membusuk. Jadi aku potong!” Istrinya menjelaskan. “Kau tetap cantik meski
pincang, istriku!” Fram bergurau riang. Istrinya bersemu merah. Dan kebahagiaan
mereka semakin lengkap saat enam bulan kemudian istrinya hamil. Benar-benar
kabar yang menyenangkan.
Saat kandungan istrinya menjejak
tujuh bulan. Terjadilah peristiwa aneh itu. Fram yang sedang berburu rusa di
hutan cemara, tidak-sengaja melihat seekor belibis indah. Hei? Semangat
Fram mengejarnya. Bukan main, belibis itu benar-benar indah. Melupakan banyak
keganjilan. Fram berkali-kali jatuh mengejar belibis itu hingga ke tepi danau.
Dan terperanjatlah! Dia tidak menemukan seekor belibis yang sedang berenang,
tapi seorang wanita yang sedang mandi.
Apakah cinta sejati itu? Apakah ia
sebentuk perasaan yang tidak bisa dibagi lagi? Apakah ia sejenis kata akhir
sebuah perasaan? Tidak akan bercabang? Tidak akan membelah diri lagi? Titik?
Penghabisan? Bukankah lazim seseorang jatuh-cinta lagi padahal sebelumnya sudah
berjuta kali bilang ke pasangan-pasangan lamanya: “Ia adalah cinta sejatiku!”
Entah bagaimana caranya, Fram jatuh
cinta pada pandangan pertama dengan gadis belibis tersebut. Duhai! Celakalah
urusan ini! Jalan kisah menjadi berpilin menyakitkan. Bukannya menghabiskan
waktu bersama istrinya yang sedang hamil tua di rumah, Fram malah lebih banyak
duduk di tepi danau. Bercengkerama dengan gadis itu.
Di mata Fram, gadis itu sungguh
menyenangkan. Memesona. Pakaiannya indah berkemilauan. Perhiasannya cemerlang.
Wajahnya bagai guratan sempurna pematung tersohor. Tubuhnya memikat. Fram
benar-benar jatuh-cinta, tak pernah dia menyadari ternyata cinta bisa
sehebat ini.
Malangnya nasib istri Fram, seminggu
sudah suaminya tidak pulang-pulang. Ia hanya menunggu cemas di bawah pintu.
Sementara perutnya semakin membuncit. Dua minggu lagi bayinya akan lahir. Di
tengah putus-asanya menunggu, pagi itu, persis saat cahaya matahari menerabas
sela dedaunan pohon cemara, persis saat bunga-bunga bermekaran di halaman
pondok, istri Fram memutuskan mencari suaminya.
Pencarian yang menyesakkan. Dengan
sepotong tongkat, istri Fram menopang tubuhnya yang kesusahan menyisir hutan
cemara. Dan lebih menyesakkan lagi saat ia akhirnya menemukan Fram yang
tergila-gila, sedang berdua dengan gadis cantik tersebut.
Tersungkurlah istri Fram! Lirih
memanggil suaminya. Duhai, Fram hanya melirik selintas, lantas menyuruhnya
pergi. Seperti tidak pernah mengenalnya.
Seperti tidak pernah mengenalnya.
Menangis istri Fram! Lemah berusaha
memeluk kaki suaminya. Duhai, Fram justru mengibaskannya. Membuat tubuh dengan
perut buncit itu jatuh terjungkal. Tongkat yang dibawanya tak-sengaja mengenai
kepala. Istri Fram mengaduh kesakitan. Meski ada yang lebih sakit lagi di
hatinya.
Di manakah janji cintanya? Di
manakah? Semuanya musnah. Benar-benar saat mereka sedang berbahagia menanti
anak pertama mereka. Istri Fram gemetar berusaha berdiri. Lirih memanggil
dewa-dewi di surga demi sebuah keadilan. Ia gemetar berdiri dengan sebelah
kakinya, pincang berusaha mencengkeram bebatuan.
Fram tidak peduli. Menarik tangan
gadis belibis, mengajaknya pergi menjauh. Tapi sebelum itu terjadi, dewa-dewi
di surga yang melihat kejadian itu turun ke bumi. Mengungkung tepi danau dengan
gemerlap mereka.
“Siapakah yang memanggil dan meminta
penjelasan?”
“Aku….” Istri Fram menjawab lirih.
Dan menjadi teranglah urusan itu.
Gadis cantik itu adalah penjelmaan pasangan belibis yang tersesat di pondok
Fram dua tahun silam. Justeru gadis cantik itu menuntut keadilan. Istri Fram
tersedu mendengar tuntutan itu, dia tidak menyangka urusan berubah
sedemikian rupa.
“Baik, yang terjadi, biarlah
terjadi. Maka biarlah Fram yang memutuskan masalah ini. Apakah ia akan
memilihmu atau memilih gadis belibis. Wahai, karena kau seorang manusia, dan
gadis belibis ini separuh dewa-dewi, maka kami akan memberikan kau tiga kali
kesempatan untuk menghilangkan kelebihan miliknya atau menambahkan kelebihan
milikmu. Setelah itu apakah Fram akan memilihmu atau gadis belibis itu terserah
padanya.”
Istri Fram menyeka air-matanya.
“Aku ingin seluruh sihir milik
gadis ini dihilangkan!”
Cahaya yang mengungkung gadis
belibis mendadak lenyap. Pakaiannya kehilangan kemilau. Perhiasannya berubah
menjadi kerikil batu. Tetapi, duhai, tetap saja ia terlihat lebih cantik dari
siapapun di tempat itu. Tetap memesona. Fram dengan mudah memutuskan memilih
gadis belibis itu. Istri Fram mengeluh tertahan.
“Aku ingin seluruh sihir yang
masih mengungkung suamiku dihilangkan!” Istri Fram menyebut kesempatan
keduanya. Gentar sekali menunggu hasilnya.
Sekejap cahaya yang membalut tubuh
Fram sejak pertama kali dia melihat burung belibis itu menghilang. Sihir pesona
itu lenyap. Petani miskin itu tiba-tiba seperti baru tersadarkan. Tetapi,
wahai, apalah arti cinta sejati? Gadis belibis itu tetap memesona meski
sihirnya tidak lagi menutup mata dan membebalkan otaknya. Fram sekali lagi tega
memilih gadis belibis itu.
Istri Fram jatuh terduduk.
Oh…. Di manakah sisa-sisa janji
cinta itu? Di manakah?
“Aku ingin Fram melihat janji
kebahagiaan yang diberikan oleh bayi yang kukandung!” Istri Fram berkata lirih.
Menyebut kesempatan ketiga sekaligus terakhirnya.
Siluet cahaya menggetarkan
mengungkung kepala Fram. Dia seperti menyaksikan visualisasi nyata masa-depan
mereka. Kehidupan yang menyenangkan di pondok dengan anak-anak mereka…. Taman
bunga di tepi danau. Tetapi, apalah gunanya janji masa depan itu? Fram
mengibaskannya. Dia merasa memiliki janji kehidupan yang lebih indah bersama
gadis belibis ini…. Fram mendesis memilih gadis belibis.
Tersungkurlah istri Fram sekarang.
Menangis. Tiga kali kesempatan, habis sudah pengharapannya. Musnah. Tepi danau
itu senyap, hanya diisi oleh berlarik suara tangisan.
Fram meraih tangan gadis belibis di
sebelahnya. Mengajaknya pergi. Matanya benar-benar dibutakan oleh tampilan.
Tega sekali dia memberangus kehidupan bersama istrinya. Dewa-dewi menghela
nafas tertahan. Apapun hasilnya, semua sudah selesai. Mereka beranjak hendak
pergi. Saat itulah salah-seorang dewa-dewi itu berkata lirih.
“Kenapa kau tidak menggunakan
kesempatan terakhirmu untuk menunjukkan kejadian yang sebenarnya, wahai wanita
yang malang.”
Wajah-wajah tertoleh. Seorang dewa
yang amat cemerlang wajahnya terbang mendekati istri Fram.
“Kenapa kau justru menggunakan
kesempatan terakhirmu untuk memperlihatkan janji masa depan?”
Istri Fram tersedu, menggeleng.
Menyeka pipinya.
“Wahai wanita yang malang,
kenapa kau tidak meminta kami menunjukkan dengan nyata kejadian malam
itu. Agar suamimu melihatnya. Agar gadis belibis ini melihatnya.”
Istri Fram berkata lirih, tertahan,
“Aku tidak ingin cintanya kembali karena dia merasa berhutang budi.”
Dewa dengan wajah cemerlang itu
tertawa getir.
“Kau melakukannya karena cinta,
wahai wanita yang malang. Maka tidak ada hutang-budi. Ah, urusan ini
benar-benar menyakitkan! Amat menyakitkan!” Dewa itu menoleh ke arah Fram,
dengan tatapan menghinakan, ”Kau tidak pernah tahu mengapa istrimu pincang,
wahai pemuda yang sepatutnya dikasihani. Dan kau, gadis belibis yang menyedihkan,
kau tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi dengan belibis pasanganmu. Biarlah
hari ini seluruh dewa-dewi menjadi saksi, dalam urusan cinta ini mereka yang
berkuasa atas segenap urusan ternyata sama sekali tidak kuasa untuk terlibat
dalam urusan sesederhana ini.”
Maka melesatlah dewa dengan wajah
cemerlang itu ke angkasa, menyusul dewa-dewi lainnya. Meninggalkan istri Fram
yang menangis tersungkur sendirian. Istri Fram yang hamil tua. Istri Fram yang
menyimpan kisah sesungguhnya apa yang terjadi malam itu, ketika suaminya
sekarat. Yang dia tidak ingin suaminya lihat. Hingga merasa berhutang-budi.
Fram dan gadis belibis itu justeru
sudah pergi segera.
***
Aku menghela nafas panjang.
Pemakaman semakin ramai oleh penziarah. Dua puluh tahun berlalu. Benar-benar
tidak ada lagi yang kukenali di kota ini. Semua sudah berubah.
Jangan pernah melakukan hal bodoh
seperti Fram, si petani miskin.
Kalimat itu terngiang kembali. Aku tertunduk menatap pusara Cindanita-ku.
Mengusap batu besar yang mengukir namanya. Aku tidak pernah melakukan hal bodoh
itu, Putri Duyung Kecilku. Tapi Mama-mu melakukannya. Dan aku sungguh tidak
tahu apakah itu sebuah kebodohan atau bukan.
“Mengertilah, Sam. Pernikahan kita
sudah selesai. Aku mencintainya. Aku seperti anak remaja yang jatuh cinta lagi.
Anak remaja yang pertama kali mengenal kata cinta!”
“Ya Tuhan, apa yang akan kau
lakukan?”
“Aku akan pergi bersamanya.”
“Bagaimana dengan janji cinta kita?”
“Semua sudah berakhir, Sam. Biarkan
aku pergi! Aku lelah dengan kehidupan kota ini. Aku tidak akan pernah bisa
menggapai mimpiku. Aku lelah hanya bernyanyi di tengah pesta seadanya,
orang-orang biasa.”
“Bagaimana mungkin kau akan
melakukannya? Bagaimana dengan masa-masa indah pernikahan kita?”
“Aku mencintai pemuda itu, Sam. Aku
akan pergi bersamanya, aku merasa muda lagi. Seperti gadis remaja yang
kasmaran, aku sungguh seperti menemukan cinta sejati…. Dia cinta sejatiku,
Sam!”
“Bagaimana dengan Cindanita.”
Suaraku hilang ditelan desau angin
laut. Sempurna hilang bersama dengan perginya Mama-mu, Sayang. Kau yang masih
berbilang enam bulan sungguh tidak beruntung. Papa-mu tertatih dengan kehidupan
baru. Sendiri. Tertatih dengan semua beban kehidupan, dan itu semakin bertambah
saat kau jatuh sakit dan tak pernah kunjung sembuh.
Maafkan aku, Cindanita-ku.
Aku menyeka ujung mata.
Kupu-kupu semakin banyak memenuhi pemakaman kota. Orang-orang semakin riang
bercengkerama. Tidak semuanya riang. Ada juga satu-dua yang sepertiku menangis
di depan pusara. Ada yang berpelukan haru satu-sama lain. Bersama keluarga.
Bersama anak-anak mereka. Aku tidak. Hari ini setelah memutuskan pergi menjauh,
aku kembali seorang diri.
Mendongak menatap ribuan siluet
kuning. Jiwa-jiwa yang pergi kembali hari ini. Persis seperti yang
terjadi dengan istri Fram, petani miskin itu. Sejak kejadian di tepi danau,
tidak ada yang tahu kemana Fram dan gadis belibis itu pergi menghilang. Juga
tidak ada yang tahu kemana istrinya yang hamil tua pergi. Yang penduduk kota
tahu, persis setahun kemudian setelah kejadian tersebut, dua ekor kupu-kupu
kuning terbang mengunjungi kota. Satu kupu-kupu besar dengan anaknya yang
mungil.
Setahun berikutnya kupu-kupu itu
bertambah menjadi belasan. Setahun berikutnya puluhan. Setahun berikutnya
ratusan. Hingga ribuan seperti hari ini. Mereka kembali.
Aku menatap pucuk-pucuk pohon
cemara.
Apakah cinta sejati itu? Istriku
pergi hanya karena ia lelah dengan kehidupan kecil kota kami. Menemukan pemuda
yang menjanjikan masa depan lebih baik. Pasangan-pasangan lain hari ini juga
berpisah karena alasan-alasan sepele. Bosan. Merasa terkekang. Merasa
pasangannya sudah berubah. Atau bahkan hanya karena alasan-alasan yang dicari.
Apakah itu cinta kalau kau setiap saat bisa jatuh cinta lagi dengan gadis lain?
Dengan pemuda lain?
Esok-lusa, alasan mereka berpisah
akan semakin sepele. Bahkan mungkin mereka tidak perlu alasan lagi untuk
berpisah. Padahal percayakah kalian, seminggu setelah berpisah dengan pasangan
lamanya, mereka akan menemukan pasangan baru. Buncah dengan kata: “Kaulah
cintaku!” “Aku belum pernah merasakan cinta sehebat ini.” Dan berpuluh-puluh
kalimat dusta lainnya. Terus saja begitu. Seperti siklus yang berulang. Apakah
cinta itu? Mungkin hanya istri Fram, si petani miskin yang bisa
menjawabnya.
Kau ingin mendengar penjelasan
yang sesungguhnya di malam saat Fram sekarat, Cindanita-ku? Kau ingin tahu?
Baiklah, akan aku bisikkan, semoga setelah itu sama sepertiku dulu kau akan
tetap mempercayai adanya cinta, meski bisa jadi kau dalam posisi yang
tersakiti, anakku.
Aku memandang lemah seekor kupu-kupu
kuning yang terus hingga di ujung mantelku. Cahaya pagi mengambang indah.
Berlarik-larik menembus kabut memesona. Orang-orang semakin ramai memenuhi
pemakaman kota.
***
Lama sekali istri Fram memandangi
belibis di tangannya. Mendadak ia merasakan ada yang ganjil. Lihatlah, mata
belibis itu menyimpan perasaan takut kehilangan sesuatu. Cemas berpisah dengan
sesuatu. Istri Fram mengenali tatapan itu. Tatapan itu sama seperti tatapan
miliknya, tatapan yang amat takut kehilangan suaminya. Takut berpisah dengan
suaminya.
Fram semakin kejang. Melenguh
tertahan. Istri Fram gemetar mengambil pisau. Sekali lagi menatap mata belibis
dalam jepitan tangannya. Belibis ini pasti memiliki pasangan, sama seperti
dirinya yang memiliki pasangan. Tidak. Istri Fram berkata lirih. Malam ini,
jika sepotong daging itu akan mengobati suaminya, itu tidak akan berasal dari
belibis elok ini.
Biarlah dewa-dewi menjadi saksi,
biarlah semua ini menjadi bukti cinta sejatinya. Istri Fram sambil menggigit
bibir gemetar menebaskan pisau tajam. Bukan ke leher belibis, tapi ke betis
kakinya. Sempurna memotong. Malam itu, istri Fram memberikan ‘daging’ miliknya.
Dia melepas pergi belibis jelmaan
itu. Itulah yang terjadi. Malangnya, belibis jantan yang hendak kembali terbang
ke langit terjerambab di pecahan es danau. Mati tenggelam tanpa seorang pun
tahu, juga termasuk pasangan betinanya. Malam itu, istri Fram telah membuktikan
cinta sejatinya. Andaikata demi kesembuhan suaminya ia harus memberikan
jantungnya, maka itu pasti akan diberikannya.
Hari ini, setiap tahun istri Fram
kembali. Kupu-kupu kuning yang memenuhi pemakaman kota. Kupu-kupu indah yang
terbang di sela-sela cahaya matahari pagi yang menembus dedaunan pohon cemara.
Mengambang. Memesona. Hari ini, istri Fram selalu menunaikan janji cinta sejatinya.
Dulu iya, sekarang masih, esok-lusa pasti.
Aku juga akan selalu setia dengan
janji cinta sejatiku.
Beristirahatlah dengan tenang,
Cindanita-ku.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar