MMSPH
11: Mimpi2 Si Patah Hati (Laila-Majnun)
oleh Darwis Tere Liye pada 09 September 2011 jam 6:54
Mimpi-Mimpi Si Patah Hati
(Laila-Majnun)
Perkampungan itu dipenuhi oleh
pepohonan hijau. Sejuk dan nyaman sebagaimana mestinya sebuah oase. Yang
mengejutkan, sebuah danau kecil tepat berada di tengah-tengahnya. Sepagi ini
sepasang bebek liar berbintik kelabu berenang bercengkerama dengan riang.
Anakanaknya hilir mudik belajar menyelam di sela-sela kaki berselaput sang
induk, melesat bagai lemparan sebongkah batu berwarna kuning.
Rumah-rumah berbentuk kotak berbahan
lumpur berderet-deret mengitari danau, seperti manusia yang mengelilingi ka’bah
saat tawaf di tanah suci. Modelnya hampir serupa, hanya jumlah pintu dan
jendela yang membedakan rumah mana milik pedagang kaya dan rumah mana milik
seorang tukang besi atau penjual kayu bakar. Tetapi rumah yang besar dan rumah
yang kecil sedikit jumlahnya, lebih banyak yang sedang-sedang saja. Di gurun
ini, tak ada yang peduli seberapa besar rumah kalian, apalagi ketika badai
pasir datang menggulung.
Pohon kurma tumbuh subur, lempar
bijinya dan biarkan kasih-sayang alam merekahkan kecambahnya. Sepagi ini di
sudut oase, tiga kelopak daun muda dibuliri tetesan embun berkilauan, muncul
dari tanah menjanjikan bekal kehidupan berpuluh-puluh mulut penduduk oase
hingga tiga generasi mendatang. Dan karena hampir setiap pintu rumah memiliki
kebun kurma, walau sekedar tiga-lima batang, itu berarti tak akan ada yang
kelaparan di sini.
Wanita-wanita berkerudung lalu
lalang membawa pekerjaan. Setumpuk pakaian kotor, menuju sumur-sumur umum yang
terdapat di setiap luas sekian hasta persegi pemukiman. Sekulak butiran gandum,
menuju adonan dan pemanggangan roti masing-masing. Segerombolan anak dengan
rambut masai dan pipi berbekas, diseret dan diomeli untuk dimandikan.
Rempah-rempah dan daging kibas dijual oleh pendatang jauh di ramainya pasar.
Para lelaki mulai sibuk dengan perniagaan. Penyekat toko satu persatu segera
dilepaskan. Kehidupan sudah dimulai di perkampungan oase tersebut pagi ini.
Qais menjinjing keranjang di atas
pundak hitam legam tangan kanannya. Lengan tangannya yang satu lagi berbebat
kain, luka terjatuh dari pelepah pohon kemarin. Seumur-umur ia menjadi pemetik
buah kurma, baru kali itu matanya tak awas, pikirannya tak tenang, dan tubuhnya
lantas kehilangan keseimbangan, jatuh berdebam menghajar tunggul. Wahai,
meskipun mengingat kejadian menyebalkan itu, Qais sebaliknya malah tersenyum,
tidak meringis atau mengeluarkan sumpah serapah yang biasa kalian lakukan. Di
pipinya sekarang muncul semburat merah, dan keindahan oase seketika tenggelam
oleh cahaya bola matanya.
Ia bersenandung. Nyanyian
kesenangan. Sungguh jika bisa kukata-katakan memandang pemuda yang tengah
melalui gang-gang perkampungan itu, ia akan menjadi sajak-sajak indah. Mengalir
merambati udara pagi, melambai mengetuk-ngetuk jendela. Membuat berbinar orang
tua yang setengah terkantuk duduk menunggu anaknya pulang dari kejamnya
peperangan. Membasuh jantung istri yang berwajah cemas menanti suami pulang
dari perjalanan berbahaya. Atau sekadar menciprati seorang anak di balik pintu
yang penuh harap berdiri menunggu ayahnya kembali dari pasar membawa gasing
kesukaannya.
“dareda/ seekor kumbang terbang
merindu – kembali/
sayapnya luka tertusuk durimu –
waktu itu/
sayang/ sebelum sampai/
jatuh terpasung keenam kakinya/
dililit jala sang penguntai benang/
mati merana//
nanena/ bunga berubah menjadi buah/
ranum berjuntai mengundang cinta/
bahagia dia yang menyiram/
memetik tiba hingga masanya/
sayang/ sebelum sampai/
tersambar tajamnya kuku binatang
malam/
mati jatuh/ busuk ditanah//
nahnehnah/ musim indah telah datang/
aroma wangi menyentuh langit-langit
hidung/
menyebar dan melambai/
tak peduli kumbang atau pun buah/
lilin ini takkan pernah kubiarkan
padam//”
***
“Jikalau pertemuan ini sebuah dosa,
biarlah aku menanggungnya kelak,” Qais menatap lemah wajah Laila, kekasihnya.
“Tidak, kau tidak akan menanggungnya
sendirian, aku akan bersamamu. Setapak demi setapak melewati semua hukuman,”
Laila menjawab lirih memegang jubah kumal Qais. Kelopak matanya pelahan-lahan
merekah, basah. Butiran air keluar sebutir, kemudian menggelinding di pipi
siangnya.
Tepat bersamaan ketika butir air
pertama jatuh menghujam pasir, di sela-sela kaki mereka yang bersembunyi di
balik serumpun kaktus tajam, langit bergemuruh. Halilintar menyambar, awan
hitam bergulung-gulung mendekati oase itu. Para pedagang yang terdengar hilir
mudik di keramaian pasar dari balik pagar persembunyian mereka berteriak
terkejut. Serabutan membungkus jualannya. Aneh sekali, hujan ini nampaknya
datang begitu saja, apalagi di teriknya siang musim kemarau berkepanjangan saat
ini.
“Aku mohon jangan menangis,” Qais
menyapu air mata kekasihnya dengan sapu tangan, “Lihatlah, kau membuat langit
ikut menangis .”
Mereka berdua tersenyum, kemudian
tertawa pelan atas olok-olok itu. Wahai, padahal pagi itu enam bulan lalu
langit juga menumpahkan hujan lebatnya saat Laila menangis tersedu di dalam
kamarnya untuk perjodohan ia dengan pria lain pilihan orang tuanya. Wahai,
malam itu sepuluh bulan yang lalu langit juga tak henti mengucurkan kandungan
air di relungnya saat Laila menangis tersedu di pangkuan ibunya untuk kemarahan
ayahnya dan larangan menemui pemuda pujaan hatinya. Keluarga mereka terlalu
terhormat untuk merestui hubungan Qais dan Laila.
Cuaca tak pernah seaneh tahun ini,
penduduk oase bergumam di pasar-pasar, di sumur-sumur, dan di ruangruang tamu
mereka. Apa mau di kata, semakin hari Laila memang semakin sering menangis.
Beruntung atau tidak, Qais hingga hari ini masih mampu menahan airmata dukanya.
Sungguh, tak ada yang tahu olok-olok apa yang akan terjadi seandainya ia
menangis dalam penderitaan cinta ini.
“Aku harus pulang, Qais.” Laila
melepas genggaman tangan kekasihnya, “Lihatlah pakaianku sudah mulai basah.
Mereka akan curiga dan bertanyatanya.”
“Duduklah sebentar, aku masih ingin
berbincang denganmu.” Qais mengeluh dan merajuk. Lama sudah ia berusaha
sembunyi-sembunyi bertemu dengan kekasihnya dengan segala resiko. Sepatah dua
patah takkan cukup. Wahai, sepanjang tahun pun takkan cukup untuk membuka
lembar demi lembar kerinduan miliknya. Duka Qais semenjak pagi itu dari
sela-sela pelepah pohon kurma melihat kerudung Laila tersingkap disambar
kencangnya angin gurun.
“Kita tak pantas Qais. Tak pantas
berada di sini!”
“Kalau begitu larilah denganku….”
“Takkan mungkin kulakukan. Takkan
mungkin.”
Laila menangis lagi. Hujan turun
semakin menggila, dan mereka benar-benar basah. Apalah daya pohon kaktus
menahan tumpahan air, daun pun ia tak punya, selain duri yang memedihkan kulit
jika tertusuk. Dan Laila saat ini di jantungnya sudah tertusuk seribu duri
kaktus.
“Lantas apa yang bisa kulakukan
untuk memilikimu?” Qais menatap kekasihnya, merana.
“Aku…. Aku akan bebas jika ikatan
ini diputuskan….”
Mata Qais berubah nyalang. Merah.
“Baik. Kalau begitu akan kubunuh suamimu!”
“Demi Tuhan jangan lakukan itu. Aku
mohon. Kita akan mempersulit keadaan.”
***
Apakah doa bisa membunuh? Entahlah,
yang pasti jika iya, maka malang benar nasib suami Laila. Tidak. Ia tidak mati
dibunuh Qais yang lara sendiri. Bagaimana bisa membunuh jika sepanjang hari
Qais hanya bisa bersunyi terasing dalam goa itu. Binatang gurun, bintang
gemintang, dan tunas-tunas muda rerumputan yang hanya menjadi temannya, jauh
terpencil puluhan kilometer dari kehidupan oase dan Laila.
Lagipula Qais tak pernah dalam satu
doanya pun, meminta kematian pemuda itu. Ia hanya selalu merintih memohon agar
Laila suatu saat datang ke goa ini dan bersama-sama lari dari semua kekacauan
harga diri dan kehormatan para tetua oase.
Pagi itu ketika Laila bangun dari
tidurnya. Suami pilihan tetua keluarganya yang mau merendahkan diri selalu
tidur di lantai tidak bergerak-gerak juga padahal cahaya matahari sudah
menerobos jendela. Ia coba menyentuh dahi suaminya. Wahai, itulah pertama
kalinya mereka bersentuhan, dan menjadi sentuhan yang terakhir pula bagi
mereka.
Pemuda itu telah mati. Begitu saja.
Meskipun malam-malam lalu dalam kesepiannya ia memang sering berpikir soal
pergi jauh-jauh agar Laila bisa sedikit tersenyum dalam kehidupan. Perjodohan
ini tak pernah membahagiakan hatinya. Terlebih saat tahu istrinya mengikat
jantungnya pada pemuda lain, jauh sebelum ia datang mengacaukan segalanya.
Wahai, sungguh muasal kekacauan ini bukan dari dirinya.
Mendengar burung-burung mengabarkan
kejadian itu, Qais dengan gilanya lari menembus gurun menuju kekasihnya. Ia
terus berlari, meskipun kakinya tak beralas apapun. Telapaknya mulai merekah
dibakar panasnya pasir, kulitnya mulai robek disabit perdu-perdu berduri.
Tetapi Qais tak peduli, ia terus berlari hingga sore datang menjelang, hingga
malam tiba menghadirkan purnama.
Tengah malam, ia menerobos lewat
pintu belakang. Sesuai kesepakatan mereka dulu, Laila sudah menunggu di balik
serumpun kaktus itu. Tidak. Laila tidak tersenyum bahagia menyambut Qais,
menangis pun juga tidak. Ia hanya menatap kosong. Benar-benar tatapan kosong.
Qais yang hendak buncah menyebut rencanarencana, seluruh perasaan kebahagiaan
di hatinya, mimpi-mimpinya, wahai, demi melihat wajah kosong Laila, bibirnya
sontak tersumpal oleh sesuatu yang ia takutkan selama ini.
Bagi Qais, boleh jadi kejadian ini
akan menjadi awal sebuah kehidupan. Bagi Laila, wanita yang amat lelah dengan
segala perjalanan cinta, telah habis sudah airmatanya, telah kering sudah perasaannya.
Ia sesiang tadi juga berseru girang saat menyadari suaminya telah meninggal,
tetapi kegembiraan itu dalam sekejap berubah menjadi antiklimaks. Kegembiraan
yang menghabiskan seluruh energi yang dimilikinya, dan ia terlemparkan keras
sekali dalam ketidakmengertian yang memangkas syarafsyaraf kewarasan.
Laila saat ini sedang mengais-ngais
cinta yang selama ini menuntun hidupnya, sayangnya ia lupa. Laila saat ini
sedang berusaha mengingat-ingat wajah pemuda idaman yang mengajaknya bertemu
malam-malam di balik serumpun kaktus itu, sayang lukisan itu semakin buram. Ia
berubah menjadi bangkai. Tanpa perasaan lagi, tanpa harapan lagi. Maka
lihatlah, wahai, ia sekarang menatap kosong wajah Qais yang terperangah.
Seolaholah di wajah Laila ada seribu pertanyaan, dan salah satu pertanyaan yang
cukup sudah menebas jantung Qais.
“Siapa kamu?”
***
Tak ada lagi Qais yang berjalan di
gang-gang pemukiman oase sambil menyenandungkan lagu rindu. Tak ada lagi pemuda
hitam legam pagi-pagi menyampirkan keranjang di bahunya, berangkat untuk
memetik buah kurma. Qais masih berlalu-lalang seperti biasanya, tetapi ia
melangkah sambil meratap. Ratapan derita cinta.
Satu depa satu keluh kesah, satu
sepelemparan batu satu lolongan pilu, satu sumur satu hati penduduk yang
melihatnya hancur. Begitu saja sepanjang hari semenjak ia bertemu dengan Laila
malam itu. Semenjak ia menyadari tak ada lagi kewarasan yang tersisa pada gadis
yang dicintainya, dan Qais demi kekasihnya ikut menggilakan dirinya.
Wahai, menyedihkan sekali
pemandangan ini. Tubuh kurus kering berjalan di atas pasir berdebu. Pakaiannya
compang-camping, kotor dan robek. Badannya lebih bau dari seekor kibas jantan,
daki hitam memenuhi lipatanlipatan tubuhnya. Pemuda itu berjalan bolak-balik
seperti sedang melakukan ritual sa’i, dari bukit safa ke bukit marwa.
Berulang-ulang, tak kenal siang atau pun malam.
Setiap kali ia tiba di rumah besar
kekasihnya, Qais jatuh terduduk. Mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi,
berseru memanggil-manggil Laila. Tetapi lihatlah, yang dipanggil justeru
menatap kosong dari balik jendela, muka pucat pasi, dan tubuh yang juga amat
mengenaskan. Sepanjang hari Laila hanya duduk di bawah bingkai jendela itu.
Berharap kekasih hatinya datang, walaupun ia sama sekali lupa seperti apa paras
kekasih pujaannya itu.
Setelah sekian lama mereka
bertatapan dalam sebuah adegan kegilaan yang memilukan, Qais melanjutkan
ritualnya. Berjalan ke sisi kota satunya. Tiba di sana, seperti biasa ia akan
kembali lagi ke sisi kota satunya lagi. Berhenti di depan rumah besar Laila
lagi. Jatuh terduduk lagi, dan berseru-seru memanggil Laila lagi. Meneruskan
ritualnya lagi. Begitulah, sepanjang hari.
Hingga suatu pagi. Maut memutus
penderitaan Laila. Seminggu sudah ia menolak menyentuh roti gandum, bibirnya
kering tak terbasahi setetes air pun. Dan pagi itu, malaikat maut berbaik hati
mengakhiri segala deritanya.
Pemukiman oase itu berkabung untuk
kesekian kalinya.
Qais yang sedang berada di sisi
kota, demi mendengar kabar itu berlari menerobos rumah-rumah penduduk. Menyenggol
wanita-wanita berkerudung yang sedang membawa tumpukan pakaian kotor hendak
pergi ke sumur, menabrak para pedagang yang menuju pasar, dan sama sekali tak
mempedulikan sumpah serapah orang-orang yang terkena percikan ludah busuk
mulutnya yang berbusa meratapi Laila.
Penjaga rumah menghunuskan pedang
demi melihat Qais memaksa masuk ke halaman rumah Laila. Qais tak peduli. Ia
menerjang bagai banteng yang terluka. Bibirnya mendesiskan nama sang kekasih,
dan entah dari mana datangnya kekuatan itu, penjaga-penjaga buas pintu gerbang
tersebut terpental menghantam hamparan pasir.
Orang-orang yang memadati rumah
Laila panik melihat Qais menyerbu masuk.
Tetua keluarga besar Laila
memerintahkan lebih banyak penjaga lagi untuk menahan Qais yang kesurupan
berteriak-teriak. Sepuluh orang menerkam Qais, memiting dan membantingnya ke
lantai tanah. Qais melolong panjang bagai serigala. Beringas sekali tubuhnya
yang tinggal tulang belulang menepiskan mereka. Qais tidak peduli, dia terus
berlari menerjang semakin ke dalam. Ia mendaki tangga bagai seekor elang,
terbang menghempaskan semua penghalangnya. Dan ketika tiba di pintu kamar
Laila, ia jatuh terduduk terhujam ke bumi menatap kekasih hatinya yang
telentang begitu takzim di atas tempat tidurnya. Di selimuti oleh kain putih,
wajah itu terlihat amat elok ditimpa cahaya matahari pagi yang menerobos
kisi-kisi jendela.
Sebuah kematian yang indah.
Qais tergugu. Wahai, jika bisa
kulukiskan saat pemuda itu pelahan-lahan mendekat dan menggendong mayat Laila,
maka seluruh dunia akan jatuh dalam kesedihan melihatnya. Pemuda itu mencium
kening kekasih hatinya. Matanya menyiratkan penderitaan yang menganak sungai.
Ia melangkah keluar dari ruangan, menuruni anak tangga. Dan seluruh isi rumah
seperti tersihir oleh sebuah tontonan yang memilukan.
Kesombongan dan harga diri yang
telah mencabut kewarasan sepasang pencinta. Kekuasaan dan kebanggaan atas akal
sehat yang telah membinasakan sepasang kekasih. Tak ada lagi ratapan dari mulut
Qais, tak ada lagi lolongan kesedihan dari bibir Qais, dan memang belum pernah
ada tangisan dari kelopak mata Qais.
Pemuda itu menaikkan mayat
kekasihnya ke atas seekor onta. Lantas menggebahnya menjauhi rumah terkutuk
itu. Menjauhi oase terkutuk itu.
Keluarga besar Laila setelah sekian
lama Qais menghilang dari kelokan pintu gerbang tiba-tiba tersadarkan. Mereka
panik saat menyadari mayat Laila telah dibawa lari oleh pemuda itu. Sungguh
sebuah aib besar. Maka tanpa pikir panjang, tetua memutuskan mengirim seratus
penunggang kuda Badui dengan pedang terhunus memburu Qais.
Debu mengepul mengiringi beringasnya
para pengejar, sementara tubuh ringkih Qais terombang-ambing di atas ontanya.
Ia memaksa secepat mungkin tiba di gua pengasingannya, menguburkan kekasihnya
jauh dari segala penderitaan cinta ini. Ia akan duduk di pusara Laila hingga
maut berbaik hati datang menjemputnya. Tidak. Ia tidak akan pernah memutuskan
bunuh diri menyusul kekasihnya. Semua ini adalah takdir langit, maka biarlah ia
berakhir sesuai aturan langit.
Tetapi tubuh lemahnya sudah
kehabisan tenaga. Ketika tubuh Laila jatuh terpental dari punuk onta karena ia
tak sanggup lagi memegangnya erat-erat, maka selesailah pelarian itu. Qais ikut
menjatuhkan diri. Seratus penunggang kuda Badui dengan pedang terhunus semakin
dekat. Matahari bersinar terik sekali.
Gemetar Qais merengkuh tubuh berdebu
Laila. Memeluknya dalam sebuah tarian penderitaan tak tertahankan. Ia sudah tak
kuat lagi. Pedang-pedang itu pasti akan mencabik-cabik membinasakannya. Dan
mayat Laila akan dibawa pergi darinya. Dengan sisa-sisa tenaga, Qais mendongak
mencari Tuhan.
Wahai, untuk pertama kali dan untuk
terakhir kalinya Qais menangis. Wahai, air mata itu mengalir pelan membasahi
pipi hitamnya.
“Ia membuat seorang raja menjadi
hamba/
Saudagar kaya menjadi peminta-minta/
Panglima perang hina teraniaya//
Ia membuat malam terang benderang/
Terik matahari gelap tertutupi/
Angin tertahan berhenti bertiup/
Air tak mampu mengalir ke bawah//
Apalah artinya dirku?/
Raja bukan, saudagar tidak, panglima
jauh/
Apalah harga diriku?/
Bulan bukan, matahari tidak, angin
belum, air pun jauh//
Aku hanyalah pengembara cinta/
Tersesat dalam perjalanan
menyedihkan ini/
Aku tak tahu lagi harus melangkah
kemana/
Aku tak tahu lagi//
Kirimkanlah kereta penjemput
terbaik-Mu/
Juntaikanlah tangga emas itu dari
arsy-Mu//
Tiba di penghujung kalimat senandung
memilukan itu, saat tetesan air mata darah pertama Qais jatuh berdebam
membasahi pasir gurun, menguap menyisakan kepulan asap hitam-kelam, langit
mendadak gelap-gulita bagai ada yang menutup tirai petunjukan. Angin tiba-tiba
menderu laksana berjuta lebah sedang memenuhi udara. Di angkasa terdengar
pekikan pilu, merindingkan segenap bulu kuduk... ays-syajwu!
Asap hitam-kelam dari tetes air mata
Qais pelahan-lahan berubah membesar menjadi sebuah liukan badai mengerikan.
Menyebar dengan cepat, bagai anak kecil yang tumbuh dewasa dalam hitungan
detik.
Badai pasir itu membentuk dinding
besar yang belum pernah dilihat manusia. Tingginya puluhan depa, lebarnya
ribuan depa. Menderu mengeluarkan suara yang mengerikan. Dengan dahsyat tanpa
ampun, seperti dilemparkan oleh tenaga raksasa badai gurun itu melesat menuju
pemukiman oase. Melibas seratus penunggang kuda Badui bagai menepuk seekor
lalat.
Langit semakin kelam. Debu
berterbangan memedihkan mata. Dalam beberapa kejap berikutnya oase itu sudah
tak bersisa lagi.
Sementara Qais jatuh tersungkur
memeluk Laila.
Keduanya sudah tak bernyawa. Esok
lusa, serumpun pohon bambu tumbuh dari jasad mereka. Prasasti cinta yang
bertahan ribuan tahun.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar