MMSPH
2: Cintanometer
oleh Darwis Tere Liye pada 02 September 2011 jam 9:22
Cintanometer
Di kota kami, walau terletak persis
di tengahtengah gurun pasir maha luas, hujan bukanlah barang langka. Jika
penduduk kota ingin merasakan hujan, maka tinggal bilang ke balai kota. Seperti
kemarin, anak tetangga sebelah rumah, rindu berat berlari-lari di atas gelimang
lumpur, di bawah atap langit yang mencurahkan beribu-ribu bulir air kesegaran.
Maka orang tuanya segera memesan hujan. Selang dua belas menit kemudian, awan
hitam datang berarak, guntur dan petir sambar menyambar, tak lama turunlah
hujan sesuai pesanan.
Jangan salah sangka dulu, kota kami
memang terpencil jauh dari seluruh penjuru dunia, tetapi bukan berarti penduduk
kota kami lebih primitif dibandingkan kalian. Kami tidak memanggil hujan lewat
dukundukun, nyanyian-nyanyian, apalagi sesembahan tak berguna itu, sebaliknya
kami memanggil hujan dengan teknologi tingkat tinggi. Maju sekali, malah jauh
lebih maju dibandingkan dengan menerbangkan pesawat untuk menaburkan butiran
pembuat hujan di awan-awan yang biasa ilmuwan kalian lakukan.
Di sini banyak penemu. Yang terhebat
di seluruh dunia, malah. Jadi jangankan soal hujan, soal rumit lainnya, seperti
mobil terbang, rumah mengapung, lampu tenaga udara, pil anti lapar, suntikan
seribu penyakit dan yang lebih sulit lainnya ada di sini. Dengan berbagai penemuan
hebat itu, kehidupan berjalan amat baik dan berkecukupan.
Tetapi suatu hari, dewan kota
mendadak mengadakan pertemuan. Tentu ada hal super penting yang telah terjadi,
karena rapat ini adalah rapat mendadak untuk pertama kalinya dalam lima ratus
tahun terakhir. Para tetua risau sekali tentang sesuatu. Tentang mengapa angka
pertumbuhan penduduk kota ini stagnan, bahkan dua tahun belakangan justeru
minus sekian persen. Jika trend pertumbuhan penduduk tetap seperti itu,
dikhawatirkan seratus hingga dua ratus tahun mendatang, penduduk kota ini akan
musnah.
Lama berdebat akhirnya ditemukanlah
muasal permasalahannya. Yaitu karena angka pernikahan anakanak muda turun amat
tajam. Kenapa angka pernikahan turun amat tajam? Karena anak-anak muda ternyata
susah sekali menemukan jodohnya masing-masing. Kenapa anakanak muda amat susah
menemukan jodoh? Karena angka penolakan cinta meningkat tajam. Dan kenapa angka
penolakan cinta meningkat tajam? Karena anakanak muda itu terlalu malu untuk
mengungkapkan perasaannya. Takut ditolak, takut ditertawakan, takut dihinakan,
lebih sial lagi akan dikenang sepanjang masa: sebagai pecundang.
Tetua kota ramai lagi berdebat
mencari solusi masalah pelik ini. Bagaimana agar anak-anak muda itu tidak cemas
dan takut lagi menyatakan cintanya? Akhirnya setelah berbagai usulan diterima,
mulai dari yang sama sekali tidak masuk akal hingga yang malah tidak ada
kaitannya sama sekali dengan akar permasalahan, solusi yang dimaksud
disepakati.
Dewan kota akan menciptakan alat
pendeteksi cinta. Sebut sajalah namanya cintanometer. Bentuk fisiknya kurang
lebih mirip freehand telepon genggam yang kalian kenal selama ini. Dicantolkan
di telinga, dan ia dengan kecanggihannya akan memberitahukan perasaan yang
sedang dipikirkan oleh lawan jenis di hadapanmu.
Bagaimana caranya? Tidak jelas juga
seperti apa. Terlalu rumit untuk dituliskan. Tetapi kurang lebih cintanometer
akan mendeteksi gesture tubuh, kadar pheromon, getaran arus listrik yang timbul
dari detak jantung pasangan Anda, medan elektromagnetik yang muncul dari
sekujur kulitnya, sinyal alpha dari bola matanya, frekuensi dan lamda getaran
suara saat pasangan Anda berbicara dan berbagai pemicu kimiawi lainnya yang
terus terang aku juga tidak terlalu mengerti.
Dengan cintanometer itu, anak-anak
muda tak usah malu lagi menyatakan cinta. Alat ini seratus persen akan menjamin
kalkulasi variabel yang ditangkapnya benarbenar nyata. Deviasi kesalahannya
kecil sekali, sehingga kalian tak usah lagi khawatir ditolak mentahmentah.
Mendengar kabar tentang cintanometer,
penduduk kota kami dilingkupi kegairahan yang luar biasa. Mereka belomba-lomba
mencari tahu sejauh mana kemajuan ilmuwan terbaik mereka menciptakan alat
pendeteksi cinta tersebut. Tak sabar lagi mereka menunggu hari H peredarannya
di toko-toko kelontong. Malah di tengah-tengah kota dipasang penghitung waktu
mundur (countdown) menunjukkan sisa hari peluncurannya.
***
Dan ketika tiba hari H peluncuran
cintanometer itu, kota kami heboh sekali. Inilah penemuan terbesar sepanjang
masa. Muda-mudi berdiri mengantri membentuk kelokan puluhan kilometer di depan
balai kota untuk mendapatkan alat pendeteksi cinta. Lelaki tua dan wanita tua
yang tak laku-laku juga terselip hampir di setiap dua-tiga pengantri.
Orang-orang tua yang sudah menikah pun ternyata ikut mengantri. Juga anak-anak
di bawah umur.
Rusuh sekali antrian itu. Saling
menyelak. Jangan pernah kalian meleng sedikit saja, alamat tempat berdiri sudah
diisi oleh tiga-empat orang yang tak dikenal. Semakin lama kerusuhan dalam
antrian semakin meluas. Masalahnya ternyata pembagian alat tersebut agak
sedikit terganggu karena baru saja tetua kota menyadari mereka sama sekali
belum melakukan analisis dampak lingkungan atas cintanometer ini. Tak ada yang
pernah berpikir hal ihwal yang akan terjadi akibat beredar bebasnya alat ini,
apalagi lihatlah batasan umur para pengantri di depan sana.
Semakin siang antrian semakin kusut.
Maka tetua kota tak ada pilihan lain kecuali mulai membagikan cintanometer itu.
Lupakan dulu soal analisis dampak lingkungan tersebut. Yang penting antrian
penduduk kota tidak berubah menjadi anarki.
Mereka berebut menyambar kotak-kotak
kecil itu. Untunglah tak ada satu pun warga kota yang mengantri menginginkan
benda tersebut yang tidak kebagian. Lepas senja semuanya bisa pulang dengan
senyuman lega. Berharap banyak atas benda kecil tersebut.
Tetapi, wahai, tahukah kalian apa
yang terjadi sekejap setelah itu?
***
Kota kami tiba-tiba berubah menjadi
lautan cinta. Lihatlah anak-anak muda, mereka seolah-olah sedang berlomba-lomba
menyatakan cintanya. Di sepanjang jalan-jalan, di taman-taman kota, di
kafekafe, di pelataran parkir dan pertokoan, di ruangruang kelas, di atas
mobil-mobil dan gerbong kereta, di dalam lift dan toilet, hingga di altar-altar
suci rumah ibadah yang seharusnya hanya dipakai untuk berdoa.
“Clarice, aku cinta padamu?” seru
seorang pemuda dari salah satu meja, di kafe tengah kota.
“Aku sudah tahu, Leonardo!” gadis
itu juga berteriak sambil memperlihatkan alat itu di telinganya. Mereka berdua
tertawa. Juga tertawa bersamaan dengan seluruh isi kafe lainnya. Anakanak muda
yang dimabuk asmara. Bersemu merah saling menggenggam tangan.
“Patrice, andai kau meminta bulan,
tentu tak sungkan aku berikan....”
“Sudahlah, Desovov….” dan gadis di
meja satunya lagi itu melompat menyeberangi piring-piring.
Sungguh. Padahal kemarin, kemarinnya
lagi, minggu-minggu lalu, dan sepanjang hari selama setahun terakhir ini gadis
itu hanya mampu berdiri menatap pemuda pujaannya lewat begitu saja di gang
bawah sana dari balik teralis jendela. Terlalu gentar untuk mengakui. Terlalu
takut untuk menyatakan cintanya.
Kemanapun kau pergi malam itu, maka
yang akan kau dapati hanyalah anak-anak muda dengan trendi mengenakan
cintanometer di telinganya, berjalan kesana-kemari coba menemukan pasangannya.
Saat alat di telinga mereka berkedip-kedip, mereka berseru kegirangan. Itu
berarti ada seseorang yang mencintainya radius seratus meter darinya.
Apa yang terjadi kemudian?
Tergantung. Jika pasangan yang ditunjukkan oleh cintanometer itu ternyata
tampan dan memang pujaan jantungnya selama ini, maka tak sungkan ia menggamit
tangannya, menatap tersenyum dengan muka bersemu merah. Tetapi jika ternyata
pasangan yang ditunjukkan oleh cintanometer itu ternyata jelek dan malah sosok
yang dibencinya selama ini, maka dengan terbirit-birit ia akan lari menjauh.
Amat beruntung seorang pemuda atau
gadis yang berkali-kali cintanometernya berkedip-kedip. Itu berarti ada banyak
pilihan baginya untuk menyatakan cinta. Dan di tengah-tengah keramaian cinta
ini, ironisnya, ada saja pecinta yang tidak sedikit pun cintanometernya
berkedip-kedip.
Awalnya mereka tidak terlalu panik.
Mungkin alat miliknya rusak atau baterainya habis. Mereka buru-buru mencoba
meminjam alat pendeteksi cinta milik temannya, berharap nasib akan berubah.
Percuma. Semua alat yang dikeluarkan oleh balai kota selalu dalam kondisi
seratus dua belas persen oke.
Maka tinggallah mereka merana
menjadi penonton pertunjukan cinta di kota kami. Tetapi siapa peduli dengan
orang-orang yang tidak beruntung itu? Jumlah mereka sedikit. Dan bukankah
dengan demikian, alat pendeteksi cinta itu membantu seleksi genetik kota kami.
Pemuda atau gadis yang tak pernah dicintai oleh seseorang maka sudah
sepatutnyalah tidak meneruskan keturunan genetiknya, demikian kesimpulan tetua
kota.
Mendengar laporan meningkatnya angka
jatuh cinta anak-anak muda di kota kami, tetua kota tersenyum lega.
Permasalahan besar itu nampaknya teratasi sudah. Mereka bersulang di balai
kota, berseru bersama memuji kepintaran para penemu. Tanpa sedikit pun
menyadari laporan itu ternyata belum lengkap benar. Karena pelahan-lahan
muncullah berbagai masalah akibat cintanometer itu.
***
Vyrzas, lelaki baya berumur enam
puluh tahun, duduk menangis di pojokan kota sambil mengelus kepala botaknya
penuh penyesalan. Dengan alat itu, barusan ia tahu bahwa sesungguhnya semenjak
empat puluh tahun silam hingga hari ini, Veronica, kembang kampus universitas
kota kami, ternyata amat mencintainya. Ah, mengapa alat ini baru diciptakan
sekarang? Sesalnya. Lihatlah, wanita tua itu sudah beranakpinak dengan pria
lain. Ia dulu ternyata terlalu naif menganggap dirinya jelek, bodoh dan sama
sekali tidak berguna bila dibandingkan dengan gadis itu yang amat cantik,
pintar dan populer.
Tetapi kesedihan Vyrzas bukan
masalah serius bagi tetua kota saat ini. Yang sudah berlalu biarlah berlalu.
Toh itu murni kesalahan Vyrzas. Yang lebih penting dan mendesak, lihatlah
berbagai pertengkaran yang segera menyeruak di rumah-rumah penduduk.
“Aku tak menyangka hatimu busuk
selama ini!” Nenek itu berseru kencang dari salah satu rumah.
“Apa maksudmu?”
“Lihat ini!” Ia berseru sambil
memperlihatkan telinganya. Kakek itu tersumpal mulutnya.
“Pokoknya aku tidak mau lagi melihat
mukamu di rumah ini. Pergi! Pergi bajingan!” Nenek itu menangis dalam marah. Ia
tidak menyangka pemuda yang dinikahinya enam puluh tahun silam ternyata sedikit
pun tidak mencintainya. Jangankan berkedip, mendesing pun tidak cintanometer di
telinganya. Ternyata suaminya menikahinya semata-mata karena kedudukan dan
harta orang tuanya.
Segeralah berbagai borok suami
terbongkar. Berbagai aib istri terbuka lebar-lebar. Banyak sekali pemuda yang
menikahi istrinya hanya karena harta, kekuasaan, atau kecantikan wajah. Dan
sebaliknya gadis-gadis yang menikah hanya karena tebalnya kantong suaminya,
rumah-rumah, mobil-mobil terbang dan berbagai kemewahan dunia lainnya. Mereka
bertengkar hebat malam itu.
Cintanometer benar-benar
menelanjangi para pelaku selingkuh. Suami-suami yang tidak cinta lagi melihat
tubuh istrinya. Suami-suami yang lebih suka menghabiskan malam-malan di bar-bar
kota. Alat itu juga membantu anak-anak yang tak beruntung menerjemahkan
perasaan sesungguhnya dari ayah atau ibu tiri mereka. Dengan segera di
tengah-tengah lautan cinta yang terjadi di jalanan, harmoni rumahrumah tangga
penduduk kota kami satu demi satu rontok.
Tetua kota segera berembug
membahasnya. Satu dua tetua kota berkata pelan di tengah keramaian: ia memang
dari dulu sudah khawatir sekali dengan alat pendeteksi cinta ini, sudah terlalu
banyak penemuan tidak pantas yang telah mereka buat selama ini. Penemuan yang
menebas tata aturan kehidupan. Cinta adalah urusan langit dan tidak sepantasnya
mereka mencoba mengakalinya.
Tetapi mayoritas tetua kota kami
mengabaikan keluhan itu. Jika ada masalah yang muncul dari cintanometer itu
maka anggap saja harga yang harus dibayar untuk mengatasi permasalahan
pertambahan penduduk kota. Dan bukankah lebih banyak anakanak muda yang akan
segera melangsungkan pernikahannya dibandingkan dengan rumah tangga yang hancur
berantakan?
Malam itu juga putus. Cintanometer
akan terus diedarkan.
***
Hari-hari berlalu menjadi setahun,
setahun berjalan dirangkai hari-hari. Siang ini genap lima tahun semenjak
penemuan itu pertama kali diluncurkan dulu. Lihatlah apa yang terjadi di kota
kami. Bayibayi mungil kelihatan di mana-mana. Jumlah penduduk double. Krisis
kepedendudukan itu lewat sudah.
Cintanometer selama lima tahun
berturut-turut mendapat penghargaan Penemuan Terbaik Tahun Ini. Setiap tahun
fiturnya di tambah, dibuat lebih gaya dengan model dan warna-warni mutakhir.
Penggunaannya pun semakin friendly user, tidak berkedip, tetapi berbisik.
Bisikan cinta yang bisa di setting sedemikian rupa, termasuk menggunakan suara
artis favorit kalian.
Malah cintanometer oleh sebagian
besar penduduk kota di usulkan agar ditetapkan sebagai penemuan terbaik
sepanjang abad ini. Melihat situasi yang sedang berkembang dalam masyarakat,
sepertinya wacana itu akan benar-benar menjadi kenyataan. Masalahnya di
tengah-tengah kegembiraan tetua kota, dan leganya perasaan anak-anak muda, ada
sesuatu yang tanpa disadari pelahan-lahan merubah kehidupan kota itu.
Alat itu bagi sebagian orang
ternyata dari hari ke hari secara pasti membuat kehidupan mereka menjadi sangat
sistematis, terukur dan tidak menarik lagi. Tidak ada lagi seorang pemuda atau
seorang gadis yang berdiri cemas menunggu di halte, berharap idaman jantungnya
datang dan mereka bisa pergi satu bus, syukur-syukur bisa duduk bersebelahan.
Tidak ada lagi degup jantung penasaran saat seorang pemuda menyatakan cintanya,
menyajak puisi-puisi, menggenggam tangan sang kekasih. Tidak ada lagi lipatan
suratsurat yang secara sembunyi-sembunyi dititipkan atau diselipkan di lemari
sekolah, sekuntum bunga mawar yang dikaitkan di pintu rumah, atau seorang
pemuda yang memetik gitar bernyanyi keras-keras di halaman rumah gadis
idamannya.
Semakin lama, malah tidak ada lagi
cokelat berbentuk jantung sebagai hadiah penanda cinta, tidak ada lagi
balon-balon merah itu, tidak ada lagi cupid si peri cinta. Tidak ada lagi
syair-syair kerinduan, soneta pujaan hati, tidak ada lagi irama ratapan
kesendirian. Penduduk kota ini tidak memerlukan itu semua. Cinta pelahan-lahan
namun pasti telah berubah menjadi barang instan.
Jika cintanometer berkedip-kedip itu
artinya cinta. Jika tidak berkedip-kedip maka tidak ada cinta. Lama-lama
penduduk kota mulai lupa apa itu cinta, bagaimana sesungguhnya perasaan
seseorang saat jatuh cinta? Mereka hanya mengerti soal kedip dan tidak
mengedip. Bisik atau tidak berbisik. Lama-lama mereka malah kehilangan kosa
kata cinta? Siapa lagi yang perlu kata cinta jika kau bisa menterjemahkannya
dengan mudah melalui sebuah alat mungil yang canggih? Berbisik berarti oke,
tidak berbisik cari yang lain. Sesederhana itu.
Maka kata cinta dihapuskan dari
kamus besar bahasa kota kami, karena tak ada lagi yang mengerti apa maksudnya.
Berikut kata-kata yang menyerupai dan menyertainya. Kalian tak akan lagi
menemukan kata: kasih, sayang, rindu, bertepuk sebelah tangan, pungguk
merindukan bulan, bujang tua, jomblo dan kata-kata lainnya.
Dan ketika aku sempat berkunjung ke
kota itu minggu lalu. Dalam ramainya ruang pesta di balai kota, aku tersenyum
bersalaman dengan penduduk kota. Berkata mengenalkan diri, “Namaku Jun. Aku
pengelana hati. Datang dari jauh mencari cinta. Adakah gadis rupawan di kota
ini yang masih sendiri dan mau menghabiskan sisa hidup bersamaku?” mereka
menatapku aneh sekali.
Seperti kalian sedang menatap
mahkluk dari galaksi lain.
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar