MMSPH
9: Cinta Zooplankton
oleh Darwis Tere Liye pada 07 September 2011 jam 9:27
CINTA ZOOPLANKTON!
“Ayu, kamu tuh pernah nyadar nggak,
sih? Sekali saja seumur hidup lu! Please. Topan itu Hiu! Ibarat piramida
makanan, Topan itu ada di puncaknya. Sedangkan lu persis berada di strata terbawah
rantai makanan tersebut. “ Aku berseru jengkel. Melempar sapu-tangan.
“Sudah berapa banyak coba cewek lain
yang dipermainkan cinta gombal Topan. Dia emang ganteng! Pandai sekali bicara.
Romantis. Apa yang lu bilang? Dia tipe cowok yang sempurna. Itu benar. Tapi,
aduh, kalau lu mau sedikit berpikir waras, lihatlah! Semua kehebatan
Topan yang lu sebut-sebut mirip banget dengan tabiat playboy kelas
internasional! Lu cuma jadi mangsa isengnya doang!” Aku menatap setengah
prihatin, setengah sebal, setengah kasihan (eh, totalnya jadi satu setengah ya?
Harusnya sepertiga prihatin, sepertiga sebal dan sepertiga kasihan, hihi!).
Ayu masih menangis pelan di
hadapanku. Sedih nian mendengar ceramahku (apalagi di bagian yang bilang-bilang
perangai buruk Topan). Ayu menyeka ujung-ujung matanya dengan sapu
tangan. Tertunduk.
“Coba lu hitung! Ini untuk berapa
kalinya Topan nyakitin lu? Minggu lalu lu harus nunggu dia dua jam. Dia nggak
datang. Dua minggu lalu dia juga bikin lu nunggu dua jam. Dia nggak datang!
Juga minggu-minggu lalu. Apa alasannya? Lupa! Ada keperluan keluarga. Kakinya
bisulan. Inilah! Itulah! Ampun, lu mudah banget menerima permintaan maafnya.
Mudah banget mengangguk menerima penjelasannya. Anak kecil saja nggak segitunya
kalau lagi ditipu Ibunya biar nggak ikut pergi, mereka pasti protes, pasti
merajuk! Lu? Sempurna menerima, lantas terkulai lemah tak berdaya penuh
penghargaan saat Topan lembut mendekap bahu lu! Bah!” Ceramahku semakin
panjang.
Ayu tertunduk semakin dalam.
“Cukup! Cukup sampai malam ini saja
lu nangis buat dia. Hapus air-mata lu. Lu pikir setelah berkali-kali nyakitin
lu, terus balik lagi, nyakitin lu lagi, balik lagi, dan seterusnya, semua ini
akan berakhir baik seperti yang lu bayangkan? NGGAK! Gw udah bosan lihat
lu seperti ini. Lu pikir Topan sekarang lagi sibuk mikirin lu di saat lu sibuk
nangisin dia? NGGAK! Lu lihat sendiri tadi, dia asyik berduaan dengan cewek
lain di kafe town-square! Lu lihat dengan mata-kepala lu sendiri. Itu
bukan gosip seperti yang lu yakini selama ini. Itu nyata! Topan mempermainkan
lu. Jadi cukup! Nih, HP gw, telepon Topan sekarang! Teriak, KITA PUTUS,
PENJAHAT!” Aku yang macam ketel air berdengking tanda kelewat panas di atas
kompor, melempar HP ke Ayu.
Ayu lemah mengambil HP yang
tergeletak di sela-sela bantal. Mengangkat kepalanya. Menatapku. Aku mengangguk
meyakinkannya. “Hidupkan loudspeaker-nya! Gw pengin dengar suara
penjahat itu!” Aku mendesis. Menyemangati.
Ayu menggigit bibir. Setelah sejenak
tertunduk lagi, bergetar tangannya menekan nomor telepon Topan.
Aku menyeringai, akhirnya Ayu
berani juga!
“Maaf, sisa pulsa Anda tidak cukup
untuk melakukan panggilan ini. Harap lakukan isi-ulang. Tut! Tut! Tut!”
Bengong! Ayu menatapku kosong.
Mukaku memerah.
***
Terlepas dari urusan sisa pulsa
HP-ku, sepanjang minggu ini Ayu tetap tidak berhasil menghubungi Topan.
Tepatnya ia kembali ragu. Kembali berpikir ulang. “Aku harap dia akan
berubah, Dian….” Berkata pendek, menyela ceramahku di hari lainnya. “Semua
orang pasti berubah, kan?” Berkata pendek lagi. “Dia pasti akan
meneleponku, menjelaskan siapa cewek itu, paling hanya saudaranya!”
Tertunduk.
Dan di antara banyak dugaan Ayu yang
keliru, Ayu memang benar soal Topan pasti akan meneleponnya. Malam itu, Topan
dengan suara khas menyebalkan mengajak bertemu. Janjian makan malam. “Kita akan
makan di tempat pertama kali dulu aku mengenalmu, yang!” Dan Ayu
langsung terkapar KO mendengar buncah romantisme tepu-tepu Topan.
Sama sekali tidak memedulikan aku yang menyarankannya menolak ajakan gombal
tersebut.
Ayu malah berseru senang menatapku.
“Lihat, kan! Akhirnya Topan akan menjelaskan banyak hal!” Ya ampun! Ayu
persis seperti anak kecil yang ngotot banget ingin ikut Ibunya ke pasar, dan
sedikit pun nggak nyadar kalau sudah ditipu. Hanya dikasih permen,
terdiam, sementara Ibunya sudah ngabur ke pasar.
“Gw harap lu malam ini sempat
bertanya tentang siapa cewek di kafe town-square itu! Gw harap di
tengah-tengah lu mabuk akan kalimat gombal Topan, lu sempat meminta
penjelasan….” Aku menatap datar Ayu, melepasnya di depan pintu kostan. Ayu
hanya tersenyum. Entah mendengarkan atau tidak pesan-pesanku.
Tapi bagaimanalah Ayu akan ingat
pesan itu? Sempurna makan malam mereka seperti kencan-kencan hebat mereka
sebelumnya. Topan melayani Ayu bak Putri Kerajaan. Mencium lembut punggung
tangan Ayu. Menarikkan kursi buat Ayu. Menuangkan minuman buat Ayu. Mengiriskan
steak buat Ayu. Lantas menatap Ayu seperti satu-satunya kekasih
dunia-akheratnya. Seperti Ayu satu-satunya cewek di dunia ini. Jadi
bagaimanalah Ayu akan ingat semua dusta dan sakit hati itu?
Ayu malam itu merasa wanita paling
beruntung se-dunia. Bisa mendapatkan Topan yang ganteng dan segalanya. Jadi apa
pula gunanya bertanya tentang cewek yang dilihatnya bersama Topan minggu lalu.
Hanya merusak kebersamaan mereka yang indah. Kebersamaan mereka yang
menyenangkan.
Hanya saja, malam itu urusan tidak
berjalan normal seperti lazimnya, di tengah-tengah kalimat bermajas tinggi
Topan, di tengah-tengah belaian lembut tangannya, cewek yang dilihat Ayu minggu
lalu bersamanya menyeruak masuk ke restoran. Dan amat marahlah cewek itu saat
melihat Topan sedang memegang mesra tangan Ayu. Berteriak tanpa tedeng
aling-aling, “Dasar penjahat! BAJINGAN!!” Cewek itu memang tidak seperti Ayu
yang mudah sekali mengalah. Cewek itu marah, malah berani menampar Topan
sebelum pergi.
Lengang. Restoran itu menjadi
lengang.
Wajah-wajah yang tertoleh. Topan
yang memerah sambil memegangi pipinya. Pelayan yang terhenti mengantarkan
makanan. Dan Ayu yang membeku di kursinya. Semua itu sungguh benar. Itu bukan
gosip. Hei! Ia bahkan selama ini tahu sekali semua itu sungguh benar….
***
“Aku…. Aku memang sering menyakitimu
selama ini, yang…. Aku memang sering berbohong!” Lemah suara Topan
memecah kesunyian. Tertunduk. Hilang sudah wajah tampan itu, berganti wajah
memelas.
“Aku memang playboy, yang!
Aku memang penjahat!” Suara Topan semakin tertahan.
Ayu mengelap ujung-ujung matanya.
Menatap lamat-lamat Topan yang
tertunduk.
“Kau tidak tahu betapa
menyakitkannya menjadi playboy. Menjadi penjahat…. Aku dari dulu
ingin sekali menghilangkan tabiat buruk itu…. Ingin sekali mengenyahkannya,
tapi tidak bisa…. Aku sungguh tidak bisa. Itu seperti penyakit, seperti
ketergantungan,” Topan mengangkat wajahnya. Lihatlah, wajah itu terlihat sendu,
penuh penyesalan.
“Setiap kali aku
mengkhianatimu, setiap kali tidak menepati janji-janji kita, setiap kali
membuatmu menunggu, aku selalu merasa sakit di hati! Sakiiiit. Aku sungguh
tidak ingin melakukannya, tapi aku tidak bisa! Tidak bisa, yang! Seperti
malam ini, aku sakit sekali melihat kau yang menatapku marah, menatapku tidak
percaya…. Benar aku memang playboy, aku memang penjahat, bajingan….”
Ayu menatap lemah wajah
Topan.
“Andaikata ada wanita yang mau
menemaniku melalui masa-masa buruk ini…. Menemaniku menyembuhkan tabiat buruk
ini…. Membantukan mengenyahkan penyakit ini….”
Ayu semakin lemah menatap
wajah Topan.
“Andaikata kau yang amat kucintai
mau menemaniku memperbaiki diri, merubah kelakuan buruk itu….”
Ya ampun! Ayu sudah buru-buru
mengangguk. Menggenggam jemari Topan kencang-kencang. Tersenyum penuh
penghargaan.
***
Sayangnya, apa yang aku bilang
benar. Apa yang diketahui Ayu selama ini juga benar. Hal buruk terjadi lagi.
Sebulan kemudian setelah percakapan hebat itu, Ayu kembali menangis. Kali ini
Topan tega nian lalai menepati janji malam-minggu mereka. Membuatnya menunggu
berjam-jam di depan town-square. Yang ditunggu malah asyik berjalan
berduaan dengan gebetan baru. Aku yang melihatnya tak sengaja di taman-kota
melaporkan ke Ayu larut malam.
“Lu tuh hanya zooplankton, Ayu!
Lihat ini, zooplankton di makan oleh ikan kecil, ikan kecil dimakan ikan
sedang, ikan sedang dimakan ikan besar, dan ikan besar akhirnya dimakan oleh
Hiu! Lu persis berada di strata terbawah piramida makanan!” Aku mendesis,
sekali lagi membawa keahlian teknisku sebagai peneliti di marine-biologist
center.
“Dia pasti berubah….” Ayu berkata
lemah.
“Berubah dari Hongkong!” Aku
menjawab galak, “Kalau Topan akhirnya kapok dan benar-benar berubah, gw
bersumpah akhirnya akan pacaran dengan cowok!”
Ayu menyeringai, kalau demikian itu
sumpah yang serius. Ayu tahu sekali aku seumur-umur hidup membenci cowok. Ah,
pertemananku dengan Ayu memang ganjil. Ayu sepanjang umurnya hanya dipermainkan
buaya darat, aku sepanjang usiaku sibuk memasang perangkap lima lapis agar tak
satu pun buaya mendekat. Saking membencinya.
Dulu pertemanan geng cewek kami
berjumlah enam. Empat teman lainnya sudah sejak dua tahun silam pindah
satu-persatu. Menikah. Ada yang ikut suaminya. Ada yang pindah karena urusan
pekerjaan. Tinggallah aku dan Ayu berdua dengan masalah masing-masing.
Terus-terang, malas sekali
aku harus menemani Ayu yang kembali menangis, kembali bersedih. Lantas seminggu
kemudian terlihat riang lagi. Bersemangat lagi. Begitu saja hampir setahun
terakhir ini. Naik-turun. Kalau ada istilah cukup satu kali kehilangan tongkat
untuk orang-orang yang membuat kesalahan, maka Ayu sungguh cewek terbodoh yang
pernah ada di dunia. Lah, tongkat yang dihilangkannya sudah bisa dibuat pagar
sepanjang satu kilo, saking tidak kapok-kapoknya ia dipermainkan Topan. Bagiku
urusan ini amat sederhana, lebih baik sendiri selamanya dibandingkan sibuk mencoba
memahami cowok-cowok sialan tersebut.
Di penghujung tahun, aku mendadak
dipindah-tugaskan ke Kepulauan Natuna. Pindah. Setelah hampir enam tahun
kebersamaan kami. Empat tahun masa-masa kuliah. Dua tahun setelah sibuk
merintis karir masing-masing.
“Gw harap lu akhirnya realized
sesuatu, sebelum semuanya terlambat, my best friend!” Aku memeluk erat
Ayu di lobby keberangkatan bandara. Menatap lembut.
“Dia akan berubah…. Topan pasti
berubah!” Ayu berbisik lemah, membalas pelukan.
Aku hanya tertawa pelan.
“Lu selalu bisa kontak gw. Lewat
telepon, email, atau apalah. Lu bisa selalu curhat ke gw, meski gw selama ini
bete-nya minta ampun dengar curhat lu yang itu-itu doang!” Aku mencoba
bergurau, tersenyum.
Ayu mengangguk. Melepas pelukan.
“Gw harap lu juga menemukan
seseorang di sana! Menemukan pasangan hidup….” Ayu berkata pelan.
Aku tertawa lebih lebar. Nyengir. No
way! Bagiku cowok selalu menyebalkan. Dulu iya, sekarang juga masih. Entah
itu dimana saja. Termasuk di Natuna, kepulauan terpencil di ujung Nusantara
sana. Lebih baik aku pacaran dengan flora-fauna lautan. Setidaknya penyu
hijau jauh lebih setia dibandingkan Topan dan cowok bajingan lainnya!
Pagi itu, untuk terakhir kalinya aku
bertemu dengan Ayu. Juga untuk terakhir kalinya kami berbincang-bincang tentang
Topan. Entah kenapa sejak kepindahanku ke Kepulauan Natuna, Ayu benar-benar
tidak lagi membicarakan soal Topan. Enam bulan pertama kami masih sering
berhubungan via email, tapi Ayu sedikit pun tidak menyinggung tentang
Topan. Lepas enam bulan itu, sempurna kami kehilangan kontak. Entahlah, mungkin
Ayu sudah jauh-jauh hari merelakan kepergian Topan, begitu aku membenak.
Jadi Ayu merasa tidak perlu lagi curhat kepadaku. Keluhan yang seperti kaset
tua tak-bosan diputar berulang-ulang.
Mungkin Ayu akhirnya menyadari cinta
zooplankton-nya terlalu suci buat Hiu yang galak dan ganas. Tahukah kalian?
Meski zooplankton itu tergolong hewan, mereka tidak pernah memangsa mahkluk
hidup lainnya. Merekalah satu-satunya hewan di dunia yang tidak membunuh
mahkluk lain untuk urusan isi perut, bahkan rumput laut pun tidak. Zooplankton
sempurna makan dari hasil fotosintesis matahari. Kemudian memasrahkan diri dimakan
oleh ikan-ikan kecil. Zooplankton selalu setia sampai kapan pun menjadi rantai
terbawa dalam piramida makanan.
Tetapi dalam urusan cinta ini, tidak
seharusnya Ayu menjadi zooplankton-nya Topan. Teman dekatku itu terlalu
baik untuk Topan, sang Hiu. Terlalu polos memandang sebuah cinta. Selalu
menerima apa-adanya. Ayu sejak dulu selalu meyakini dan berharap cinta yang ia
miliki cukup untuk memperbaiki banyak hal, merubah banyak tabiat buruk.
Padahal, cinta zooplankton Ayu sama sekali tidak cukup untuk Topan, sang
penguasa rantai makanan.
***
Tanpa terasa sempurna dua tahun
berlalu.
Pesawat yang membawaku kembali dari
Kepulauan Natuna mendarat mulus di bandara ibukota. Setelah terbenam lama
dengan seluruh penelitian di dasar lautan, aku dapat jatah cuti sebulan. Minggu
lalu, aku juga akhirnya berhasil menghubungi Ayu. Kangen.
“Sibuk, Dian! Gw lagi sibuk banget
belakangan. Tapi aku pasti menyempatkan diri menjemput lu! Pasti! Meski itu hal
terakhir yang harus gw lakukan di dunia ini….” Ayu bergurau di ujung pesawat
telepon sana.
Terdengar amat riang.
Aku ikut tersenyum, sambil memandang
sunset di atas marine-biologist center Kepulauan Natuna yang persis
berada di tengah-tengah lautan. Ah, kalau mendengar intonasi suara Ayu, itu
pertanda setidaknya teman terbaikku sedang bahagia. Mungkin Ayu sedang bahagia
dengan kesibukan barunya. Aku urung bertanya apa kesibukan barunya sekarang.
Hanya bilang jadwal kedatanganku. Kemudian menutup pembicaraan. Lihatlah,
matahari perlahan tenggelam di kaki cakrawala. Membuat gumpalan awan putih
terlihat memerah.
Indah. Memesona.
Tentang Topan, sang playboy
yang singgah dalam kehidupannya pasti sudah lama tertinggal. Sudah selesai.
Mungkin akhirnya Ayu menyadari buat apa ia bersikukuh?
Tidak akan pernah Topan
berubah. Kalau itu terjadi, berarti dunia sudah terbolak-balik. Itu berarti aku
juga harus segera menarik kesimpulanku tentang lelaki selama ini. Menebus
sumpah untuk pacaran. Pacaran? Aku mendengus. Itu tidak akan pernah terjadi.
Mengusap wajah. Tersenyum getir. Permukaan air laut yang menjingga, memantulkan
siluet keren ke seluruh bangunan modern pusat-penelitian kelautan.
Benar-benar pemandangan yang hebat.
Tetapi itu hanyalah pemandangan yang
hebat seminggu lalu, saat aku menelepon Ayu mengabarkan kepulangan. Pagi ini,
aku yang berdiri persis di lobi kedatangan bandara benar-benar melihat
pemandangan yang jauh lebih hebat.
Ya Tuhan? Apa maksudnya?
Lihatlah, Ayu tengah repot
menggendong bayi berumur satu tahun. Juga Topan? Ya ampun? To-pan? Aku mendesis
tidak percaya. Apa tidak salah lihat. Mengusap mata. Benar! Topan sedang
menggendong salah satu bayi kembar mereka.
“Selamat datang, my best friend!”
Ayu berseru menyambut.
Tersenyum amat riang. Berkata amat
riang. Lihatlah, wajah Ayu terlihat bercahaya oleh kebahagiaan. Topan? Topan
juga tersenyum amat riangnya, tak-kalah senangnya menyambut.
“Sorry, dulu nggak sempat
ngabarin nikahnya…. Gimana mau sempat. Gw kehilangan seluruh nomor kontak lu
setelah pindah kost-an baru. Bete tinggal di kostan lama setelah lu pindah ke
Natuna. Sepi! Jadi gw pindah…. Ah-ya, ini anak kembar gw…. Yang ini namanya,
eh, namanya Dian… Gw sama Topan sepakat pakai nama lu, nggak pa-pa, kan?
Yang satu namanya Dina….” Buncah Ayu menjelaskan banyak hal.
Sementara aku menatap ekspresi
keluarga kecil mereka dengan tatapan kosong. Tidak percaya. Mereka menikah?
“Ayo Dian, cayang, itu
Tante Dian! Teman terbaik Mama. Aduh, akhirnya lu menghubungi gw…. Gw suddah
lama banget nyari kontak ke pusat penelitian itu. Kangen sama lu…. Ah-ya, gw
sibuk belakangan…. Sibuk ngurusin anak-anak. Lu terlihat semakin cantik,
semakin ramping, Dian…. Sudah punya pacar, belum?”
Ayu dan Topan tertawa bareng.
Ya Tuhan? Aku membeku, sama sekali
tidak mendengar pertanyaan bergurau Ayu barusan…. Mereka sudah
menikah? Mereka malah sudah punya dua anak kembar yang ampun sungguh
menggemaskan. Aku gemetar ingin menggendong Dian. Anak kecil itu
menggeliat dalam pelukan Ayu, tersenyum lebar ke arahku. Aduh, lutuna!
“Kalian…. Kalian menikah?” Hanya itu
sepotong kalimat yang keluar dari mulutku lima menit kemudian.
“Tentu saja! Lah, ini anak siapa
lagi?” Ayu tertawa. Menyerahkan Dian ke tanganku yang terjulur.
“Maksudku…. Maksudku…. Bukankah
Topan….” Aku ragu-ragu melirik Topan. Dian dalam pelukanku jahil menarik
syal. Menyeringai menggemaskan.
“Topan sudah berubah!” Ayu
tersenyum.
“Bagaimana mungkin?” Aku bahkan
tidak menyadari kalau seruanku barusan sama sekali tidak sopan.
“Aku keliru….” Topan yang
menjawab, tersenyum lebar kepadaku, “Aku benar-benar menyia-nyiakan cinta Ayu
selama ini…. Kau tahu, saat aku akhirnya menyadari betapa besar cintanya, saat
itu aku merasa malu sekali….”
Maka berceritalah Topan. Sebulan
setelah kepergianku, terjadilah pertengkaran mereka. Pertengkaran yang hebat.
Sekali ini Ayu benar-benar tersakiti oleh tabiat Topan. Tega Topan berteriak
kalau Ayu hanya “pacar transisi” baginya. Hanya singgah sebentar sebelum
mendapatkan cewek lainnya. Transit. Tidak lebih. Tidak kurang. Benar-benar
pembicaraan yang menyakitkan. Ayu tersungkur. Kesedihan mendalam. Bahkan hampir
memutuskan untuk pergi melupakan Topan.
Tiga bulan berlalu, entah apa
pasalnya, Topan sang playboy kelas internasional tertimpa musibah
berkali-kali. Mungkin karma dari kelakuannya. Topan jatuh sakit berkepanjangan.
Sakit yang serius, bahkan nyaris membunuhnya. Tubuh Topan berubah kurus-kering
menyedihkan, wajahnya yang tampan tinggal muka tirus kehilangan cahaya. Dan itu
belum cukup, Topan juga kehilangan pekerjaan, kehilangan seluruh materi
untuk mengobati sakitnya.
Enam bulan terbaring lemah di rumah
sakit, tidak ada satupun gadis-gadis itu yang mengunjunginya. Hanya Ayu. Ayu
yang akhirnya tetap yakin, suatu saat Hiu-nya pasti berubah. Ayu yang tetap
yakin, cinta yang dimilikinya lebih dari cukup untuk merubah tabiat Topan.
Siang-malam Ayu merawat Topan dengan telaten. Merawat dengan penuh
kasih-sayang. Merawat tanpa mengharapkan pamrih apapun.
“Malam itu, hampir pukul 02.00, aku
terbangun…. Dengan nafas sesak, dengan tubuh sakit…. Sudah lebih tiga bulan aku
terbaring tak berdaya di atas ranjang…. Kau tahu, malam itu aku bagai melihat
seorang bidadari…. Sungguh! Bagai melihat malaikat cantik yang dikirimkan Tuhan
kepadaku!” Topan meneruskan cerita sambil menyeka ujung matanya, memeluk mesra
Ayu yang berdiri di sebelah.
“Malaikat cinta itu adalah Ayu yang
tertidur…. Ayu yang tertidur di sisiku. Kepalanya ada di atas ranjang. Duduk di
kursi plastik. Tangannya menggenggam tanganku…. Ya Tuhan, malam itu aku malu
sekali…. Melihat wajah Ayu yang bercahaya oleh cinta…. Bercahaya oleh
kesabaran…. Menungguiku siang-malam tanpa lelah…. Ya Tuhan, aku malu sekali….”
Topan sekarang benar-benar menyeka ujung matanya. Terharu mengenang kejadian
tersebut.
“Sudahlah, tidak usah dibicarakan
lagi, yang!” Ayu mendekap mesra, berusaha mengambil bayi kembar dari
gendongan Topan (yang sekarang terlihat amat repot. Gimana nggak? Topan sibuk
mengendalikan harunya sambil menggendong bayi mereka).
“Sejak malam itu aku baru menyadari
betapa keliru aku menterjemahkan cinta-polos Ayu, cinta-tanpa-berharap
darinya….” Topan berkata dengan suara tertahan. Menatap lembut wajah
Ayu. Begitu menghargai….
Entahlah! Aku sudah tidak
mendengarkan lagi ujung kalimat Topan. Otakku mendadak dipenuhi berbagai hal.
Ya ampun? Lihatlah mereka. Ternyata aku juga keliru selama ini…. Tentu saja
semua orang bisa berubah. Tentu saja cinta yang besar bisa menjadi energi untuk
membuat perubahan tersebut. Sumpah itu? Apakah aku akan menarik
pemahamanku selama ini? Aku mendesis pelan dalam hati.
Lihatlah, jika demikian adanya, maka
hanya aku di antara teman-teman geng cewek kami dulu yang belum menikah…. Hanya
tersisa aku…. Sendiri….
“Mari zooplankton kecilku,
nggak mungkin kita membuat Dian berdiri lama di sini setelah perjalanan
panjangnya, kan….” Topan mendekap mesra istrinya.
Membantu mendorong trolley-ku.
Aku bengong. Hei? Apa barusan.
“Ah-ya, lu belum tahu, Topan
sekarang memanggilku dengan zooplankton kecil. Dan gw memanggilnya
dengan sebutan Hiu besar!” Ayu yang menjelaskan. Tertawa renyah.
Bah? Aku benar-benar terperangah!
Lantas aku apa? Cillean Filleta?
Mahkluk yang tidak memerlukan pasangan untuk be-reproduksi selama hidupnya?
Mahkluk yang ditakdirkan jomblo sepanjang usianya? Hiks!
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar