MMSPH
3: Pandangan Pertama Zalaiva
oleh Darwis Tere Liye pada 03 September 2011 jam 6:19
Pandangan Pertama Zalaiva
Zalaiva dengan pakaian
kanak-kanaknya berjinjit pelan membawa dua butir telur ayam di genggaman tangan
kanannya, sementara tangan kirinya meraba-raba selusur papan kandang. Rok
bersulam kupu-kupunya terkena bercak lumpur di mana-mana, sementara pipi montok
menggemaskan itu sekarang seperti muka prajurit indian, tercoreng dua saput
kotoran. Entah oleh apa, bisa jadi oleh tahi ayam. Tampangnya serius sekali
membawa telur-telur itu, sementara kakeknya berdiri mengamati tersenyum sambil
memungut telur di rak yang lebih tinggi.
Sayang sekali sebelum ia tiba di
ember besar yang diletakkan di sebelah kaki kakeknya, seekor ayam jantan entah
dari mana asalnya, terbang masuk kandang. Berkotek menyergap tubuh mungil
Zalaiva. Gadis kecil itu berseru kaget. Telur-telur di genggaman tangannya
terlepas, terlontar entah kemana. Zalaiva untuk sepersekian detik bisa
mendengar telur itu satu per satu jatuh menghantam lantai semen, seperti kalian
bisa melihat tetesan air jatuh dari langit secara patah-patah. Dan telur-telur
ringkih itu pecah tak karuan. Sambil menahan sakit di lututnya gadis kecil itu
mencoba berdiri, matanya yang tak berbintik hitam berkaca-kaca, ia merabaraba
tertatih melangkah mendekati kaki kakeknya takut-takut, sebentar lagi gadis itu
pasti menangis.
Tetapi kakeknya tidak marah. Justeru
duduk jongkok menyambut tubuh mungil itu. Tersenyum, menghapus buliran air mata
di pipi Zalaiva, menatapnya amat bijak, kemudian memegang bahunya dengan
lembut.
“Jangan dipikirkan. Hanya telur,
sayang!”
Tetapi Zalaiva tetap terisak.
Kakeknya sambil menghela nafas dalam-dalam, pelahan duduk selonjor di lantai
lorong kandang ayam. Ia menepuknepuk bulu ayam di pakaian bidadari kecilnya,
lantas mendudukkan Zalaiva di pangkuannya. Topi jerami itu ia sangkutkan
sembarang tempat.
Di peternakan ini, Zalaiva hanya
tinggal dengan kakekknya seorang. Tidak ada siapa-siapa lagi. Dulu pernah ramai
sekali, tetapi satu persatu penghuninya pergi dengan kenangan getir dan tak
pantas diingat lagi, apalagi oleh Zalaiva yang sedang tumbuh dengan segala
kepolosan hidup. Rumah besar itu sekarang berdiri suram seolah-olah penuh
kutukan. Tetapi Zalaiva tidak tahu dan tidak peduli. Ia punya kakek yang selalu
pandai bercerita.
“Tahukah, sayang. Jika kau
melemparkan sebutir telur dari atas awan, saat jatuh menimpa tanah sedikit pun
telur itu takkan retak sepanjang kau punya sesuatu!” Kakeknya berbisik di
telinga Zalaiva. Beginilah yang selalu ia lakukan jika Zalaiva tiba-tiba
menangis sedih. Ia selalu membisikkan kisah-kisah indah, karena suatu saat ia
yakin Zalaiva berhak atas manisnya kehidupan ini. Dan gadis mungil itu seperti
biasa, mendongakkan kepalanya penuh rasa ingin tahu, mengerjap-ngerjapkan mata
bulatnya, lantas menggeleng. Saat-saat seperti ini selalu menyenangkan baginya.
“Dan tahukah kau apakah sesuatu
itu?”
Zalaiva menggeleng lagi.
“Sesuatu itu adalah cinta!”
Kakek menyebut pelahan dan penuh
perasaan kata itu. Seperti menggantungnya menjadi bintang di langitlangit
kandang. Zalaiva justeru berpikir tentang hal lain.
“Kalau begitu cinta itu seperti
kasur, ya Kek? Yang saat Zalaiva loncat-loncat di atasnya tidak terasa sakit?”
“Bukan. Cinta itu tidak seperti
kasur, sayang”
“Jadi bagaimana ia membuat telur itu
tidak pecah?”
“Karena cinta itu akan memberikan
sepasang sayap yang indah kepada telur itu, sayang.” Kakeknya
tersenyum sambil menciumi ubun-ubun
gadis mungil itu.
“Jadi cinta itu seperti burung!”
“Ya. Seperti burung, ia akan
membawamu terbang kemana saja. Membuatmu bisa memandang seluruh isi dunia
dengan suka cita, bahkan terkadang kau merasa seluruh dunia ini hanya milikmu
seorang.”
Gadis mungil itu ikut-ikutan
mendongakkan kepala menatap kosong langit-langit kandang. Membayangkan
mendengar kepak-kepak sayap burung yang sama sekali berlum pernah dilihatnya.
Sepertinya itu amat menyenangkan.
“Kakek, Zalaiva ingin cinta!”
***
Kemudian, hari-hari berikutnya
Zalaiva jadi sering sekali bertanya tentang cinta. Suatu pagi saat ia berlatih
bernyanyi do-re-mi sambil belajar berdansa, patahpatah memegang tangan renta
kakeknya, Zalaiva menyela, “Kakek, apakah cinta itu menyenangkan seperti
musik?”
“Ya. Ia seperti musik, tetapi cinta
sejati akan membuatmu selalu tetap menari meskipun musiknya telah lama
berhenti.”
“Kalau begitu, Zalaiva ingin cinta!”
Kakeknya tersenyum meringis sambil
memijatmijat pinggangnya. Gadis mungilnya tidak tahu, berputar-putar menari
seperti ini membuat encoknya kumat lagi.
Ketika Zalaiva duduk menggigil
malam-malam ketakutan, badai mengamuk di luar sana. Angin menderak-derakkan
jendela, kilat dan guntur susul menyusul memekakkan. Zalaiva yang baru
terbangun dari mimpi buruk hantu-hantu, mendongak ke arah kakek yang sedang
memeluknya, “Kakek, apakah cinta itu menakutkan seperti hantu?”
“Ya, cinta sejati seperti hantu.
Semua orang membicarakannya, tetapi sedikit sekali yang benarbenar pernah
melihatnya.”
Zalaiva mengernyitkan dahinya.
Mengkerut takut dalam pelukan kakeknya, “Kalau begitu, Zalaiva tidak ingin
cinta lagi!”
Kakeknya tersenyum merasa bersalah.
Malam ini ia terlalu lelah, dari tadi ingin rasanya segera tidur, tetapi gadis
kecilnya yang sedang ketakutan sepertinya tak akan beranjak menutup matanya.
Mungkin dengan begini gadis kecilnya bisa segera terlelap.
Ketika paginya mereka berdua
berendam dalam sejuknya air sungai di belakang peternakan. Zalaiva yang senang
sekali memukul-mukul air ke arah kakeknya, di antara percikan air yang bening,
tiba-tiba menyela, “Kakek apakah cinta sesejuk air sungai ini?”
“Ya. Cinta sejati memang seperti air
sungai, sejuk menyenangkan dan terus mengalir. Mengalir terus ke hilir tidak
pernah berhenti, semakin lama semakin besar, karena semakin lama semakin banyak
anak sungai yang bertemu. Begitu juga cinta, semakin lama mengalir semakin
besar batang perasaannya”
“Kalau begitu ujung sungai ini pasti
ujung cinta itu?”
“Cinta sejati adalah perjalanan,
sayang. Cinta sejati tak pernah memiliki tujuan”
“Kakek, apakah cinta itu memberi,
seperti yang selalu Kakek lakukan saat memberi makan ayamayam?”
“Tidak. Karena kau selalu bisa
memberi tanpa sedikit pun memiliki perasaan cinta, tetapi kau takkan pernah
bisa mencintai tanpa selalu memberi.”
“Kakek, dari kota manakah cinta
datang?”
“Tidak ada yang tahu, sayang. Cinta
sejati datang begitu saja, tanpa satu alasan pun yang jelas!”
“Kalau begitu bagaimana Zalaiva tahu
itu cinta?”
“Kau akan tahu ketika ia datang.
Tahu begitu saja. Dulu orang-orang menyebutnya cinta pada pandangan pertama.
Cinta sejati selalu datang pada pandangan pertama. Cinta sejati selalu datang
pada saat yang tepat, waktu yang tepat, dan tempat yang tepat. Ia tidak pernah
tersesat. Cinta sejati selalu datang pada orang-orang yang berharap berjumpa padanya
dan tak pernah berputus asa.
“Kelak saat kau dewasa, kau akan
melihat banyak sekali orang-orang yang begitu saja jatuh cinta. Bagi mereka
cinta seperti memungut bebatuan di pinggir kali. Banyak betebaran. Bosan bisa
dilemparkan jauh-jauh. Kurang, tinggal masukkan batu yang lain ke dalam kantong
lainnya. Apakah perangai seperti itu disebut cinta? Tentu saja bagi mereka juga
cinta. Tetapi ingatlah selalu Zalaiva-ku, cinta sejati tak sesederhana
bebatuan.
“Suatu saat jika kau beruntung
menemukan cinta sejatimu. Ketika kalian saling bertatap untuk pertama
kalinya, waktu akan berhenti.
Seluruh semesta alam takzim menyampaikan salam. Ada cahaya keindahan yang
menyemburat menggetarkan jantung. Hanya orang-orang beruntung yang bisa melihat
cahaya itu, apalagi berkesempatan bisa merasakannya.”
“Apakah kakek pernah bertemu dengan
cinta?”
Kakeknya tertawa pelan sambil
mengelus rambut panjang hitam legam gadis kecilnya. Zalaiva tersenyum, ia sudah
terbiasa dengan jawaban tawa pelan seperti itu.
“Apakah cinta memerlukan mata untuk
memandang?”
“Tentu tidak, sayang!”
Kakek itu mencium khidmat
ujung-ujung jari mungil Zalaiva. Zalaiva tersenyum, ia juga sudah terbiasa
dengan jawaban cium ujung-ujung jari seperti itu.
***
Gadis berambut panjang hitam legam
itu berdansa anggun sekali di tengah-tengah aula. Gaun merah yang membungkus
ketat tubuh indahnya membuat ia terlihat mencolok di antara puluhan pasangan
lainnya. Kakikakinya bergerak dengan irama teratur, posisi badannya sempurna
sudah. Dan ketika musik terhenti, para hadirin beramai-ramai tak kuasa menahan
diri untuk tidak bertepuk tangan.
Dengan anggun gadis itu membungkuk
membalas, lantas dibimbing pelahan oleh sang tuan rumah menuju kursi di sudut
ruangan. Pesta akan dipotong sebentar dengan sambutan dan jamuan. Tidak. Tidak
ada bercak lumpur di bagian bawah gaun pestanya, apalagi dua carik coreng tahi
ayam di pipi montoknya. Zalaiva sungguh sudah berubah mempesona. Gadis
berbilang dua puluh tahun. Matang dan dewasa.
Ia tumbuh menjadi pedansa terkenal.
Dari satu kastil ke kastil lain. Dari satu pesta ke pesta lain. Berpendidikan
dan terhormat berkat bimbingan kakeknya. Pengharapan kakeknya sedikit banyak
sejauh
ini sudah terwujud: Zalaiva mengecap
manisnya hidup, yang tak pernah dikecap oleh kedua orang tuanya, tak pernah
dikecap oleh anggota keluarga lainnya, dan juga oleh kakeknya sendiri.
Seorang pelayan berseragam datang
mendekati Zalaiva, membungkuk menawarkan segelas anggur. Zalaiva tersenyum
mengulurkan tangan menerimanya dengan sopan. Tetapi sayang sekali, belum sampai
bibirnya menyentuh gelas kristal itu, seorang pemuda yang entah datangnya dari
mana, terburu-buru lewat di hadapannya, menyenggol tidak sengaja tangan mungil
Zalaiva. Gadis itu berseru kaget. Gelas anggur di genggaman tangannya terlepas.
Pecah berantakan membasahi karpet, juga gaun merahnya.
Pemuda terburu-buru itu jangankan
meminta maaf, malah buru-buru pergi menghindar dari tatapan ingin tahu banyak
orang. Tinggallah Zalaiva tertegun, memerah mukanya tak tahu berbuat apa.
Tangannya menjulur ke bawah hendak meraba-raba memungut beling gelas, ketika
tiba-tiba tangan seorang pemuda lain lebih dahulu menyentuh ujung jarinya
dengan lembut.
“Jangan dipikirkan, hanya sebuah
gelas!”
Suara itu datang bagai angin sorga.
Menyergap rasa malu dan kecemasan Zalaiva, lantas melemparkannya jauh-jauh ke
masa-masa menyenangkan dulu. Zalaiva mendongak mencari tahu muasal suara.
“Tahukah kau, jika kau melemparkan
sebuah gelas dari atas awan, saat jatuh menimpa tanah sedikit pun gelas itu
takkan retak sepanjang kau punya sesuatu!”
Zalaiva di tengah keterpanaannya
menggangguk begitu lemah. Ia bisa merasakan hembusan nafas pemuda itu di
wajahnya yang semakin merah.
“Tahukah kau apakah sesuatu itu”
Zalaiva tidak tahu apakah ia
mengangguk atau tidak saat itu. Yang ia tahu secara pasti tiba-tiba jantungnya
seperti terseret ke dalam putaran perasaan yang sungguh tidak ia mengerti.
Ketika pemuda itu dengan khidmat mencium ujung-ujung jarinya. Ia merasa seluruh
semesta alam, tiba-tiba ikut takzim memberikan salam. Waktu berhenti. Semburat
cahaya yang menggetarkan muncul menyeruak dari tubuhnya.
Zalaiva tiba-tiba merasa berdiri di
atas padang rumput maha luas, semua orang tersaput hilang, semua benda
tersingkir jauh-jauh kecuali sebatang pohon mahoni dengan kicau burung-burung
dan sebuah rumah mungil beratap rumbia berdinding papan berwarna putih. Ia dan
pemuda itu berdiri saling menatap dan saling berpegangan tangan, dari jauh
terdengar suara gemerincing air sungai.
Lama sekali Zalaiva mempercayai
kata-kata kakeknya dulu. Setiap pagi, saat ia menyiram kembang setaman di bawah
jendela kamarnya, Zalaiva menatap langit biru dan berbisik pelan pada semilir
angin: ia rindu berjumpa cinta sejatinya dan tak akan pernah berputus asa. Dan
hari ini, setelah sekian lama, kesabaran itu akhirnya berbuah. Tuhan
mengirimkannya. Ia datang begitu saja, tanpa satu alasan pun yang jelas.
“Apakah kau sakit? Mukamu pucat
sekali?”
Pemuda itu membantu Zalaiva duduk
kembali di atas sofa. Melambaikan tangan memanggil pelayan agar membersihkan
beling tajam di atas karpet. Menarik sapu tangan putih dari lipatan jasnya.
Berusaha membantu membersihkan gaun merah Zalaiva.
“Ah, biar. Biar kubersihkan
sendiri.”
“Tidak nona. Biarkan aku menghinakan
diri dengan membersihkan gaun indahmu.”
Zalaiva terkesima lagi. Jantungnya
berdetak tak karuan saat merasakan tangan pemuda itu menyentuh gaun pestanya.
Tubuhnya gemetar. “Aku akan memulai perjalanan panjang itu,” desah Zalaiva
dalam diam.
***
Nasib!
Aku harus menyalahkan siapa, jika
perjalanan mendebarkan itu ternyata tidak terlalu panjang. Panjang aliran
sungai itu ternyata hanya sepelemparan batu. Kemudian kandas dihadang dam
raksasa. Benar-benar sepelemparan batu, karena malam itu juga semuanya
berakhir.
Malam itu, setelah keributan kecil
itu berhasil diselesaikan dengan baik. Pemuda itu menawarkan diri menemani
Zalaiva berdansa bersama untuk putaran kedua. Andaikata bisa kulukiskan dansa
mereka berdua, maka lukisan itu cukup untuk membuatmu tenggelam dalam keagungan
perasaan cinta hanya dengan menatap cahaya muka Zalaiva.
Saat Zalaiva malu-malu berpamitan
pulang, pemuda itu membantunya menaiki kereta kuda. Saat kereta kuda itu
membelah dinginnya malam musim salju, sais kereta, satu-satunya bekas pembantu
kakeknya yang masih tersisa menjawab pertanyaan-pertanyaannya tentang pemuda
itu. Jawaban dengan suara tertahan, layaknya seseorang yang sedang kedinginan
mengendalikan laju kereta.
Tetapi bagi Zalaiva, suara tertahan
itu seperti berubah menjadi sembilu yang tanpa ampun mengirisiris jantungnya.
Ia tidak peduli dengan seberapa tampan dan seberapa kuasanya pemuda itu, fakta
singkat yang tiba-tiba membuatnya menggigil adalah saat sais kereta mengatakan:
pemuda itu minggu depan akan menikah.
Tak penting dengan siapa. Tak
penting siapa wanita itu. Tak penting semua itu. Zalaiva merasa amat merana.
Bohong. Kakeknya berbohong. Cinta tidak seperti air sungai, sejuk dan
menyenangkan. Baginya sekarang cinta lebih seperti moncong meriam. Sesaat lalu
melontarkannya tingi-tinggi sekali hingga ke atas awan, tetapi sekejap kemudian
menghujamkannya dalamdalam ke perut bumi.
Terhempaskan.
Tidak. Cinta tidak memberikannya
sepasang sayap indah. Ia bukan hanya tidak bisa terbang sekarang,
untuk bergerak sedikit pun terasa
menyakitkan sekali.
Zalaiva menangis dalam diam.
Cinta tidak membuat ia merasa
memiliki dunia ini, ia justeru merasa kehadirannya di dunia sia-sia belaka.
Cinta memang lebih mirip hantu, semua orang membicarakannya, tetapi sedikit
sekali yang benarbenar pernah melihatnya. Dan ketika kau berhasil melihatnya
kau lari sungguh ketakutan.
Kakeknya jelas lupa mengajarkannya
soal akhir sebuah percintaan. Cinta sejati tidak selalu seperti musik yang
membuatmu tetap menari meskipun sudah lama berhenti. Ia sekarang justeru
mengharapkan musik itu tidak sedetik pun pernah dimainkan.
Zalaiva merintih dalam sunyi.
Kakeknya hanya benar satu hal. Hanya
satu hal. Kalian sama sekali tidak memerlukan mata untuk memandang cinta
sejatimu. Tidak memerlukan kelopak mata untuk mengenalinya. Ia selalu datang,
tak pernah tersesat.
Zalaiva sekali lagi dalam diam
menyeka kedua matanya. Mata yang sama sekali tak terdapat bintik hitam di
bolanya.
Zalaiva buta.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar