MMSPH
10: Kotak-Kotak Kehidupan Andrei
oleh Darwis Tere Liye pada 08 September 2011 jam 7:51
Kotak-Kotak Kehidupan Andrei
Rumah kami tak jauh berbeda dengan
rumah tetangga sekitar. Jadi setiap arisan itu dilakukan, ibu-ibu tidak banyak
berkomentar dan tidak memelototi satu persatu barang-barang yang terpajang di
ruangan.
Mereka tidak tahu, sih.
Di ruangan terjauh dan terdalam
rumah kami, di pojok tergelap dan berdebu, di ketinggian atas lemari yang sulit
dijangkau tangan kanak-kanakku, ibuku meletakkan benda kami yang paling indah,
yang menurutku jauh lebih berharga dibandingkan seluruh rumah dan seisinya di
sepanjang gang Potlot ini.
Benda itu adalah sebuah kotak.
Aku malam-malam, setelah ibu
terlelap dalam tidurnya, suka sekali mencuri-curi pandang kotak itu. Berjinjit
di atas lantai berdebu, menggenggam erat sepucuk senter, berhati-hati menyeret
dan menaiki sebuah kursi. Dan di antara buramnya cahaya senter, kotak itu
berpendar indah. Amat cantik. Kau letakkan dimana saja, benda ini akan cocok
dengan sendirinya.
Seluruh permukaan dan sudut-sudutnya
mungkin dibuat oleh pemahat terbaik yang pernah ada. Membuat bunga-bunga,
kupu-kupu, dan berbagai bentuk lainnya seperti hidup menyenandungkan
kegembiraan. Tiba-tiba aku jatuh cinta dengan kotak ini. Dan akhirnya setiap
malam aku selalu menyempatkan diri menjenguk, sekadar untuk membelainya.
Pernah suatu ketika guru kami di
sekolah bercerita soal kotak pandora yang terkenal itu. Kotak yang menurut guru
kami amat indah dan mempesona, tak ada duanya di dunia. Mendengar guruku
mendeskripsikan bentuknya, tanganku reflek teracung dan berseru, “Ada satu yang
seperti itu di rumah kami!” Seluruh isi kelas riuh mentertawakanku.
Mereka tidak tahu, sih.
Tetapi bukan soal ketidakpercayaan
itu yang tibatiba membuatku tidak nyaman. Saat guru kami bercerita lebih lanjut
isi kotak pandora itu, di jantungku tumbuh dengan sangat cepat dan liarnya rasa
penasaran. Apakah sebenarnya isi kotak di rumah kami? Apakah seseram isi kotak
pandora yang keluar pertama? Atau seindah isi kotak pandora yang keluar
berikutnya? Bagaimana pula aku yang selama ini setiap hari membelainya, tidak
pernah tergerak sedikit pun untuk membukanya jauh-jauh hari. Maka, malam ini
kuputuskan mengintip isi kotak itu.
Seperti malam kemarin, malam minggu
lalu, dan malam-malam lainnya sepanjang tahun ini, aku kembali menyelinap ke
dalam ruangan itu. Debu tebal di lantai menyisakan bekas telapak kakiku.
Semakin dekat dengan kotak itu, jantungku berdegup semakin kencang. Sepertinya
kakiku tak akan sanggup berdiri lama di atas kursi yang pelahan mulai
bergemeletuk karena gentarku. Tanganku sudah terjulur menyentuh kait penutup
kotak itu, tinggal se-mili detik lagi, ketika tiba-tiba tanpa kusadari ibu
sudah berdiri di ambang pintu.
Menakutkan sekali melihat wajah ibu
malam itu. Untuk ukuran wanita tua, kurus, berwajah penuh kesedihan dan sedikit
tak terawat, ia lebih terlihat seperti seekor harimau yang memegang sebilah
sapu. Ibu menyeret, membentak, berteriak dan semua kemarahan yang tidak pernah
aku bayangkan sebelumnya. Aku menangis tersedu, bukan merasa bersalah, tapi
lebih karena kaget. Lama kemarahan ibu baru terhenti. Hingga akhirnya ia juga
ikut menangis memelukku. Diantara sesunggukan ibu berkata, “Berjanjilah Andrei,
kamu tidak akan pernah membuka kotak itu lagi!”
Aku mengangguk lemah.
“Berjanjilah, kamu tidak akan pernah
melihatnya lagi, tidak akan pernah sedikit pun memikirkannya lagi!”
Aku menatap menurut.
“Dengarkan nak, kehidupan ini tak
selalu memberikan kita pilihan terbaik, terkadang yang tersisa hanya
pilihan-pilihan berikutnya. Orang yang bahagia selalu berpegangan dengan
pilihan kedua yang terbaik, selalu berpegangan dengan pilihan kedua yang
terbaik… melupakan pilihan pertama yang tak pernah bisa kau capai… meskipun
ayahmu dulu tak bisa melakukannya….”
Aku mengangguk lemah.
Hari-hari berikutnya, kotak itu
benar-benar kulupakan, apalagi mencoba melihat dan mengintip isinya. Hingga
rumah kami dijual lima tahun kemudian, hingga ibuku meninggal dua puluh tahun
kemudian, hingga aku memtuskan untuk pindah keluar pulau melupakan penderitaan
ibu membesarkanku sendirian. Hingga aku menikahi Sofia sepuluh tahun silam, dan
memiliki keluarga dengan tiga bidadari kecil kami.
***
Jam peninggalan jaman Belanda itu
berdentang enam kali. Ruangan ini kemudian senyap. Remang cahaya pagi
menyelisip di antara dawai krey. Memperlihatkan kertaskertas bertebaran tak
rapi di atas meja, beberapa binder voucher saling menumpuk di sudut sana.
Kalender penuh coretan merah. Komputer berdenging pelan menarikan screen
saver-nya, lupa dimatikan semalam. Dan aku yang terhujam dalam-dalam di atas
kursi kerja. Tepekur. Menatap langit-langit.
Dua jam lagi, kehidupan kantor ini
akan kembali. Orang-orang yang menagih pembayaran, tim sales yang sibuk soal
distribusi barang, satpam depan yang mengantarkan koran langganan, dan akhirnya
kepala cabang yang melewati pintu ruanganku, menawarkan minum kopi bersama di
ruangannya, selalu begitu setiap hari.
Tadi pagi aku tidak sempat
berpamitan dengan tiga bidadariku, apalagi mengecup pipi mereka sebelum
berangkat sekolah. Sofia pun hanya memandangku penuh pertanyaan, tapi seperti
biasa sedikit pun tak memiliki keberanian untuk mengeluarkannya.
Ini hari ketiga aku bergegas datang
sepagi ini ke kantor yang sebenarnya hanya sepelemparan batu dari rumah kami.
Ada sesuatu yang memaksaku. Menerkamku dalam sebuah ritual aneh. Menyeret masa
kanak-kanakku. Gadis itu, di senin pagi yang menyebalkan tiga hari lalu datang
mengetuk pintu. Aku terkesiap melihatnya, lama telah melupakan semua kenangan
itu, dan lebih terperanjat lagi saat ia menyerahkan sebuah benda. Kotak pandora
milik ibuku. Seluruh kenangan yang lebih lama lagi datang melibas seperti air
bah. Melesat bagai anak panah. Terhujam dalam relung-relung memoriku yang sudah
lama terhapus. Dan itu bukan semata rasa penasaran dan pertanyaan kanak-kanak
tentang isi kotak.
Pagi beranjak matang, dari tadi lama
sudah aku meneguhkan hati, maka dengan berjinjit aku menuju lemari sebelah
meja. Menarik kursi kerjaku. Tanpa sesuluh penerangan melongokkan kepala di
balik tumpukan dokumen, jantungku tiba-tiba berdetak kencang melihat kotak
indah itu. Tergolek menggoda di tempatnya yang baru. Jemariku gemetar kencang
maju terhulur hendak membelai ukirannya yang elok.
TIDAK! Aku terperanjat, tentangan
hatiku itu keluar kuat sekali, membuatku terjengkang. Dengan nafas tersengal
aku kembali duduk membenamkan diri di atas kursi kerja.
Hari berikutnya. Sayangnya, rasa
penasaranku tumbuh diluar jangkauan akal sehat. Dan di tengahtengahnya, dengan
subur segala sesuatu itu muncul kembali menyesakkan. Janji-janjiku pada ibu
untuk tidak membuka kotak itu memang membuatku bertahan, tapi itu hanya selama
seminggu berikutnya. Pelahan-lahan aku kehilangan energi.
Janji-janjiku pada ibu untuk tidak
melihat kotak itu memang membuatku bertahan hari-hari berikutnya, tapi itu
hanya selama tiga hari. Dan janji-janjiku pada ibu untuk tidak mengintip isi
kotak itu hanya mengendalikan perasaanku selama dua puluh empat jam saja.
Apalagi kalimat yang lain.
Tidak, aku sudah lelah dengan
kepercayaan kepada kata-kata ibu. Hingga hari ini, semua kehidupan yang
kumiliki adalah pilihan kedua. Malah diantaranya ketiga dan entah keberapa.
Apakah kemudian aku berbahagia? Aku meringis dalam hati. Hanya tiga
bidadarikulah satusatunya dalam kehidupan yang menjadi pilihan pertama.
Masalahnya aku sudah amat lama kehilangan semangat untuk mengejar pilihan
terbaik dalam hidup. Pendidikanku selama ini, pilihan pekerjaanku, karirku,
hingga ketika memutuskan untuk menikah dulu.
Memikirkan semua itu, kotak pandora
di atas lemari ruang kerjaku semakin menggoda dan mengundang. Harihariku
dipenuhi oleh pikiran membuka kotak itu. Menemukan sosok kedua yang keluar dari
kotak milik Epimetheus itu. Membayangkan kebahagiaan yang akan kudapat.
Entahlah, mungkin aku bisa menyelinap masuk ke dalam kotak, dan lari dari semua
kenyataan hidup yang kumiliki. Aku hanya ingin sekali saja dalam kehidupan ini
melakukan sesuatu yang benar-benar ingin kulakukan, membuka kotak itu, apapun
resikonya.
Maka setiap pagi aku meneguhkan
diri, besok aku akan melihatnya, besok aku akan melihatnya, besok aku pasti
akan mengintipnya.
Dan malam itu, hujan deras membasahi
kota kami. Jam peninggalan jaman Belanda itu berdentang sembilan kali. Hatiku
bulat sudah. Aku akan membuka kotak itu. Apapun akibat yang harus kutanggung.
Lampu ruangan kumatikan, daun pintu
kukunci dua kali, termasuk dua selongsong pengunci atas-bawah. Sekarang aku
memegang sepucuk senter mungil. Kilat menyambar membuat ruangan ini dalam
beberapa kejap cukup terang berkali-kali.
Berjinjit aku menarik kursi ke dekat
lemari. Kulepas sepatu menyisakan kaus kaki. Mantap sudah aku menaiki kursi
itu, berdiri menyibak tumpukan dokumen yang menghalangi. Kotak itu bersinar
teramat indah. Panca indraku merinding merasakan pesonanya.
Gemetar tanganku menyentuh
permukaannya. Mataku terpejam merasakan seluruh kerinduan yang tertumpah.
Tidak. Tidak ada sesuatu yang harus ditakutkan dengan kotak ini. Ibuku pasti
berbohong. Lihatlah bagaimana mungkin barang seindah ini akan membawa
penderitaan?
Jemariku sudah memegang pengait
besinya. Hidup hanya sekali, dan aku lelah dengan kepengecutanku mengambil
keputusan. Pengait itu berkelotak pelan saat di tarik. Aku tersenyum pahit,
ternyata hanya pengait sekecil ini yang menjadi penghalang dengan
pilihan-pilihan terbaik yang pernah ada di depanku. Dan qi sera-sera, bersamaan
dengan suara guntur menggelegar di langit, kusingkap pelahan kotak itu.
***
Sofia berusaha mengelap airmatanya,
si bungsu dari kemarin tergolek lemah di atas tempat tidur, demam. Ia menaruh
handuk dingin di kepala anaknya, hati-hati. Membelai lembut pipi yang sekarang
terasa panas. Tadi siang sebuah paket terhantarkan di depan pintu, paket yang
aneh.
“Ma, Tania haus!”
Gadis kecil itu pelahan membuka
matanya, berseru lemah menyadarkan lamunan ibunya. Tersenyum tanpa daya Sofia
mengulurkan segelas air yang dari semalam tidak tersentuh. Tania batuk pelan,
coba menelan. Ibunya ber-hss, menenangkan. Kedua anaknya yang lain tepekur di
sekeliling ruangan.
“Ma, papa kok nggak pulang-pulang!”
Gadis kecilnya bertanya pelan lagi, dengan tatapan penuh kerinduan
Selarik kepedihan menerobos di
kerongkongan Sofia. Suaranya hilang sebelum tiba di bibirnya. Sebutir air mata
jatuh menggelinding, tidak berkelotakan, tapi cukup untuk membunuh seketika
kesunyian pagi.
Nak, apakah ada yang pernah berpikir
hidup ini bukan soal pilihan, karena jika hidup hanya sebatas soal pilihan,
bagaimana caranya kau akan melanjutkan hidupmu, jika ternyata kau adalah
pilihan kedua atau berikutnya bagi orang pilihan pertamamu.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar