MMSPH
6: Bila Semua Wanita Cantik
oleh Darwis Tere Liye pada 04 September 2011 jam 18:11
BILA SEMUA WANITA CANTIK!
Alkisah, ada anak super-gendut yang
selalu diganggu teman-temannya. Setiap hari diteriaki, “Gendut! Gendut! Badak!
Badak!” Anak itu menangis. Tersedu. Berlari menjauh dengan gelambir lemak di
perut. Mengadu. Ibu-nya bilang tentang, “Jangan marah. Jangan diambil hati.
Mereka hanya bergurau. Besok juga berhenti!” Tetapi esok-lusa kelakuan
teman-temannya tak pernah kunjung reda. Berbilang hari malah menjadi-jadi.
Cubit sana. Cubit sini. Maka semakin sering bersedihlah anak itu.
Hingga suatu malam, di tengah
senyapnya gelap, sang anak mengangkat kedua tangannya, tengadah ke langit
buram, “Ya Tuhan, kurus-kan-lah aku. Aku
mohon….” Anak itu menangis tersedu, bersimpuh penuh harap, “Atau kalau
Kau tidak berkenan membuatku kurus, maka buatlah gendut seluruh teman-temanku….
Aku mohon! Biar kami sama…. Biar kami sama….”
Maka malam itu, sempurna sudah
langit terbolak-balik. Do’a itu bagai melempar sebutir dadu dengan seluruh enam
sisinya sempurna bertuliskan kata: Amin!
Vin tertawa lebar, bahkan sebelum
Josephine sempat menyelesaikan ceritanya. Hampir tersedak oleh makanan,
buru-buru meraih gelas orange-juice, minuman favoritnya.
“Nah, lu bisa bayangin kan kalau
semua teman-temannya gendut! Mana asyik lagi coba hari-hari mereka. Tidak ada
saling olok satu sama lain. Tidak ada saling ejek. Hambar, persis seperti steak
ini!” Jo nyengir, ikut menahan tawa sambil malas mengiris-iris daging sapi di
hadapannya.
“Tapi itu tetap tidak menjelaskan
masalahnya….” Vin meletakkan gelas, lantas memperbaiki anak rambut yang
mengenai ujung-ujung mata. “Analogi yang buruk! Buruk banget malah!”
“Lah, come-on! Bukankah itu
menjelaskan semuanya. Lu pikir semua orang di dunia ini akan cantik? Akan
seksi? Nggak, kan? Pasti ada yang tidak cantik, kurang seksi—”
“Ya seperti kita-kita ini.“ Vin
memotong pelan.
“Lu selalu berpikiran negatif.
Selalu pesimis. Lagian siapa bilang lu tuh jelek?”
Vin menyeringai tanggung. Jelek?
Kalau saja Jo bukan teman baiknya, cerita Jo yang nyebut-nyebut gelambir lemak
di perut tadi sudah jadi alasan baik untuk menjitaknya.
“Gw nggak pesimis, Jo…. Tiga puluh
tahun hidup di dunia ini…. Tiga puluh tahun menjejak semua proses kehidupan….
Meski tiga puluh tahun itu juga tak satu pun cowok melirik lu…. Tidak pernah
menemukan cowok yang menganggap lu exist! Menganggap lu ada di
dunia ini…. Well, jadi bagaimana mungkin gw akan pesimis, kan?” Vin
tertawa kasar.
Josephine meletakkan pisau dan
garpu. Putus asa. Satu, untuk bumbu daging steak yang memang hambar. Dua, untuk
kalimat sinis bin sarkas dari Vin barusan. Urusan ini lama-lama sedikit
menyebalkan. Ia mengenal benar tabiat Vin. Ia berteman baik dengan Vin sejak
dua belas tahun silam. Dipertemukan tidak sengaja di salah-satu acara. Pesta
perpisahan sekolah. Prom-night! Cepat sekali akrab.
Bagaimana tidak? Mereka berdua hanya
jadi penonton di acara tersebut. Memandang sirik cewek-cewek berpakaian seksi
berlalu-lalang bersama pasangan. Ratu-pesta? Tidak masuk kamus mereka, kecuali
ada nominasi baru yang dibuat khusus dalam penghargaan tersebut, seperti,
‘best-badut-custome’! Jadi mereka saling menyapa kaku di pojok ruangan
sepanjang sisa acara. Saling menjulurkan tangan. Berkenalan. Lantas berusaha
mengisi malam dengan ngemil makanan yang berserak.
Dua belas tahun berlalu, tidak
banyak yang berubah dari pertemanan mereka. Vin tingginya hanya bertambah dua
senti, celakanya yang bertambah banyak justru volume dan lebar-nya.
Tidak proporsional. Sedangkan Jo? Sama buruknya, semakin jerawatan, tubuhnya
ringkih, muka tirus, rambut keriting tak-tertolong. Benar-benar dua sahabat
yang menarik untuk dilihat. Tadi saja pelayan kafe tega mengabaikan,
seperti tak melihat mereka duduk di situ.
Masalahnya, berbeda dengan Jo yang
tumbuh lebih dewasa, mapan dengan karir, cerdas dalam pekerjaan, Vin semakin
tenggelam dalam mimpi-mimpi cinderella masa kecilnya dulu. Bagi Jo, ada atau
tidak ada cowok yang melirik mereka, ada atau tidak ada cowok yang jatuh hati
kepada mereka, itu tidak penting. Hidup ini tetap indah meski tanpa kehidupan
percintaan yang mengharu-biru. Tapi bagi Vin tidak. Ia bosan dengan
kesendiriannya. Bosan dianggap tidak ada oleh cowok-cowok. Celakanya Vin
justru mengidolakan cowok terkeren kota ini. Teman satu kantornya.
Maka belakangan, setiap kali mereka
bertemu, semakin seringlah Vin mengeluhkan soal itu. Bertanya hal-hal prinsip
seperti, “Apakah wajah itu penting saat kau jatuh cinta?” “Bukankah banyak
yang bilang, karakter nomor satu, fisik nomor dua?” Bahkan kadang berteriak
sebal tentang: “Omong kosong! Semua itu bohong! Siapa bilang kita selalu
terlahir dengan takdir jodoh bersama kita? Itu hanya untuk membesar-besarkan
hati saja!” Kemudian menutup pembicaraan dengan keluh-kesah-resah.
Seperti malam ini. Di SkyCafe!
Kafe yang memiliki slogan, “Kamilah kafe tertinggi di kota ini!” Memang
benar slogan tinggi itu. Kafe ini persis di atas gedung tertinggi. Tapi soal
menu dan rasa makanan, Jo sejak tadi malah mendesis dalam hati, tidak akan
pernah datang lagi. Dan Vin sibuk berkeluh-kesah lagi.
“Lihatlah! Cowok-cowok itu seperti
laron mengelilingi gadis cantik di meja besar itu. Semua berebut seperti anak
kecil yang dijanjikan permen. Menyebalkan!” Vin mengkal menunjuk kerumunan di
sudut ruangan.
Jo tertawa kecil. Menatap keramaian
yang membuat sirik Vin tersebut. Bahkan, hei! Erik Tarore, cowok tampan idola
satu kantor Vin ikut mengerubung. Pasti itu yang membuat Vin tambah keki.
“Gw pikir hidup gw akan sepi
selamanya…. Selamanya….” Vin pelan mengaduk-aduk minumannya. Nelangsa.
Jo menatap prihatin, nyengir, “Yaaa,
lu kan sudah terbiasa menjomblo selama tiga-puluh tahun, jadi gw yakin lu pasti
bisa terus menjomblo selama tiga puluh tahun lagi!”
Mereka berdua tertawa. Getir.
“Tapi yakinlah, Vin, tak selamanya
lu pikir menjadi cantik dan seksi itu menyenangkan….” Jo menghentikan tawanya.
Vin mengangkat bahu. Tidak terlalu
tertarik dengan kalimat Jo barusan. Setiap kali mereka bertemu, sebulan
terakhir, Jo selalu bilang soal itu. Mencoba membesarkan hatinya. Percuma.
Omong-kosong. Ia sudah tak percaya lagi.
“Cantik itu kan hanya terlihat dari
luar, Vin…. Coba lu lihat kafe ini, keren banget, kan? Tapi makanannya? Masih
mending warung sate di perempatan depan kantor lu! Jadi seperti lu, dari luar
sih kumuh, nggak higienis, tapi dalamnya? Wuih! Legit!”
Tertawa lagi. Semakin getir.
“Atau seperti teman-teman kita yang
gw ceritakan minggu lalu…. Friska bercerai dengan suaminya, Mitha ketahuan
berselingkuh, Lala berapa kali coba disakiti pacarnya…. Si Uthi nyandu,” Jo
menghitung jari, “Kurang apa coba mereka? Cantik! Tapi kehidupan mereka tidak
menyenangkan. Mending seperti lu, kan? Sendiri tapi hepi! Jomblo tapi bahagia.”
Vin mengangkat bahu. Ia memang
bahagia dengan hidupnya (sepanjang tak ada hubungannya dengan cowok). Tapi kesendirian
ini menyesakkan. Vin semakin malas mendengarkan ceramah Jo. Ada sesuatu yang
sedang dipikirkannya. Sesuatu….
“Lu pikir menjadi cantik itu
menyenangkan, Vin? Sama sajalah! Bahkan dalam banyak kasus malah menyebalkan….
Lu mesti rajin merawat diri. Peduli benar dengan penampilan tubuh setiap
inchi-nya, setiap mili-nya…. Lagi pula menurut penelitian bahaya pelecehan
seksual yang mengancam wanita yang terlihat menarik lima kali lipat lebih tinggi
dibandingkan wanita yang terlihat biasa-biasa saja…. Bisa dimengerti sih, siapa
pula yang tertarik untuk iseng ke kita-kita?” Jo tertawa, melambaikan
tangan ke pelayan, meminta bon tagihan.
Vin tetap tidak terlalu
memperhatikan, ia semakin sibuk dengan sesuatu yang sedang
dipikirkannya.
“Mereka pasti memiliki masalah
dengan kecantikannya, sama seperti kita yang memiliki masalah dengan penampilan
kita…. Masalahnya kita tidak pernah dalam posisi mereka, kan? Tidak pernah
dalam posisi orang-orang yang dicemburui. Percaya nggak, terkadang
mending kita dalam posisi yang mencemburui dibanding sebaliknya, tapi kita
tidak pernah tahu. Anyway, dengan tidak tahunya, tidak mesti kita merasa
kehidupan mereka lebih oke, kan?” Jo menyerahkan kartu-kredit ke pelayan yang
mendekat.
“Lagi pula ukuran cantik-jelek itu
relatif, Non! Karena cowok-cowok itu bersepakat cantik dan seksi itu harus
ramping, perut datar, mata hitam menggoda, rambut seperti ini, kulit harus
putih, bibir mesti merah, mesti sensual, dan seterusnya maka cewek otomatis
harus seperti itu untuk dibilang cantik. Coba kalau cowok-cowok bersepakat
cantik itu gendut, pendek, hitam, keriting, lu kan bisa masuk kriteria cantik
banget, Vin…. Ah-sudahlah, yuk!” Jo berdiri setelah menerima kembali
kartu-kreditnya. Tidak tega melanjutkan gurauan. Lihatlah Vin sudah
mengusap matanya. Nah-loh, daripada seperti minggu lalu Vin nangis-sedih
gara-gara kalimatnya, mending buru-buru pulang.
Vin mengangguk. Berdiri lemah
mengikuti Jo. Matanya kelilipan. Tidak. Tentu saja Vin tidak ingin menangis
seperti minggu lalu. Selepas makan dan ngobrol bareng Jo malam ini, hatinya
tidak sesedih minggu-minggu lalu. Ada sesuatu yang sedang dipikirkannya. Dan
itu memberinya semangat.
***
Malam itu langit terlihat amat
buram. Bintang sempurna terusir awan kelam. Rembulan sabit bersembunyi malu.
Langit pekat. Angin mendadak takut bertiup. Sepi. Seluruh kehidupan seperti
sedang tertidur lengang. Di lantai dua sebuah rumah, jendelanya memang sudah
redup, tapi penghuninya sedang takjim menatap langit luar. Penghuninya adalah
Vin.
Vin yang mengangkat kedua-belah
telapak tangannya. Inilah yang dipikirkannya sepanjang sisa malam. Sesuatu
itu…. Vin yang berkata lirih! Sedang khidmat berdoa.
“Ya Tuhan, buatlah aku cantik…. Aku
mohon!” Vin bersimpuh penuh harap, “Atau kalau kau tidak berkenan membuatku
cantik, maka buatlah seluruh wanita di dunia ini se-jelek diriku….” Satu tetes
air mata Vin mengalir di pipinya yang tembam. Air-mata penuh pengharapan.
Meluncur deras ke atas kasur.
Persis saat air itu menerpa seprai
putih, persis saat bulir air itu meresap di lembutnya seprai, saat itu petir
mendadak menyambar menggetarkan hati. Guntur menggelegar. Angin kencang
membungkus langit. Langit sempurna terbolak-balik. Malam itu, doa Vin bagai
melempar sebutir dadu dengan seluruh enam matanya sempurna bertuliskan kata: Amin.
***
Vin bangun pagi dengan perasaan
segar!
Mandi lama-lama. Duduk di atas
toilet lama-lama. Ritual paginya yang hebat. Sebenarnya hanya duduk doang.
Manyun menatap pintu kamar mandi. Setengah jam kemudian mengenakan blouse kerja
terbaiknya. Dulu ia berpikir, pakaian bisa membuat seseorang terlihat lebih
cantik. Sayang, otak negatifnya juga sudah lama sekali membuat kesimpulan:
Kalau dasarnya orang itu nggak cantik, maka mau dikasih permata lima ton tetap
saja tidak akan menarik (kecuali permatanya). Iklan-iklan sabun mandi, shampoo,
lotion, dan apalah itu bohong! Jelas-jelas modelnnya memang sudah cantik dari sono-nya.
Dikasih baju robek seadanya juga tetap cantik. Puh!
Tapi hari ini Vin lagi hepi. Tidak
peduli ketika kepalanya membenak hal buruk berkali-kali. Berangkat kerja dengan
semangat. Ditegur adiknya di ruang tengah. Hei! Ada yang berubah? Matanya
mendadak melihat sesuatu yang ganjil. Entahlah! Bertemu Mama di meja makan.
Hei? Bukankah Mama-nya sungguh terlihat beda!
Vin malas berpikir. Menjepit tas
kerjanya. Naik feeder-bus yang selalu on-time berkeliling di
komplek perumahan. Hei! Hei! Mengapa semua orang terlihat sungguh berbeda
sepagi ini? Lihatlah! Sopir bus (sopir pertama wanita) yang selama ini hanya
menatap dingin dibalik kaca-mata hitam kebesarannya sekarang tersenyum renyah.
Memamerkan gigi putih yang cemerlang. Di man-na gigi kuning berlapis
kawat logam itu?
Penumpang bus? Hati Vin mendadak
mencelos. Seperti sebatang besi panas dicelupkan ke dalam seember air es. Atau
seperti Vin yang sedang ketangkap basah mencuri pandang Erik (dengan tatapan
100 watt penuh penghambaan itu). Apa yang terjadi? Bagaimana mungkin?
Hati Vin tiba-tiba menggigil. Sungguh, seluruh penumpang cewek bus terlihat begitu…
begitu cantik. Can-tik? Yaps! Bukan main….
Bukankah adiknya yang tidak kalah
gendut dengannya juga terlihat cantik tadi pagi? Mama-nya yang seperti paus
biru terlihat laksana artis umur dua puluh tahunan? Singset? Apa yang terjadi.
Mata Vin mendadak berkunang-kunang. Doa itu? Apa doa semalam itu manjur? Tapi
kenapa jadi begini? Bukankah ia berdoa sebaliknya? Kenapa semua wanita pagi ini
mendadak terlihat begitu cantik. Atau jangan-jangan. Ia juga berubah….
Jangan-jangan…. Vin buru-buru bangkit
dari duduknya. Berlari ke depan dengan semangat. Itu sungguh akan jadi kabar
yang menyenangkan…. Vin berlari ke arah cermin di atas kepala sopir bus (yang
lazim dipakai untuk melihat situasi di belakang bus). Menatap wajahnya penuh
antusiasme. Tapi ia terpaku. Seketika. Bagai batu pualam. Ya ampun? Ini pasti
ada kesalahan. Vin gemetar memegang tiang besi.
Ini benar-benar kesalahan besar.
Lihatlah sepagi ini. Di atas bus, di trotoar jalanan, di lobi gedung, di dalam
lift, di layar kaca (Vin yang tidak percaya menghidupkan teve), seluruh gadis
di dunia mendadak berubah cantik. Sempurna! Sempurna seperti Vin membayangkan
kecantikan itu sebagaimana-mestinya. Cleaning service yang rutin
pagi-pagi mengantarkan minuman untuknya, mbak-mbak yang cerewet dan jelek itu
saja sekarang berubah sintal dan menggairahkan.
Ibu-ibu peminta-minta yang sering
Vin temui di jembatan penyeberangan bahkan terlihat seperti model-super-hot.
Vin jengah menatapnya, dengan pakaian seadanya yang robek di sana-sini,
pengemis itu seperti sedang pose menggoda untuk majalah pria dewasa.
Memamerkan pahanya yang putih-mulus (meski tangannya tetap terjulur sambil
berkata lirih, “Recehnya, Mbak! Sudah dua hari tidak makan”). Aduh, semua ini
benar-benar membingungkan….
Dan yang amat menohok bagi Vin,
ketika seluruh gadis terlihat cantik pagi ini, kenapa ia seujung kuku pun tidak
berubah? Vin menggigit bibir di depan komputernya. Hampir sejam berlalu Vin
hanya mematung di meja kerja. Berusaha sembunyi dari kerumunan gadis-gadis yang
mendadak begitu bahagia melihat wajah dan tubuh baru mereka. Ya Tuhan! Bukankah
doanya semalam tidak seperti ini? Bukankah ia bilang kalau Tuhan tidak mau
membuatnya cantik, maka buat jelek-lah seluruh wanita di muka bumi ini. Tapi
sekarang? Semua malah terlihat cantik, kecuali dirinya….
Apakah langit kejam sekali padanya….
Vin tersungkur dengan hati pilu.
***
Seminggu berlalu. Jadwal pertemuan
berikutnya dengan Jo.
Vin sepanjang minggu enggan sekali
menelepon Jo. Ia malah cemas bertemu dengan Jo. Amat cemas. Bagaimana mungkin
ia siap bertemu dengan Jo setelah apa yang terjadi? Bertemu dengan teman-teman
sekantornya, Mama, adiknya, dan gadis mana pun Vin malu. Dulu saja Vin
sudah terlihat berbeda dengan tubuh gendut dan muka lebarnya. Sekarang? Dengan
seluruh kecantikan yang mendadak menjejali seluruh kota, maka tubuhnya terlihat
semakin berbeda.
Ini semua benar-benar nyata. Seperti
kalian yang bisa menyentuh tulisan ini. Setiap wanita terlihat begitu cantik.
Bumi seperti diisi sejuta bidadari. Kalian bayangkan di pasar tradisional yang
becek. Sempurna pasar itu diisi oleh ibu-ibu yang cantik sedang berbelanja.
Guru-guru yang cantik di sekolah. Suster-suster yang cantik di rumah-sakit.
Pengunjung yang cantik di pusat-perbelanjaan. Penumpang yang cantik di
kendaraan umum. Semuanya cantik. Hanya cowok-cowok itu saja yang tidak berubah
sedikit pun. Tetap seperti sebelumnya. Dan cowok-cowok itu terlihat bahagia
sekali dengan seluruh kecantikan ini. Bagaimana tidak? Tiba-tiba kalian
menemukan istri yang begitu manisnya saat bangun tidur? Mengusap mata, khawatir
salah kamar malam ini.
Dunia benar-benar terlihat jadi
lebih indah seminggu terakhir. Tapi tidak bagi Vin. Hidup semakin menyakitkan
baginya. Ia bolos kerja. Buat apa? Hanya menjadi bahan tertawaan. Ditatap
dengan tatapan merendahkan (bahkan dari ibu-ibu cleaning service yang
dulu rajin setiap hari bertanya, “Vin sudah punya pacar belum, sih?”). Ia juga
malas berkumpul dengan keluarganya? Hanya untuk menjadi bahan olok-olok mereka?
Meskipun sejauh ini Mama dan adik-nya tidak pernah mengolok-olok dirinya. Vin
semakin sering menangis. Ia enggan bertemu Jo! Tidak akan ada lagi Jo yang
menghiburnya. Jo pasti sudah berubah begitu cantiknya.
Tapi malam ini Jo yang justru datang
menemuinya. Mengetuk pintu kamar berkali-kali. Enggan dibuka.
“Vin, buka pintunya! Atau aku
ledakkan!” Jo tertawa.
Vin membenamkan mukanya di sela-sela
bantal.
“Vin, kalau ada orang di dunia ini
yang bisa mengerti perasaanmu sekarang, maka itu adalah aku!” Jo membujuk.
Vin tidak peduli.
“Vin, aku tidak bergurau. Aku
sungguh tidak tahu mengapa seminggu terakhir seluruh dunia mendadak
berubah! Terus terang saja, seminggu terakhir, aku enggan sekali bertemu
denganmu, karena aku khawatir kau juga mendadak berubah seperti wanita
lainnya….” Suara Jo terhenti.
Vin mengangkat kepalanya. Tidak
mengerti. Apa maksud kalimat Jo barusan?
“Kau tahu, Vin…. Malam ini aku
sungguh memberanikan diri untuk menemui-mu. Berpikir berkali-kali…. Hingga
akhirnya memutuskan datang karena aku tidak peduli meski kau berubah cantik
seribu kali, kau tetap mau menganggapku sebagai sahabat, bukan?”
Vin beranjak turun dari tempat
tidurnya. Senyap sejenak. Gemetar membuka pintu. Dan saat daun pintu sempurna
tersibak lihatlah! Jo ternyata juga sama seperti dirinya. Tidak berubah sedikit
pun. Tetap jelek jerawatan. Mereka bersitatap satu-sama lain. Membuat terhenti
detak jam di dinding. Membuat sepasang cecak menatap curiga (“Ternyata masih
ada ya dua cewek jelek di dunia ini?” Salah satu cicak itu berbisik jahil).
Mereka berdua yang tidak mengerti decak cicak menghela nafas panjang. Kemudian
berpelukan.
Vin menangis tersedu….
“Kenapa kau tidak berubah, Jo?
Kenapa kau tidak cantik? Harusnya kau berubah seperti mereka….” Vin bertanya
sesak.
Jo mengangkat bahu, sedikit tidak
mengerti meski banyak tidak peduli, “Tidak penting kita cantik atau jelek, Vin!
Sudahlah! Andaikata seluruh gadis di dunia ini terlihat cantik, dan hanya
menyisakan kita sendirian yang jelek, hidup ini tetap terasa indah,
bukan? Setidaknya aku masih punya kau, Vin!”
***
Sebulan berlalu. Tidak pernah Vin
dan Josephine merasa sedekat ini sepanjang hidup mereka. Setiap hari bertemu.
Kemana-mana selalu berdua. Kejadian ini persis seperti di pesta perpisahan itu.
Bedanya dulu hanya dalam satu ruangan, sekarang mereka berdua terlihat berbeda
di seluruh sudut kota.
Bahkan di seluruh dunia.
Lelah Jo membesarkan hati Vin,
“Cantik itu relatif, Vin! Peduli amat dengan tatapan mata mereka….” Maka Vin
seperti biasa akan mendesis lirih, penuh kesedihan, “Ya! Cantik itu relatif,
tapi jelek itu absolut!” Membuat terdiam sejenak langit-langit
meja-makan mereka. Menyisakan denting sendok yang terdengar sungkan dan
tanggung.
Malam ini lagi-lagi mereka
berkunjung ke SkyCafe. Lupakan makanan buruknya. Vin sekarang sering
pergi ke sana hanya untuk menatap dari kejauhan Erik-nya tercinta yang
berkunjung bersama gadis cantik itu. Dulu saja gadis itu terlihat cantik,
apalagi setelah malam ganjil tersebut. Dibandingkan Vin, gadis itu malam ini
cantik bangeto! Membuat Vin yang menatap sendu Erik bagai pungguk
merindukan bulan (tapi sekarang bulannya bukan yang biasa yang sering
kalian lihat, tapi yang di galaksi Andromeda, satu juta tahun kecepatan cahaya
sana!)
“Tuhan kejam sekali….” Vin terisak
menangis.
“Tidak! Kita hanya tidak tahu apa
maksudnya, Vin!” Jo menggenggam jemari Vin. Berusaha mendiamkan.
Dan inilah yang sungguh tidak
diketahui Vin. Sebulan terakhir, ketika seluruh gadis di dunia terlihat sama
cantiknya. Perlahan-lahan ada pemahaman yang berubah. Pelan tapi pasti
ada ukuran yang berubah. Hei! Cowok-cowok itu mulai bosan melihat
“kecantikan” yang itu-itu saja. Bagaimana tidak? Mereka sekarang bisa melihat
kecantikan itu di mana saja. Membuka pintu, langsung bertemu wanita cantik,
naik angkutan umum, banyak. Di jalanan, lebih banyak lagi. Apalagi saat
menyaksikan karnaval hari ibu dua hari lalu, banyaaak banget wanita cantik.
Pria di dunia sungguh mulai bingung.
Kalau semua terlihat cantik, jadi di mana lagi ukuran cantik itu? Kalau semua
terlihat menarik, apa lagi ukuran hakiki menarik tersebut? Bukankah mereka
selama ini ingin merasakan memiliki pasangan yang terlihat lebih “oke”
dibandingkan pasangan temannya. Sekarang? Aduh, sama semua. Bertemu di pesta,
tidak ada lagi pembicaraan soal lebih-ini, lebih-itu dari pasangannya antar
bujang-bujang metropolitan tersebut. Tidak ada lagi saling menyombongkan diri.
Casting film juga membosankan. Apa yang mesti dipilih kalau
semuanya sama cantiknya? Miss Universe? Benar-benar lucu menyimak acara live
tersebut seminggu lalu, bagaimana mungkin gadis penjual permen dengan pakaian
lusuh dan kotor di luar gedung mewah pertunjukan tersebut sama cantiknya dengan
pemenang lomba? Dan, tentu saja sama seksinya dengan ibu-ibu pengemis di
jembatan penyeberangan yang berpakaian seadanya itu?
Maka malam ini, saat Vin menangis
tersedu atas nasibnya, seluruh pria di kota kami juga sedang amat-bingungnya.
“Aku lebih baik mati saja….” Vin
tersungkur di atas meja.
“Sudahlah, Vin!” Jo berbisik,
berusaha membujuk. Membelai pelan rambut Vin yang pecah-pecah dan
ber-ketombean.
“Biarkan aku sendiri….” Vin
benar-benar putus-asa.
“Kau hanya menarik perhatian orang
lain dengan menangis seperti ini,” Jo mencengkeram lengan Vin.
“Peduli amat? Bukankah kita sudah
menarik perhatian dengan wajah dan tubuh jelek ini?” Vin mendesis seperti ular.
Jo salah-tingkah. Ya ampun,
bagaimana sekarang?
Suara tangis Vin mengeras. Membuat
wajah-wajah tertoleh. Jo semakin bingung hendak melakukan apa agar Vin diam.
“Maukah kau menghapus air-matamu
dengan sapu-tangan ini?” Tiba-tiba terdengar suara yang begitu berwibawa dan
gagah di sebelah mereka. Memotong sedu-sedan itu.
Jo menoleh. Vin mengangkat
kepalanya.
Ya Amplop? Apa yang terjadi? Mata
Vin mendadak berkunang-kunang. Jo menelan ludahnya. Lihatlah! Erik, pemuda
keren idaman hati tengah menjulurkan sapu-tangan sutera berenda indah ke arah
Vin. Tersenyum amat jantan-nya.
“Aku akan tersanjung sekali kalau
kau mau memakainya untuk mengelap air-matamu!” Erik menatap Vin yang berderai
dengan mata terpesona. Seperti malaikat cinta.
Vin seketika gemetar. Bagaimana
mungkin? Seumur-umur hidupnya ia mendambakan Erik mendekatinya. Bahkan pernah
sekali mereka bertabrakan di depan pintu lift, lantas ia dibentak-bentak Erik,
“Dasar gendut! Mata di taruh di mana? Mata tuh digedein, jangan perut!” Vin
merasa bahagia sekali saat itu. Sekarang? Apa yang terjadi? Apakah dunia
semakin aneh? Apakah ia sekarang mendadak terlihat lebih cantik?
Tidak. Vin tetap sama jeleknya.
Hanya saja karena sebulan terakhir Erik bosan dengan gadis-gadis cantik
di sekitarnya. Selama sebulan bingung mencari makna baru arti kata sebuah
kecantikan, malam ini saat dia tidak sengaja melirik Vin yang menangis di
meja-makan seberangnya, hati Erik langsung berdenting. Duhai, gadis ini berbeda
sekali. Lihatlah! Badannya yang besar, rambutnya yang berantakan? Pakaiannya
yang berbeda? Apakah ini sebuah kecantikan? Entahlah! Apa ini yang
disebut bidadari? Entahlah! Tapi gadis ini sungguh terlihat berbeda dengan
wanita-wanita di sekitarnya.
Gadis ini sungguh terlihat menarik.
Maka Erik melangkah dengan hati kebat-kebit,
persis seperti remaja tanggung yang sedang melihat gadis pujaan hati untuk
pertama kalinya. Lihatlah! Ia sedang menangis, maka Erik bergetar meraih
sapu-tangan, bersimpuh mengulurkan sapu-tangan itu. Membuat Vin sekarang
sempurna membeku.
Erik, pemuda idaman hatinya duduk di
depannya?
Waktu seolah berhenti bagi Vin malam
ini.
“KAU! Kau pria tidak tahu
malu! Bagaimana mungkin kau meninggalkan aku sendirian di meja untuk mendekati
gadis gendut ini? Mendekati badak yang sedang menangis?” Wanita yang bersama
Erik sejak tadi di SkyCafe berteriak marah, berusaha menarik Erik.
“Tutup mulutmu!” Erik mendadak
menoleh, melotot sekaligus mendesis, “Jangan bilang wanita terhormat ini badak!
Jangan sekali-kali! Ia wanita yang amat menarik. Aku justru bosan melihatmu
berhari-hari…. Kau sama saja dengan gadis-gadis lain. Standar banget!
STANDAR!”
Vin dan Jo sempurna melongo. Mulut
mereka terbuka lebar. Ya ampun? Bagaimana mungkin Erik meneriaki gadis secantik
itu di hadapannya dengan sebutan: standar banget?
Malam itu kehidupan Vin sempurna
berubah. Ah-ya, tidak hanya kehidupan Vin, tapi kehidupan seluruh dunia.
***
Dan inilah yang terjadi enam bulan
kemudian.
Ketika cowok-cowok di kota kami
kehilangan definisi kata cantik, kehadiran Vin (dan Jo) seketika melegakan.
Lupakan kesapakatan selama ini soal ukuran cantik dan seksi (yang diwariskan leluhur
jutaan tahun silam). Itu kekeliruan besar. Cantik itu seperti Vin dengan wajah
berminyak dan pipi tembam. Seksi itu seperti Vin yang memakai celana berukuran
42. Lihatlah, muka sendu Vin begitu memesona. Begitu menarik. Membuat hati
berdebar tak henti ingin melihatnya. Membuat kepala tak kuasa untuk tertoleh
walau sejenak. Maka malam itu Erik merasa pemuda paling beruntung sedunia, saat
Vin mau berbicara dengannya.
Perubahan pemahaman atas kata cantik
itu bagai badai yang menyapu seluruh sudut dunia. Wusss! Seminggu berlalu,
cantik berarti Vin. Seksi berarti Vin. Wanita-wanita yang selama ini merasa
dirinya paling cantik mulai tidak pede. Bagaimana tidak? Saat di kamar tidur,
suaminya mengeluh, “Yang, tubuhmu tidak se-seksi Vin! Coba deh dibikin
gendut sepertinya!” Saat berduaan di taman kota, pasangan cowok mereka mendadak
bagai magnet tertoleh menatap Vin dan Jo yang sedang lewat.
Ampun! Vin berubah menjadi maskot
kecantikan baru! Stasiun teve berebut menjadikannya bintang. Casting
film juga begitu. Ini berbeda. Artis yang benar-benar berbeda dengan
gadis-gadis selama ini. Sungguh menarik! Dan enam bulan kemudian ketika ukuran
baru tentang cantik itu benar-benar mengambil-alih bisnis hiburan dan industri
penampilan, maka terjadilah hal yang mencengangkan tersebut.
“Shampoo 3 in 1 baru. Membuat rambut
Anda pecah-pecah dan berketombe! Cobalah!” Ada Vin di situ menjadi modelnya.
“Anda ingin terlihat gendut?
Datanglah di fitness-center kami! Menyediakan layanan istimewa. No
exercises. No barbel. Banyak makanan penuh lemak. Dan pijat relaksasi untuk
membuat lemak itu bertahan lamaa….” Di iklan itu, ada artis pendatang baru
(yang berhasil sedikit menggemukkan badannya) menjadi modelnya.
“Hot-Flower! Sabun mandi yang
membuat kulit Anda hitam seketika! Anda akan terlihat begitu cantik dengan
kulit hitam-legam!” Lagi-lagi artis pendatang baru yang sedikit berhasil
membuat hitam badannya menjadi model.
Tapi artis-artis itu jelas kalah
’seksi’ dibanding Vin. Maka Vin menikmati popularitas tak-terkatakan. Dan lebih
hebat dari itu semua, pemuda idamannya, pemuda yang dipujanya sepanjang masa,
Erik Tarore sekarang sempurna menjadi miliknya. Benar-benar kehidupan yang
hebat. Benar-benar takdir yang menakjubkan. Hidup seolah-olah tidak akan
bisa lebih baik lagi bagi Vin.
***
“Kita semakin jarang bertemu, Vin!”
Jo mendesah pelan.
“Aku sibuk, Jo! Kau tahu itu, kan!
Ah-ya seharusnya kau mau menjadi bintang-iklan produk kecantikan itu, Jo. Tidak
ada muka yang paling berjerawat se-dunia dibanding mukamu….” Vin melambaikan
tangannya, sibuk menekan tombol telepon genggam. Menyuruh Erik menjemput.
Jo menggeleng prihatin. Jo juga sama
seperti Vin menjadi maskot kecantikan baru. Diburu-buru untuk menjadi model
iklan. Tapi Jo yang sejak dulu amat dewasa menghadapi kehidupan (termasuk soal
takdir fisiknya), menolak. Baginya hidup tetap indah meski tanpa penampilan
fisik “hebat” tersebut. Dulu indah, sekarang tetap indah, tidak peduli berapa
kali ukuran relatif cantik-jelek itu mengalami perubahan.
“Lihatlah, kau sekarang amat
memperhatikan tubuhmu, Vin. Sibuk mengukur lingkar perut, sibuk membuat muka
berminyak, kau kehilangan waktu-waktu menyenangkan seperti dulu….”
Vin tertawa, mengangkat bahu. Peduli
apa dengan masa-masa lalu? Bukankah semua ini menyenangkan?
“Kapan terakhir kali kau bengong di
atas dudukan toilet. Merasa senang menatap pintu kamar mandi? Atau
menikmati segelas orange-juice dengan santai?”
Vin benar-benar tertawa sekarang. Jo
ada-ada saja. Buat apa coba mengenang hal aneh tersebut? Memang dulu
menyenangkan sih, bengong sendirian, minum sendirian, tapi lihatlah
kehidupannya sekarang?
“Kau juga semakin jarang bertemu
dengan keluargamu, kan? Bukankah dulu kau amat dekat dengan Mama dan adikmu?
Punya keseharian keluarga yang hebat….” Jo terus mendaftar keluhan berikutnya.
“Sudahlah!” Vin melambaikan
tangannya.
Erik terlihat melangkah mendekat.
“Bye, Jo! Aku pulang dulu,
ya!” Vin memeluk mesra Erik.
***
Masalahnya dengan standar kecantikan
yang baru tersebut, gadis-gadis lain di seluruh sudut dunia dengan cepat
menyesuaikan diri. Enam bulan pertama, kecantikan Vin tetap tidak terkalahkan,
tetapi enam bulan berikutnya, mulai bermunculan tubuh-tubuh gendut, wajah-wajah
jerawatan, rambut kusut-masai, dan seterusnya dan seterusnya. Apa yang pernah
dibilang tetua bijak? Wanita selalu merasa ingin tampil cantik, apapun itu
bentuk standar barunya. Maka dimulailah penyesuaian besar-besaran dalam sejarah
kecantikan dunia. Mengalahkan migrasi terbesar binatang yang pernah ada dalam
sejarah kehidupan saat Ice Age jutaan tahun bahuela.
Istri-istri yang dulu menangis
tersedu saat suaminya sibuk membandingkan tubuhnya dengan Vin, menyeka
air-matanya, dan mulai melakukan serangkaian perubahan diri. Gadis-gadis yang
diabaikan pasangannya di taman kota melempar rasa iri-hati jauh-jauh, mulai
beramai-ramai ikut fitness ’gaya baru’, mengonsumsi makanan berlemak, dan
semangat menggunakan kosmetika yang tokcer membuat wajah berjerawat.
Setahun berlalu, Vin perlahan mulai
ditinggalkan. Apa mau dikata, cowok-cowok kota kami memiliki pilihan baru
sekarang. Vin tetap terlihat paling cantik sih, tapi bukankah kata Jo ukuran
cantik itu relatif. Vin soal gendut sih memang paling oke, tapi soal jerawat mah
jauh! Soal muka berminyak sih oke, tapi soal wajah tirus? Soal rambut bercabang
dan ber-ketombean? Aduh, sekarang yang lagi trend rambut keriting
hancur-hancuran, bukan seperti rambut Vin. Lagian soal pipi tembam itu sama
saja dengan saat dulu pria sibuk membandingkan gadis mana yang lebih seksi,
(maaf) berbuah-dada besar atau kecil. Itu semua relatif. Tergantung selera.
Maka Vin mulai bergulat
mempertahankan posisinya. Tidak pernah terbayangkan, ia yang dulu berusaha
mati-matian mengusir jerawat di wajah, sekarang malah sengaja semangat
menumbuhkannya. Demi karir-nya sebagai bintang iklan. Sebagai selebritis.
Lupakan kehidupan menyenangkan dulu. Lupakan hari-hari tanpa beban miliknya
dulu. Sekarang Vin sibuk mematut sana, mematut sini. Ia benar-benar dalam
posisi di cemburu-i. Sibuk mengurus hal-hal yang dulu dengan rileks ia pikir
buat apa coba diurus?
Dan celakanya, saat Vin mulai merasa
lelah dengan kehidupan cantik-nya, Erik yang selama ini menjadi tempatnya
berkeluh-kesah mulai bertingkah. Erik mulai berani larak-lirik wanita lain.
“Apa aku kurang cantik?” Vin berteriak marah saat Erik malam itu lupa
menjemputnya. Untuk pertama kalinya Erik tidak merasa perlu buru-buru minta
maaf. Bagaimana tidak? Persis seperti lelaki normal lainnya sebelum urusan
ganjil ini terjadi, Erik toh sekarang bisa mencari alternatif gadis yang
lebih oke, bukan? Lihatlah! Sudah banyak ini…. Jadi kalau Vin bilang “putus”,
masih ada banyak gadis gendut lainnya.
***
Dan malam itu Vin benar-benar
menangis.
Tangisan pertamanya sejak setahun
terakhir.
“KAU! Bagaimana mungkin kau
mengkhianatiku, Jo!” Vin tersungkur di samping ranjang.
Lelah sekali ia selama seminggu
mencari tahu dengan siapa Erik berselingkuh. Ia pikir dengan gadis ‘cantik’
yang dulu sering dilihatnya di SkyCafe bersama Erik (sekarang gadis itu
juga terlihat ‘sama-cantiknya’ dengan dirinya, maksudnya sudah berubah gendut).
Ia pikir gadis-gadis itu. Ternyata bukan. Erik ternyata berselingkuh dengan
teman terbaiknya. Jo!
“Maafkan aku, Vin…. Aku sungguh tak
ingin melakukannya. Erik yang menggodaku. Bilang wajahku cantik tiada tara!” Jo
menyeka wajahnya yang berjerawat. Ikut menangis tertahan.
“BOHONG! Kau lah yang menggoda
Erik!” Vin mendesis, menatap dengan mata merah.
“Aku tidak melakukannya. Sungguh,
Vin! Percayalah.” Jo berusaha memegang jemari Vin.
Vin mengibaskannya, “JANGAN SENTUH
AKU!”
Jo tertunduk, air-matanya jatuh
berderai. Ia memang tidak pernah memulainya, meskipun selama ini tanpa
sepengetahuan Vin ia juga menyimpan hasrat kepada Erik. Pemuda itu juga pemuda
idamannya sepanjang masa. Jadi bagaimana ia menolaknya saat Erik datang semalam
(dan juga malam-malam sebulan terakhir)? Memuji rambut keriting
tak-tertolongnya?
Tadi pagi Vin yang sedih mengunjungi
Jo, akhirnya tidak sengaja menemukan bukti perselingkuhan itu. Jo dan Erik
sedang berduaan. Lihatlah! Erik sekarang berdiri terdiam seribu bahasa di
sudut. Menatap mereka bergantian. Persis seperti remaja tanggung yang
tertangkap basah berselingkuh. Dan sekarang bingung menatap dua gadis cantik
di hadapannya yang sebentar lagi pasti akan memberikan “soal pilihan ganda”
baginya.
Tentu saja ke siapa lagi Erik akan
berselingkuh? Meski begitu banyak wanita cantik hari ini, hanya Vin dan Jo yang
orisinil dari sono-nya. Bukan cantik setelah melalui serangkaian terapi dan
proses. Rambut keriting tak-tertolong Jo seksi benar di pandangan matanya.
Apalagi muka tirus itu….
“BAIK! Sekarang biarkan Erik yang
memutuskan. MEMILIHMU ATAU AKU!” Vin berteriak kalap.
Jo menggigit bibir. Hendak bilang,
jangan.
Erik mengusap rambutnya. Sungguh
pilihan yang sulit! Satu punya body oke dengan gelambir lemak.
Satu punya wajah menawan dengan jerawatnya.
***
Malam itu langit terlihat amat
buram. Bintang sempurna terusir awan kelam. Rembulan sabit bersembunyi malu.
Langit pekat. Angin mendadak takut bertiup. Sepi. Seluruh kehidupan seperti
sedang tertidur lengang. Di lantai dua sebuah rumah, jendelanya memang sudah
redup, tapi penghuninya sedang takjim menatap langit luar. Penghuninya adalah
Vin. Vin yang mengangkat kedua-belah telapak tangannya.
Vin yang berkata lirih….
Urusan ini sebenarnya amat
sederhana. Seseorang yang mencintaimu karena fisik, maka suatu hari ia juga
akan pergi karena alasan fisik tersebut. Seseorang yang menyukaimu karena
materi, maka suatu hari ia juga akan pergi karena materi. Tetapi seseorang yang
mencintaimu karena hati, maka ia tidak akan pernah pergi! Karena hati
tidak pernah mengajarkan tentang ukuran relatif lebih baik atau lebih
buruk.
Maka Vin berdoa amat takjimnya,
“Tuhan, selama ini aku keliru, sungguh keliru... semua kecantikan ini.... Malam
ini demi segala janji kebaikan yang masih tersisa, ajarkan aku untuk selalu
memiliki hati yang cantik, hati yang cantik... Tidak peduli meski
orang-orang tidak pernah sekali pun menyadari kecantikan hati tersebut….”
Malam itu langit tidak terbolak-balik.
Tetap lengang. Tanpa petir. Tanpa geledek. Enam belas dadu dilemparkan. Sayang,
tidak ada yg tahu sisi mana dari dadu-dadu itu yang bertuliskan kata: Amin!
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar