MMSPH
8: Lily & Tiga Pria Itu
oleh Darwis Tere Liye pada 06 September 2011 jam 6:06
Lily dan Tiga Pria Itu
Adakah yang pernah mengatakan kepada
kalian, waktu itu adalah lingkaran nasib yang berputar tanpa henti?
Siang-malam, pagi-petang, sepanjang tahun tak pernah rehat. Dalam setiap
kesempatan putaran nasibnya selalu terjadi tiga kemungkinan. Paralel, bergerak
serentak. Jikalah waktu bisa dimampatkan menjadi benda padat, lantas diletakkan
di atas lintasan sirkular, maka kalian bisa menyaksikannya laksana tiga ekor
kuda pacuan yang membelah sirkuit. Kencang memedihkan mata, berputar-putar
tanpa henti jutaan lap.
Masalahnya selama ini kita tidak
pernah terlalu peduli soal rentetan detik dan menit, kecuali menyangkut tentang
kapan makan siang, kapan masuk kerja, kapan pulang kerja, kapan gajian tiba,
dan kapan hari-hari libur. Kebanyakan dari kita lebih peduli tentang yang satu
itu: nasib.
Celakanya seperti waktu, tidak satu
pun di antara kita yang tahu persis apa hakikat nasib sebenarnya. Relativitas
nasib sudah diterjemahkan dengan maju oleh manusia di seluruh muka bumi melalui
ukuran tertentu, yang sayang sekali ukuran tersebut mutlak berasal dari
kesepakatan mereka. Kesepakatan yang berani dan ceroboh sekali.
Bagaimana kalian tahu seseorang yang
baru dipecat dari kantornya, lantas kehilangan mobil, sekaligus diceraikan
istrinya berarti ia sedang bernasib sial? Itu hanya soal stigma masyarakat.
Bagaimana pula kalian bisa menyimpulkan seseorang yang mendapatkan pekerjaan
baru, gaji tinggi dan prospek karier hebat berarti ia sedang bernasib baik? Itu
lebih karena kalian mempercayai dogma yang ada di lingkungan sekitar kalian.
Jika kalian belum paham juga,
baiklah, mari kita simak kisah nyata satu ini. Cerita yang secara turuntemurun
disampaikan oleh seseorang yang berusaha mati-matian memahami hakekat waktu dan
nasib. Tidak. Hingga akhir cerita, kalian akan tahu ia juga tidak tahu persis
makna waktu dan nasib sesungguhnya. Tetapi yang pasti ia memiliki pemahaman
yang berbeda sekali dengan kesepakatan kalian selama ini, dan itu berharga
untuk diceritakan.
***
Berpuluh-puluh tahun silam, di salah
satu kota terindah di dunia. Kota itu indah karena menjadi titik pertemuan
berjuta-juta nasib, sekaligus menjadi tempat perpisahan berjuta-juta nasib
pula. Kota itu indah karena nasib-nasib itu selalu berputar-putar sepanjang
masa: bertemu-berpisah, berpisah-bertemu lagi. Di pagi yang cerah musim gugur.
Jam besar di jantung taman kota berdentang sembilan kali. Burungburung merpati
berterbangan, selalu kaget dengan suara itu padahal sudah beratus-ratus tahun
jam itu selalu mengeluarkan suaranya yang keras dan berwibawa. Dedaunan
berjatuhan, berserakan menguning mengombak jalan setapak, rumput-rumput
terpangkas rapi, meja-meja dan kursi-kursi taman. Anak-anak kecil berlari suka
cita menyibak bebungaan, pasangan muda mendorong kereta bayinya, bergurau
menikmati pagi. Orang-orang tua duduk melepas lelah, tersenyum lebar membuka
surat-surat yang mengabarkan cucu-cucu mereka. Jikalau aku bisa membekukan
waktu, sungguh menggetarkan pandangan sepagi itu. Mereka bergembira seolah
besok tak ada menit yang tersisa.
Sementara itu, di pojok salah satu
kafe yang terletak persis di tengah taman, seorang gadis cantik duduk begitu
takzimnya. Rambut pirangnya menjuntai memperelok mata biru, hidung mancung, dan
pipi berlesung pipit. Riasan tipis wajahnya cukup sudah membuat pria yang
berlalu lalang di depan kafe meliriknya, mati tersandung cinta.
Dan seperti yang kalian lihat pagi
itu, di meja-meja kafe yang kosong di sekitarnya, sudah terdapat tiga mayat
pria gagah duduk berpura-pura. Pura-pura membaca koran, tapi mata tak henti
melirik seperti seekor elang. Pura-pura menyeruput teh panas, tapi mulut tak henti
mendesahkan namanya. Pura-pura mengikat tali sepatu, tapi jantung sedang
mengikat segenap kekuatan untuk sekadar berani menyapa.
Jam besar itu berdentang sepuluh
kali. Burungburung merpati sekali lagi rusuh berterbangan ke angkasa. Seorang
anak yang sedang menyebarkan remah-remah roti terperanjat melihat ratusan
kepakan sayap serentak. Ketakutan. Menangis berlari memeluk kaki ibunya.
Ayahnya yang berdiri di belakang tertawatawa melihat kelakuannya, lupa ia dulu
menangis lebih kencang dan lebih lama.
Seorang tukang sapu yang sedang
membersihkan petak-petak taman mengomel karena beberapa anak bermain-main
menghamburkan kulit wortel. Sedangkan seorang pemuda di balik bunga bougenville
merah, malu-malu mencium pipi gadisnya, tidak tahu dan tidak peduli sepuluh
kilometer darinya, kedua orang tua gadis itu tengah berbincang serius di rumah
megah mereka: berbincang soal perjodohan anaknya bulan depan dengan putra
sulung walikota.
Bagaimana dengan gadis cantik kita
yang sedang duduk menikmati pagi di kafe di tengah taman kota? Tidak. Belum ada
satu pun yang berubah di sana. Juga dengan tiga pria pura-pura di sekitarnya.
Jam besar itu berdentang sebelas
kali. Burungburung merpati sekali lagi kaget terbang kesana-kemari. Dan seperti
yang kukatakan sebelumnya, saat itulah kalian menyaksikan tiga putaran nasib
yang luar biasa itu dalam satu hentakan. Ketiga-tiganya melesat serentak bagai
anak panah. Paralel. Tiga nasib pria yang sedang duduk pura-pura itu.
Amat memedihkan mata menyaksikan
kecepatan tiga anak panah tersebut. Tetapi karena tentu saja kita tidak bisa
menuliskan tiga kejadian secara serentak secara tertulis, kecuali kalian sedang
mendengarkan tiga orang yang bercerita sekaligus, maka kejadian itu terpaksa di
ceritakan satu persatu.
Pria pertama yang memakai tuksedo
hitam sehitam rambut lebatnya. Pria paling kaya dan paling berpendidikan di
antara mereka, meskipun sayang semua fakta itu tidak disadarinya, pelahan-lahan
berdiri dari duduknya. Gemetar melangkahkan kaki, ia mendekati meja gadis itu.
Sekuntum mawar biru
merekah indah di tangannya, dua ekor
kupu-kupu hinggap dan terbang di sekelilingnya.
Pria itu amat kacau menyatakan
cintanya. Terburuburu, tanpa basa-basi, apalagi mengenalkan diri. Ia
mengulurkan bunga mawar biru itu, menatap penuh perasaan, dan bibirnya bergetar
menyajak puisi-puisi. Dan kalian bisa menduga apa yang terjadi selanjutnya.
Gadis itu terkejut dari ketakzimannya, memandang takut-takut dan tak mengerti.
Pria itu memaksa memegang tangan si
gadis, gadis itu mengibaskannya kuat-kuat. Serak ia berteriak. Tidak. Ia bukan
sekadar menolak mentah-mentah cinta pria itu, tapi juga mempermalukannya dengan
memanggil penjaga taman dan anjing herdernya. Terhina, pria pertama terlempar
jauh dari nasib yang diinginkannya. Hari-hari berikut kehidupannya menjadi amat
gelap. Dua puluh tahun kemudian ketika putaran nasib kembali mencapai siklusnya
di kota ini, beruntung kita bisa melihat ujung ceritanya kelak.
Disaat bersamaan ketika pria pertama
bangkit dari kursinya, pria kedua yang memakai jas biru gelap duduk di
sebelahnya juga bangkit dari purapuranya. Sebuah sapu tangan putih terlipat
rapi terselip di kantong jasnya, rambut berminyak disisir sangat menawan. Ia
parlente dan amat wangi. Di tangannya, seperti pria pertama, juga tergenggam
seikat bunga: sekuntum bunga seroja.
Pria itu tersenyum, menyapa hangat
gadis berambut pirang. Mengajaknya berkenalan, lantas bercerita tentang
pekerjaan. Pekerjaaanya sebagai broker saham dan pekerjaan gadis itu sebagai
guru bahasa. Mereka tertawa bersama, saling memegang tangan, berdegup kencang
jantung masing-masing, dan gemetar saling mengatakan cinta.
Mereka meninggalkan kafe itu tepat
pukul dua belas. Berjanji bertemu esok harinya, hari-hari berikutnya dan
hari-hari seterusnya. Hingga di pagi hari yang ke seratus, entah apa sebabnya
keduanya bertengkar hebat di kafe itu. Sang gadis cantik tersedu-sedu menutup
mukanya, berlari meninggalkan pria kedua kita.
Hari itu mereka putus hubungan.
Dengan kesedihan mendalam pria kedua juga terlempar jauh dari nasib yang
diinginkannya. Hari-hari berikut kehidupannya menjadi sangat gelap. Dua puluh
tahun kemudian ketika putaran nasib kembali mencapai siklusnya di kota ini,
baik sekali kita berkesempatan melihat ujung kisahnya kelak.
Pria ketiga, disaat bersamaan pria
pertama dan pria kedua bangkit dari duduknya, juga berdiri dari kursinya. Ia
menepuk celananya yang terkena ampas putih bawah meja, merapikan kerah kemeja
merah, menyisir rambut hitam panjang dengan belahan jari. Lelaki ini amat
gagah, matanya tajam, lengannya kokoh berbentuk, dan siluet badannya amat
mengundang. Saat ia melangkah, seperti ada seribu lebah mendengung
mengikutinya, membuat kalian sedikit pun tak bisa berpaling melihatnya. Di
genggaman tangannya, seperti dua pria lainnya, entah darimana asalnya sekuntum
bunga mekar dengan indahnya: sayangnya aku tidak tahu itu bunga apa.
Ia menyapa santun gadis cantik
berambut pirang itu. Tersenyum hangat memamerkan putih deretan giginya.
Bersalaman penuh penghormatan, membuat gadis itu seketika merasa menemukan
tempat berlindung sejatinya. Mereka berbicara soal kegemaran masingmasing. Yang
pria suka berburu yang wanita suka memasak, cocok sudah, suatu saat wanita
pirang itu bisa memasak hasil buruan pria tersebut.
Tepat jam dua belas siang mereka
berdua meninggalkan taman itu, berjanji untuk bertemu esok harinya, esok
harinya, dan hari-hari selanjutnya hingga mereka bersepakat untuk menikah.
Pernikahan itu dilangsungkan tepat ketika pria kedua putus cinta dengan wanita
cantik berlesung pipit itu. Hari-hari berikut kehidupannya aku tidak tahu
persis seperti apa.
Yang pasti dua puluh tahun kemudian
ketika putaran nasib itu kembali mencapai siklusnya di kota ini, beruntung kita
bisa melihat ujung ceritanya kelak.
***
Di pagi yang cerah musim gugur. Jam
besar di tengah taman kota berdentang sembilan kali. Burungburung merpati
berterbangan, selalu kaget dengan suara itu padahal sudah beratus-ratus tahun
jam itu selalu mengeluarkan suaranya yang keras dan berwibawa. Dedaunan
berjatuhan, berserakan menguning mengombak jalan setapak, rumput-rumput
terpangkas rapi, meja-meja dan kursi-kursi taman.
Anak-anak kecil berlari suka cita
menyibak bebungaan, pasangan muda mendorong kereta bayinya, bergurau menikmati
pagi. Orang-orang tua duduk melepas lelah, tersenyum lebar membuka surat-surat
yang mengabarkan cucu-cucu mereka. Jikalau aku bisa membekukan waktu, sungguh
menggetarkan pandangan sepagi itu. Mereka bergembira seolah besok tak ada waktu
yang tersisa.
Sementara itu, di pojok salah satu
kafe yang terletak persis di tengah taman. Tidak. Hari ini di sana tidak ada
seorang gadis cantik yang duduk begitu takzimnya dua puluh tahun silam. Waktu
telah memutus kehidupannya di muka bumi ini. Ia telah meninggal lima belas
tahun lalu. Yang ada di sana hanya tiga pria itu, yang masing-masing duduk persis
di kursi dan mejanya dua puluh tahun silam. Anehnya tidak ada tuksedo hitam,
tidak ada jas biru langit, atau kemeja berwarna merah. Mereka semua hari ini
mengenakan seragam tak berbeda. Di sekitar mereka berdiri beberapa perawat,
juga berseragam serupa.
Pria yang duduk paling kanan
memandang kosong langit bersih. Sejenak kemudian mukanya berubah merah merona,
matanya penuh gairah cinta, berbisik menyamak puisi-puisi sambil mengangkat
kedua tangannya. Menyenangkan sekali melihat kegembiraan diwajahnya. Tetapi
tiba-tiba ia menangis tersedu-sedu, meratap panjang dan mengeluh dalam.
Kemudian terdiam lagi memandang
kosong langit bersih. Sejenak kemudian mukanya berubah merona merah lagi,
matanya penuh gairah cinta lagi, berbisik menguntai puisi-puisi sambil mengangkat
tangannya lagi, tiba-tiba menangis tersedu-sedu lagi, meratap dan mengeluh.
Berulang-ulang seterusnya.
Tahukah kalian, ia adalah pria
pertama kita dua puluh tahun lalu, yang cintanya ditolak mentah-mentah oleh
gadis berambur pirang itu.
Pria di sebelahnya disaat bersamaan,
paralel, mengepalkan tinju berkali-kali ke udara, memukulmukul kursi dan meja,
juga meratap penuh penyesalan, lebih dalam dan amat memilukan. Berkali-kali
pria itu ditenangkan oleh perawat. Tetapi percuma, karena sepanjang hari ia
hanya bisa menangis, dan menangis, meratap menyalahkan diri.
Hanya lelah jatuh tertidurlah yang
bisa menghentikan ratapannya. Dan saat ia terbangun kembali, seperti mobil yang
di-starter ulang, ia akan menangis dan meratap lagi. Saat makan pun, satu sendok
satu sesunggukan, saat minum pun, satu teguk satu ratapan, saat mandi pun, satu
gayung satu sesalan. Begitulah, berulang-ulang sepanjang hari.
Tahukah kalian, ia adalah pria kedua
kita, dua puluh tahun silam di tempat yang sama, waktu yang sama, patah hati
dengan gadis itu.
Pria yang duduk paling kiri,
sementara itu, saat ini sedang dipegangi kukuh oleh tiga perawat, ia dari tadi
berusaha menghantam-hantamkan kepalanya ke meja, ke lantai kafe, kemana saja.
Ia memaki siapa pun yang mendekatinya, menyumpah-serapah benda-benda yang
berada di dekatnya.
Ia memang membenci semua orang, juga
apapun yang ada di hadapannya. Baginya semua benda adalah perwujudan gadis itu,
termasuk dirinya sendiri adalah perwujudan gadis itu, sehingga berkali-kali ia
berusaha membunuh dirinya. Susah sekali tiga perawat itu meringkus pria itu,
lantas beranjak memasukkannya ke dalam kerangkeng mobil rumah sakit jiwa.
Tahukah kalian, pria itu ternyata
adalah pria ketiga kita, yang dua puluh tahun silam beruntung akhirnya bisa
menikahi gadis bermata biru itu.
***
Tetapi yang tidak pernah kalian
ketahui, juga oleh orang yang pertama-kali mendengar dan menyaksikan secara
langsung kisah ini, apalagi oleh orang-orang yang secara turun-temurun berusaha
menceritakan kegilaan ini dan berharap bisa mengerti hakikat waktu dan nasib,
ternyata ada kenyataan lain yang tersembunyi: bahwa dalam satu kesempatan
lingkaran nasib yang terus menerus berputar itu sebenarnya tidak hanya terdapat
tiga kemungkinan.
Sesungguhnya ada empat sekaligus.
EMPAT! Paralel, dan kesemuanya bergerak serentak seketika.
Kita memang tidak pernah melibatkan
“aku” dalam setiap proses. Begitu juga dengan cerita dari kota terindah itu.
Padahal sesungguhnya ada seekor kuda pacuan ke empat yang ikut melaju kencang
dalam sirkuit waktu dan nasib bersamaan dengan ketiga pria di kafe itu. Dan
kuda pacuan ke empat itu adalah aku.
Aku yang berdiri jauh dari ketiga
pria itu. Memandang dari luar kafe, di bawah sebatang pohon pinus. Kemeja
lengan pendek berwarna putih, celana panjang berwarna putih, sepatu berwarna
putih lengkap dengan kaos kaki putihnya. Di tanganku tergenggam erat sekuntum
bunga: bunga bakung putih bersih.
Tepat ketika jam besar itu
berdentang sebelas kali, burung-burung merpati sekali lagi kaget terbang
kesanakemari. Dan saat itulah, ketika kalian menyaksikan tiga putaran nasib
yang luar biasa itu dalam satu hentakan. Anak panahku juga ikut melesat
bersamaan. Paralel, bergerak serentak. Tiga nasib pria yang sedang duduk
pura-pura itu dan nasib diriku yang berdiri di seberang mereka.
Bersamaan dengan waktu saat ketiga
pria itu beranjak mendekati gadis cantik berambut pirang itu. Dengan segala
kepengecutan aku justru melangkahkan kaki menjauhi kafe itu. Berpikir picik,
takkan mungkin mampu bersaing dengan mereka. Kehidupan gadis itu takkan pernah
menjadi milikku. Aku takkan pernah berani, meski sekadar menyapanya sambil
lalu, apalagi mengutarakan berjuta gejolak di jantungku. Ia terlalu cantik,
terlalu indah, sedangkan aku siapa?
Hari-hari berikut kehidupanku, hanya
aku yang tahu persis seperti apa. Yang pasti dua puluh tahun kemudian ketika
putaran nasib itu kembali mencapai siklusnya di kota ini, aku bersama dengan
ketiga pria itu berada kembali di satu pagi yang cerah musim gugur di kafe
taman kota dengan nasibnya masing-masing.
Aku berdiri di bawah pohon pinus itu
yang hingga hari ini tak sesenti pun meninggi. Memandang dari luar kafe. Kemeja
lengan pendek berwarna putih, celana panjang berwarna putih, sepatu berwarna
putih lengkap dengan kaos kaki putihnya. Ditanganku tergenggam erat sekuntum
bunga: bunga bakung putih bersih. Dan tahukah kalian, itulah yang kulakukan
setiappagi setiap-hari, selama dua puluh tahun hingga hari ini. Tak kurang satu
hari pun, tak terlambat satu detik pun.
Apakah nasibku lebih baik
dibandingkan kegilaan mereka? Mungkin kalian bisa membantu dengan menilainya
berdasarkan ukuran relativitas nasib yang telah kalian sepakati selama ini.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar