MMSPH
13: LOVE Ver 7.0 & Married Ver 9.0
oleh Darwis Tere Liye pada 10 September 2011 jam 8:07
LOVE Ver 7.0 & MARRIED Ver 9.0
Catatan: Anda sebaiknya sudah membaca Cintanometer dalam MMsPH
1
Di kota kami, walau terletak persis
di tengah-tengah gurun pasir maha luas, hujan bukanlah barang langka. Jika
penduduk kota ingin merasakan hujan, maka tinggal bilang ke balai kota. Seperti
kemarin, anak tetangga sebelah rumah, rindu berat berlari-lari di atas gelimang
lumpur, di bawah atap langit yang mencurahkan beribu-ribu bulir air kesegaran.
Maka orang tuanya segera memesan hujan. Selang dua belas menit kemudian awan
hitam datang berarak, guntur dan petir sambar menyambar, tak lama turunlah
hujan sesuai pesanan.
Jangan salah sangka dulu, kota kami
memang terpencil jauh dari seluruh penjuru dunia, tetapi bukan berarti penduduk
kota kami lebih primitif dibandingkan kalian. Kami tidak memanggil hujan lewat
dukun-dukun, nyanyian-nyanyian, apalagi sesembahan tak berguna itu, sebaliknya
kami memanggil hujan dengan teknologi tingkat tinggi. Maju sekali, malah jauh
lebih maju dibandingkan dengan menerbangkan pesawat untuk menaburkan butiran
pembuat hujan di awan-awan yang biasa ilmuwan kalian lakukan.
Di sini banyak penemu. Yang terhebat
di seluruh dunia, malah. Jadi jangankan soal hujan, soal rumit lainnya, seperti
mobil terbang, rumah mengapung, lampu tenaga udara, pil anti lapar, suntikan
seribu-penyakit dan yang lebih sulit lainnya ada di sini. Dengan berbagai
penemuan hebat itu, kehidupan berjalan amat baik dan berkecukupan.
Tetapi suatu hari, dewan kota
mendadak mengadakan pertemuan. Benar-benar ada hal super-penting yang telah
terjadi, karena rapat ini adalah rapat mendadak untuk kedua kalinya
dalam lima ratus tahun terakhir.
Para tetua risau sekali tentang
sesuatu. Tentang mengapa angka pertumbuhan penduduk kota ini stagnan, bahkan
dua tahun belakangan justeru minus sekian persen. Jika trend pertumbuhan
penduduk tetap seperti itu, dikhawatirkan seratus hingga dua ratus tahun
mendatang, penduduk kota ini akan musnah.
Lama berdebat akhirnya ditemukan-lah
muasal permasalahan. Yaitu karena angka pernikahan anak-anak muda turun amat
tajam. Kenapa angka pernikahan anak-anak muda turun tajam? Karena mereka
terlalu takut menyatakan cinta? Cemas ditolak mentah-mentah? Dipermalukan?
Takut sakit hati? Ah, itu masalah lama, masalah yang keciiil. Sudah
lewat sepuluh tahun para ahli di kota kami memecahkan masalah tersebut dengan cintanometer.
Alat yang dianugerahi 100 Years of Great Discovery!
Kenapa angka pernikahan tetap turun
padahal sudah ada Cintanometer? Alat yang membuat kalian dengan mudah bisa
mengenali pasangan yang sedang mencintai kalian? Tetua ramai berdebat, saling
menyelak. Ternyata penyebabnya adalah gaya-hidup anak muda jaman sekarang. Hari
ini, apa mau dikata mereka adalah generasi yang terlalu sibuk. Berangkat
pagi-pagi, pulang malam hari. Bekerja tanpa lelah 60 hingga 70 jam per minggu.
Benar-benar pekerja keras. Tak banyak lagi waktu yang tersisa untuk pacaran,
apalagi untuk menikah.
Jadi meskipun cintanometer mereka
yang trendi tersangkut di kuping berkedip-kedip menandakan ada calon pasangan
yang jatuh-cinta ke mereka radius dua puluh meter, anak muda kota kami malas
sekali menanggapinya. Mereka sudah terlanjur disibukkan memikirkan tumpukan
berkas kerja di meja siang ini, janji meeting di gedung manalah, schedule
rapat dengan siapalah. Aduh! Pacaran itu hanya membuang waktu. Tidak ada
gunanya. Non-value added activity. Ada janji karir dan masa depan
cemerlang yang sedang mereka kejar. Pacaran itu jelas hanya untuk pengangguran,
atau pekerja kelas rendahan.
Celaka! Tetua kota kami sekarang
benar-benar geleng kepala. Kalau begini terus situasinya, kota kami yang hebat
akan menghadapi masalah serius. Tanpa adanya keluarga baru, tanpa adanya
bayi-bayi yang dilahirkan jumlah penduduk kota turun drastis. Buat apa mereka
punya teknologi terhebat di dunia jika tak ada anak-cucu yang mewarisi? Rusuh
tetua kota berdebat mencari solusi. Mereka berebut mempresentasikan
penemuan-penemuan canggih untuk mengatasi masalah ini. Bagaimana agar anak-muda
itu tetap bisa pacaran dan kemudian menikah dengan segala keterbatasan waktu
mereka.
Akhirnya, menjelang malam solusinya
disepakati. Benar-benar hebat. Solusi yang dahsyat. Soal penemuan canggih
dan membuat geleng-kepala kota kami memang tak terkalahkan. Tetua kota
mengumumkan akan mengembangkan software yang akan dinamai: Love ver 7.0.
Seluruh penduduk kota yang sepanjang hari takjim menyimak perdebatan di balai
kota ramai bertepuk-tangan. Menakjubkan! Sungguh solusi yang praktis, efisien,
dan khas kota kami yang ultra-modern.
Apa itu Love ver 7.0? Ah, aku juga
tidak tahu persis seperti apa (sama waktu aku dulu bingung menjelaskan apa itu
Cintanometer!), tapi untuk lebih mudah memahaminya kalian bayangkan saja software
games. Kalian pasti pernah memainkan salah-satu game komputer,
bukan? Seperti Warcraft, Grand Theft Auto, The Sims, Winning Eleven, NBA,
Championship Manager, atau yang paling simpel seperti Tetris, Minesweeper,
Solitaire, Pinball, dan games kartu semacamnyalah. Nah, seperti itulah
Love ver 7.0.
Bedanya, software ini amat powerfull.
Super-canggih. Sempurna sudah menjadi foto-copy kehidupan dunia nyata
anak-muda di kota kami. Cara kerjanya? Begini, pertama-tama dibuatlah server
raksasa di tengah kota, lantas setiap komputer yang dimiliki anak-muda kota
kami dihubungkan ke server tersebut. Mereka akan memasukkan data pribadi ke
dalam permainan. Lengkap. Mulai dari bentuk fisik, seperti jumlah rambut alis
mata, jumlah rambut di betis, ukuran (maaf) tubuh tertentu, dan tentu saja
termasuk urusan tinggi, berat badan, dan warna kulit. Malah data fisik pribadi
itu termasuk DNA, tipe kromosom, siklus hormonal, kadar pheromon, getar arus listrik,
dan ampun aku sungguh tidak mengerti lagi. Pokoknya semua data fisik mereka.
Selain itu dimasukkan juga data
non-fisik mereka. Seperti tipe cewek atau cowok yang mereka idamkan, karakter
psikilogis, tingkat kecerdasan, preferensi, bahkan juga termasuk tingkat
kecemasan, keragu-raguan, agresivitas dan sebagainya. Seluruh informasi ini
langsung di-foto-copy dari otak dan seluruh tubuh yang menyimpan data
tersebut, jadi mustahil keliru, dan selalu di-update setiap hari secara
otomatis.
Nah, setelah semua data anak-muda di
kota kami telah di upload ke dalam sistem Love ver 7.0 maka dimulailah games
hebat tersebut. Anak-muda itu tidak perlu memainkannya, tidak perlu menekan
tombol mouse atau menggerakkan stick. Tidak perlu ada di depan
komputer masing-masing. Semua itu tidak perlu. Apa yang kubilang tadi? Love ver
7.0 sempurna foto-copy kehidupan anak-muda kota kami. Jadi
karakter-karakter dalam games itulah yang bermain. Karakter-karakter itu
sempurna seperti menjalani kehidupan yang sama dengan yang aslinya, tetapi
terjadi di dunia maya. Di dalam komputer. Mirip benar dengan apa yang terjadi
paralel di dunia nyata. Tugas karakter foto-copy di Love ver 7.0 hanya
satu, mencari jodoh!
Wow, maka kalau kalian berkesempatan
berkunjung ke pusat server Love ver 7.0 di kota kami, maka kalian akan melihat
tadi pagi ManoWolvie yang sedang menggoda Laila di perempatan jalan utama. Atau
Filean yang sedang malu-malu mengirimkan surat cinta ke Jesheila di depan balai
kota. Kalian sempurna bisa menonton seluruh adegan romantis tersebut. Yang
tentu saja ManoWolvie, Laila, Filean atau Jesheila yang asli sedang sibuk
dengan pekerjaan masing-masing di kantor. Malah boleh jadi yang aslinya sedang
bertengkar karena urusan bisnis dan pekerjaan.
Di malam hari, anak-muda kota kami
bisa melihat progress pacaran mereka di dalam komputer masing-masing.
Bukan main, mereka bisa melihat kisah percintaan mereka hari ini sambil ngemil
sekantong kentang goreng. Karena karakter dalam games tersebut sempurna ter-foto-copy,
maka seluruh adegan romantis dalam Love ver 7.0 benar adanya. Itulah yang akan
terjadi di dunia nyata kalau anak-muda kami punya waktu melakukannya. Games
itu bertindak 99,99% persis seperti kehidupan nyatanya. Tidak mungkin
salah-lagi.
Maka sebulan setelah games tersebut dikeluarkan,
angka pacaran di kota kami melesat berkali-kali lipat. Kehidupan romantisme
penuh bunga indah dan kata memesona tumbuh bak jamur di musim hujan. Tidak di
dunia nyata memang, tapi ada di dalam server Love ver 7.0. Peduli apa? Itu sama
saja dengan di dunia nyata. Itulah gunanya teknologi.
Saat anak-muda kota kami merasa
progress percintaan mereka di games tersebut sudah di level 9. Ah-ya
Love ver 7.0 juga disertai data statistik yang menunjukkan seberapa dekat
tingkat keintiman mereka, kalau sudah di level 9 itu berarti level tertinggi,
dan mereka bisa memutuskan untuk bertatap muka langsung dengan pasangan virtual
masing-masing. Saat itulah, progress hubungan berkembang dan
diambil-alih oleh karakter dunia nyatanya.
Seperti hari ini, ManoWolvie bertemu
dengan Laila di Kafe Z di dekat perempatan utama kota.
“Kau hari ini cantik sekali,” Mano
tersenyum memuji.
“Ah, bukankah kau sudah berkali-kali
mengatakan itu?” Laila tersipu malu. Menatap Mano dengan mesra.
Bukankah mereka baru pertama kali
ini bertemu? Bagaimana mungkin Laila bilang Mano sudah berkali-kali
mengatakan itu? Ya, di dalam Love ver 7.0, yang mereka tonton selepas
pulang kerja. Di sana percintaan Mano-Laila romantis benar. Penuh kejadian
mengesankan. Tetapi kalau mengatakan kalimat itu secara langsung, Mano baru
hari ini melakukannya.
Maka ManoWolvie-Laila akan mengenang
bersama hari-hari yang mereka lalui dulu, tertawa bahak membicarakan
Mano yang memerah mukanya saat bilang cinta enam bulan silam, Laila yang
terjatuh di danau kota saat bercengkerama, Mano yang menumpahkan jus-jeruk di
kencan mereka yang kesekian, dan seterusnya, dan seterusnya. Benar-benar
seperti nyata, benar-benar seperti mereka melalui sendiri kejadian tersebut.
Lantas pembicaraan tatap-muka pacaran
level 9 itu akan di akhiri dengan kalimat hebat, “Maukah kau
menikahiku?” dari Mano yang sekarang berlutut menyerahkan cincin permata ke
Laila penuh pengharapan.
Laila tersipu malu, mukanya memerah,
kemudian mengangguk pelan. Ah, mereka sudah pacaran lebih dari enam
bulan. Level mereka sudah 9, jadi sudah saatnya menikah. Melanjutkan ke level
10. Mano sungguh pilihan yang sempurna. Komputer bilang begitu. Tingkat
kesesuaian mereka 99,99%. Jodoh sejati. Bayangkan dalam sekejap mereka langsung
jatuh-cinta (pada pandangan pertama dalam software hebat tersebut).
Mereka juga sudah pacaran dengan mesranya selama ini. Maka Laila malu-malu
menjulurkan tangannya. Mano memasangkan cincin permata.
Mereka resmi bertunangan.
Bukan main. Hebat! Tetua kota kami
ramai bersulang setahun kemudian. Pesta besar digelar di balai kota. Love ver
7.0 sukses luar-biasa. Cintanometer? Lupakan alat primitif itu! Sekarang
mereka memasuki era baru, ketika ada dua dunia yang berjalan secara paralel
sekaligus. Kehidupan nyata yang sibuk, dengan kehidupan indah di dalam sistem
komputer. Mereka bisa memadukannya dengan baik. Benar-benar temuan yang meningkatkan
produktivitas kerja. Buat apa lagi pacaran secara fisik jika Love ver 7.0 bisa
melakukannya berkali-kali lebih baik. Toh, tingkat kegagalan pernikahan setelah
melalui pacaran di dalam sistem hanya 0,001% saja?
Ditambah bonus, semua data pacaran
mereka tersimpan rapi di komputer pribadi masing-masing. Mana ada coba orang
yang pacaran di dunia memiliki rekaman komplit seluruh waktu kebersamaan indah
mereka? Ah, masalah krisis kependudukan kota kami dengan cepat segera
terselesaikan.
Beres! Bukan main.
***
Celaka, berbeda halnya dengan
Cintanometer yang tidak bisa dijahili, dirusak, atau bahasa kerennya di-hack.
Software Love ver 7.0 ternyata dengan mudah bisa dimodifikasi oleh hacker-hacker
jahil kota kami.
Awalnya mereka hanyalah
pemuda-pemuda yang sejak Cintanometer dulu keluar tetap tak-kunjung jua
mendapatkan jodoh. Cintanometer mereka dulu tidak berkedip sekalipun. Nah,
sekarang saat Love ver 7.0 launching, karakter maya mereka di dalam
komputer tetap tidak mendapatkan jodoh. Aduh, semakin keki-lah mereka. Siapa
pula coba yang hanya bisa menonton kosong, menatap cemburu adegan cinta seluruh
anak-muda kota kami yang sungguh romantis? Sedangkan dia sendiri, baik di dunia
nyata maupun maya tetap tak laku-laku jua. Aduh, kasihan sekali melihat mereka!
Maka gerombolan anak-muda yang tidak
kunjung laku itu mulai mengirimkan virus untuk meng-hack sistem Love ver
7.0. Mereka diam-diam mulai mengembangkan modifikasi canggih, mengotak-atik
server raksasa kota. Dua tahun berlalu, dan celakanya mereka berhasil.
Benar-benar berhasil menembus sistem sekuriti Love ver 7.0. Apa yang terjadi
kemudian? Sungguh tidak ada yang pernah bisa membayangkan Gerrard yang jelek
jerawatan bisa pacaran dengan Jasmine, kembang kota kami yang super cantik itu.
Apa daya Jasmine? Sistem itu bilang
kalau ia harus pacaran dengan Gerrard, kan? Kesalahannya hanya 0,001%, kan?
Maka terjadilah kekacauan di seluruh kota. Benar-benar semuanya terbolak-balik.
Karena hacker kota kami amat jahilnya juga merubah data pribadi
pesaing-pesaing cintanya selama ini. Menguranginya, menjelek-jelekkannya.
Lantas menambah data pribadi miliknya sendiri. Benar-benar tidak lucu lagi
kehidupan paralel dunia-maya kota kami tersebut enam bulan kemudian.
Beruntung sebelum Gerrard dan
Jasmine tiba di level 9, yang artinya mereka harus bertemu secara fisik dan
menikah, tetua kota berhasil menemukan anti-virus super. Yang dengan
cepat memberangus habis, worm, brontok, trojan, malware,
parasite, dan apalah namanya itu. Aduh, betapa sakit hatinya Gerrard saat
sistem itu di-install ulang. Saat malamnya dia sibuk menunggu dengan
hati berdebar-debar apakah kisah-cinta dunia maya-nya sudah level 9, ternyata
karakter dirinya kembali ke data aslinya. Jelek-jerawatan, cowok yang nggak
pernah laku-laku. Hiks!
Meranalah nasib Gerrard dan hacker
lainnya. Tapi siapa yang peduli dengan mereka? Anak-muda dan tetua kota lebih
peduli memperhatikan percintaan hebat di dalam games yang bahkan ditambahkan
banyak fitur baru tersebut. Maka selepas serangan hacker atas Love ver
7.0 tersebut, games tersebut bisa dibilang sempurna. Masih ada memang
satu-dua upaya cheating, satu-dua yang mencoba mematikan genset server,
satu-dua yang mencoba merusak hard-disk data, tapi sisanya oke. Perfect,
malah!
Penemu kota kami belakangan juga
meluncurkan alat-kendali versi mini. Persis seperti iPOD atau HP di jaman
batu kalian. Dengan alat itu, anak muda kota kami tidak perlu lagi membuka
komputer saat pulang kerja, mereka bisa menyimak langsung nasib percintaan
dunia-maya mereka kapan saja, di mana saja, dan sedang ngapain aja. Alat itu portable
dan trendi. Ditambah fitur upload data terkini dari mereka. Sekarang,
Love ver 7.0 sempurna sudah.
Jadi bisa segera dimaklumi ketika
seluruh penduduk kota mengusulkan: Love ver 7.0 harus dinobatkan sebagai
100 Years of Great Discovery! Menggantikan alat-cinta Cintanometer yang
sudah basi itu. Ini baru sesungguhnya penemuan canggih!
***
Tetapi tahukah kalian? Saat Love ver
7.0 diluncurkan dua tahun silam, salah satu tetua kota kami yang dari dulu
terkenal bijak dan berhati-hati atas segala penemuan, dengan suara lemah putus
asa berbicara, “Kita tidak seharusnya menemukan alat ini, tidak seharusnya….”
Mencoba menarik perhatian tetua lainnya yang sibuk berdebat.
“Tidak seperti cintanometer dulu,
alat ini akan membawa kita memasuki jaman yang benar-benar ganjil! Cinta urusan
langit, jadi bagaimana mungkin kita sekarang seperti Tuhan? Membuatkan
skenarionya? Membuatkan kisah-cintanya? Tidak peduli sehebat dan senyata apapun
skenario tersebut!”
Tetapi siapa yang peduli dengan
tetua kota itu? Tidak ada. Apalagi setelah tahun demi tahun berlalu. Games itu
terbukti efektif menyelesaikan masalah tidak ada waktu untuk pacaran
bagi anak-muda tersebut. Games itu jawaban yang hebat. Hei, ingat, dulu juga
tetua ini ribut soal Cintanometer. Omong-kosong, kecemasannya berlebihan. Tidak
ada bahayanya teknologi tersebut.
Sayang, ternyata tetua kota itu
benar!
Hanya soal waktu ketika akhirnya
masalah tidak punya waktu tersebut berkembang menjadi sesuatu yang lebih
serius. Bertahun-tahun berlalu, hari ini, anak muda kota kami bukan soal
pacaran saja tidak punya waktu, mereka ternyata juga tidak punya waktu untuk
menikah. Mereka benar-benar sibuk. Amat keterlaluan sibuknya. Bekerja 70-80 jam
per minggu. Malam pun mereka kerja. Dibekukan oleh janji dunia. Janji karir dan
kehormatan materi. Jadi meski Love ver 7.0 mengambil-alih kehidupan cinta
mereka, meski sudah berbulan-bulan hubungan cinta itu menyentuh level 9, mereka
malaaas sekali untuk bertemu secara fisik dan melanjutkan hubungan ke
level berikutnya, gerbang pernikahan.
Buat apa? Mereka lebih mementingkan
pekerjaan. Berkeluarga hanya menghabiskan waktu. Tidak terbayangkan harus jam
sekian sudah tiba di rumah, memeluk istri, mencium keningnya, besoknya harus
bangun pagi bersama, menyiapkan sarapan, bicara satu-sama lain penuh basa-basi,
harus berlibur bersama, dan seterusnya, dan seterusnya…. Aduh, mereka tidak
punya waktu untuk melakukan itu semua. Sungguh semua itu tidak produktif.
Maka tetua kota kami kembali rusuh
bersidang. Sibuk berdebat. Sibuk mengacungkan tangan untuk menjelaskan solusi
yang diusulkan. Benar-benar tidak ada yang memperhatikan tetua kota kami yang
sedari dulu sudah prihatin. Tidak ada. Semua ini harus dipecahkan dengan
teknologi yang lebih hebat. Menjelang malam, solusi yang disepakati akhirnya
ditemukan. Benar-benar luar-biasa.
Apa yang akan dilakukan tetua kota
kami? Mereka akan mengembangkan software tambahan. Games lanjutan dari
Love ver 7.0 tersebut. Sistem yang jauh lebih sophisticated, yang akan
memasukkan seluruh varian dalam kehidupan nyata. Yang akan menyelesaikan
masalah level 9 yang tidak pernah berlanjut di dunia nyata tersebut. Software
tambahan itu disebut dengan Married ver 9.0.
Wah! Wah! Wah! Seperti apa
bentuknya? Ramai penduduk kota bertanya. Dengan wajah antusias. Aku
sekali lagi bingung menjelaskannya kepada kalian. Pokoknya, persis seperti Love
ver 7.0. Bedanya sekarang anak-muda kami memiliki fitur untuk melakukan
pernikahan virtual di dalam sistem tersebut. Lengkap dengan ruangan
resepsinya. Pengiring pengantin. Live music. Akomodasi. Bulan madu.
Bahkan doa-doa spesial yang bisa di-setting sesuai aslinya di dunia
nyata. Wow!
Lihatlah foto di meja Esterina, itu
foto pernikahannya di Barbados dua minggu lalu. Benar-benar pesta pernikahan
yang mewah dan ramai. Seluruh kota hadir. Padahal persis di jam yang sama
pernikahan tersebut dilangsungkan, Esterina sedang sibuk berdiskusi tentang
sistem perbankan kota di kantornya.
Lihatlah! Bahagia sekali pernikahan
Esterina dengan Gading enam bulan terakhir! Mereka mesra saling memeluk sebelum
berangkat kerja. Bercengkerama setiap malam. Saling menelepon setiap satu jam.
Berlibur ke Swan Lake setiap dua bulan. Memiliki rumah kecil yang indah.
Benar-benar pasangan yang hebat. Meski semua itu hanya ada di dunia maya-nya.
Di dunia nyata? Esterina dan Gading
bahkan serumah pun tidak. Tapi peduli apa? Itu benar-benar akan terjadi kalau
mereka punya waktu untuk melakukannya. Sistem komputer itu sungguh foto-copy
yang sempurna. Sama sajalah apakah karakter dalam Married ver 9.0 atau mereka
di dunia nyata yang melakukannya.
Anak? Kota kami sudah mengembangkan
sistem bayi tabung sejak dua ratus tahun silam. Itu bukan masalah besar. Bahkan
Esterina tidak perlu mengandung secara langsung, bisa dititipkan dalam sistem
medis hebat kota kami. Sepanjang ia dan Gading memutuskan punya anak, maka
Rumah-Sakit kota yang seperti pabrik bersiap menerima pembuahan tidak langsung
tersebut.
Tetua kota bersulang riang di balai
kota. Ini benar-benar masa keemasan penemu di kota kami. Semua anak-muda
akhirnya sempat pacaran, sempat menikah meski dengan segala kesibukan yang
mereka miliki. Anak-anak kecil banyak dilahirkan, dibesarkan oleh sistem adopsi
teknologi yang hebat. Krisis kependudukan itu benar-benar sudah lewat.
Lupakan saja soal kosa-kata cinta
yang sejak Cintanometer ditemukan dulu sudah dihapus dari kamus. Lupakan itu
semua. Bahkan mereka sudah melupakan bagaimana sensasi membelai lembut pipi
pasangan mereka, menatap mesra wajah pasangan mereka, mencium keningnya.
Mereka sempurna lupa bagaimana
sesungguhnya proses percintaan tersebut? Bagaimana rasanya kebersamaan di Taman
Kota, kebersamaan di Danau Kota. Mereka hanya menonton seluruh adegan itu
sekarang! Menyimak, tanpa pernah terlibat melakukannya. Mereka benar-benar
kehilangan sensasi menunggu sang belahan-hati, rasa cemas menanti jawaban sang
pujaan, tersipu malu atas pujian, resah atas kalimat yang salah ucap,
antusiasme menatap wajahnya, merasa terlindungi bersandar di bahu bidangnya,
dan entahlah.
Mereka sudah lupa!
Apalagi kalau ditanya soal
sakit-hati? Bagaimana rasanya ditolak? Bagaimana rasanya ditinggalkan begitu
saja? Lupa! Lagipula itu semua tidak penting. Kalau ada yang bertanya apa itu
pacaran, tinggal jalankan sistem Love ver 7.0. Kalau ada yang bertanya soal
bagaimana rasanya menikah, tinggal jalankan sistem Married ver 9.0. Semuanya
lengkap ada di sana. Kalian bahkan bisa menyimak seluruh prosesnya.
Maka aku benar-benar muak saat untuk
kedua kalinya berkunjung ke kota itu seminggu lalu. Kali ini aku
benar-benar termangu di tengah pesta yang diadakan oleh tetua di balai kota.
Aku menjulurkan tangan, “Namaku Jun, pemuda dari negeri seberang, ingin mencari
pacar seorang gadis yang baik hati dan cantik. Adakah gadis seperti itu di
sini?” Mereka memandangku laksana melihat mahkluk dari planet terbodoh yang
pernah ada.
Ya ampun, dengan hati bingung aku
memutuskan pulang. Sungguh, aku lebih baik patah-hati seribu kali, tersakiti
berjuta-juta kali, merana bermilyar-milyar kali karena keabadian jombloku dari
pada harus menjalani kehidupan cinta seperti mereka. Rasa sakit hati itu indah.
Setidaknya patah-hati memberikan sensasi bahwa kita memang masih hidup.
Lagipula siapa bilang ditolak cinta itu tidak indah?
Itu indah, Bung! Pikirkanlah dari
sudut yang berbeda!
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar