MMSPH
7: Hiks! Kupikir kau naksir aku
oleh Darwis Tere Liye pada 05 September 2011 jam 7:49
HIKS! KUPIKIR KAU NAKSIR AKU
Ini benar-benar menyebalkan,
tabiat Putri mirip banget dengan cewek lain yang sedang jatuh cinta. Selalu
membesar-besarkan sebuah kejadian. Tertawa riang saat menceritakan
kejadian-kejadian sepele tersebut. Seolah-olah itu pertanda cinta yang sempurna
kalau yang sedang ditaksirnya benar-benar juga menyukainya.
Bayangin, cowok itu lagi kentut
saja, mungkin bisa diartikan Putri kalau tuh cowok grogi saat ketemu dengannya.
Apalagi pas lihat mukanya memerah. Keringatan. “Aduh, aku nggak nyangka dia
bakal se-nervous itu, Tin! Kayaknya dia juga suka ke aku, deh!” Mata
Putri berbinar-binar macam bintang kejora saat menceritakannya. Padahal kalau
Putri mau waras sedikit, jelas-jelas cowok itu sedang kebelet mau ke belakang.
Pengin puf! Tapi mana ada coba rasionalitas bagi orang yang sedang
jatuh-cinta setengah mampus seperti Putri?
Mungkin ada benarnya juga buku-buku
itu bilang. Orang-orang yang jatuh-cinta terkadang terbelenggu oleh ilusi yang
diciptakan oleh hatinya sendiri. Ia tak kuasa lagi membedakan mana yang
benar-benar nyata, mana yang hasil kreasi hatinya yang sedang memendam rindu.
Kejadian-kejadian kecil, cukup sudah untuk membuatnya senang. Merasa
seolah-olah itu kabar baik…. Padahal saat ia tahu kalau itu hanya bualan
perasaannya, maka saat itulah hatinya akan hancur berkeping-keping. Patah-hati!
Menuduh seseorang itu mempermainkan dirinya. Lah? Siapa yang mempermainkan
siapa, coba?
Untuk menjelaskan urusan ini, dan
agar kalian paham betapa menjengkelkan tabiat Putri selama seminggu terakhir,
akan aku daftar berbagai kejadian remeh-temeh yang justru bagi Putri seperti
pertanda terbesar dalam kehidupan cintanya. Semoga setelah itu kalian juga bisa
membandingkannya dengan tabiat kalian selama ini. Ternyata perasaan itu semua
hanya ada di hati kalian doang. Dia? Nggak sedikit pun! Kalian apa mau dikata
hanya bertepuk sebelah-tangan, hihi.
***
Kejadian Pertama. Rio. Ganteng? Jangan ditanya.
Rio satu kampus denganku dan Putri.
Sejak dulu Putri sudah menjadi penggemar beratnya.
Hanya saja selama ini belum ada
kesempatan. Belum ada pemicunya. Jadi ya Putri sebatas pengagum rahasia. Paling
hanya celetukan di warung tenda sepanjang jalan depan kostan saat kami
makan malam. Hanya itu. Putri belum naksir berat dengan Rio. Sama-lah seperti
teman-teman cewek lainnya yang asyik membicarakan cowok keren.
Celakanya, persis seminggu lalu
dimulailah seluruh rangkaian kejadian menggelikan ini. Perasaan terpesona Putri
tercungkil sudah. Malam itu selepas dari warung tenda, aku dan Putri berkunjung
ke Bubu! Kafe buku dekat kostan. Tempat yang asyik buat baca buku.
Konsepnya separuh kafe, separuh toko-buku. Cozy. Menyenangkan
menghabiskan waktu di sana. Duduk nyaman dengan segelas jus segar. Koleksi
mereka nggak sekomplet toko-buku besar, tapi untuk novel-novel pop cukup
memadai. Sari teman kostan juga ikut ke Bubu. Malam itu Putri entah mengapa mau
saja ikut. Padahal ia paling benci disuruh baca novel. Hidupnya memang selama
ini hanya dihabiskan untuk belajar, hihi.
Aku, Sari dan Putri duduk di salah
satu sudut ruangan. Lihat, tuh! Sementara aku tenggelam membaca sebuah novel
hasil karya pengarang domestik amatiran, Putri asyik mengerjakan PR kuliah!
Lengang. Setengah jam berlalu begitu saja.
Dan eng-ing-eng, coba tebak siapa
yang datang persis saat jam berdentang 24.00, eh becanda ding, maksudku persis
pukul 20.00. Yups! Rio yang mengenakan jeans belel dan kaos putih. Rio yang
berbasa-basi dengan penjaga Kafe. Lantas melihat ke sekeliling. Rio yang
kemudian melambaikan tangannya kepadaku. Tersenyum lebar.
Biasa saja, kan? Aku kenal baik
dengan Rio. Sama seperti Putri juga mengenalnya. Kami jelas-jelas satu kampus?
Rio lantas rileks beranjak ke sudut ruangan. Entahlah, mungkin mencari buku
yang diinginkannya. Tapi apa yang sedang dipikirkan Putri saat itu, tiba-tiba
mukanya bersemu amat merahnya. Aku tidak terlalu memperhatikan.
Satu jam berlalu. Satu jam yang aku
pikir juga biasa saja. Tidak ada kejadian penting. Hanya desis suara kipas AC
yang terdengar. Aku membawa pulang novel yang baru setengah selesai kubaca.
Bubu menyediakan fasilitas pinjam-meminjam. Putri menumpuk kertas PR-nya.
Tapi tahukah kalian apa yang terjadi
ketika kami persis tiba di kamar kostan. Putri sempurna mengajakku bicara
tentang Rio! Bertanya banyak hal, berkomentar banyak hal. Rio! Rio!
Kemudian di sana-sini terseliplah apa yang tadi kubilang? Ilusi hati yang
menipu otak.
“Dia tadi pas masuk melambaikan
tangannya ke gw, Tin. Dia tersenyum lebar…. Gw nggak nyangka kalau dia
begitu ramah. Aku pikir orangnya sombong!”
Aku hanya mengangkat bahu. Well,
siapa pula yang bilang Rio sombong? Cowok yang baik. Siapapun juga akan lazim
melambaikan tangan satu-sama lain, kan? Biasa saja!
“Lu tahu nggak, Tin, satu jam
terakhir di Kelambu, Bambu, eh Bubu ya namanya? Dia sering banget ngelihat ke
meja kita. Gw malah sempat bersitatap dengannya satu kali. Dia tersenyum
lebaaar banget….”
Well, itu juga biasa saja, kan?
“Eh, nggak sekali deh Tin…. Dua-eh
kayaknya lebih dari dua kali! Duh, tampannya….” Muka Putri mulai memerah.
Aku menatapnya penuh selidik (waktu
itu sih aku belum sejengkel sekarang melihatnya). Tertawa lebar.
“Lu naksir Rio, ya?” Menggoda.
Putri melemparku dengan bantal
guling.
“Kenapa ya dia sering banget
ngelirik ke meja kita tadi?” Putri mematut-matut. Menatap langit-langit kamar
kostan.
“Itu kan perasaan lu dong, Put!”
“Nggak, kok. Beneran….” Putri
ngotot.
“Yaaa, lagian biasa saja, kan. Nggak
selamanya orang baca selalu melotot ke bukunya. Lu juga sering sekali-dua
rileks menatap sekitar….” Aku memungut guling yang jatuh.
“Tapi ini beda, Tin. Gw kan tahu
mana lirikan yang tidak sengaja, mana yang disengaja….” Putri bersemu merah.
Aku mengangkat bahu. Sudah larut.
Malas melanjutkan percakapan. Aku juga malas memikirkan kelanjutan obrolan
kami. Paling hanya percakapan iseng untuk yang ke sekian kalinya. Tapi apa
daya, tanpa kusadari, malam itu perasaan Putri ke Rio sempurna tercungkil
sudah.
***
Kejadian Kedua. Malam berikutnya Putri semangat banget berkunjung ke Bubu.
Menyeretku. Aku hanya tertawa kecil. Sari, teman kami satu kostan lainnya ikut
lagi, pengin balikin buku.
Sepanjang perjalanan Putri
berkali-kali bilang soal, semoga Rio ada di sana. Bertanya lagi tentang Rio.
Berkomentar lagi tentang Rio. Rio! Rio! “Eh, gw yakin banget bakal ketemu dia,
kok! Kalian kok sirik banget, sih!” Putri menjawab sebal saat aku dan Sari
menggodanya tentang penderita psikis obsesif yang sok-tahu.
Dan benar saja, Rio ada di sana.
Lagi-lagi tersenyum lebar dan melambaikan tangan. Aku pikir Putri agak
berlebihan membalas senyum dan lambaian itu. Tapi sudahlah.
Malam itu jadwal bacaku dua jam di
Bubu mendadak berubah amat menyebalkan. Aku, Sari dan Putri duduk satu meja.
Putri berkali-kali menyikut lenganku setiap kali Rio menatap meja kami. Aku
terpaksa mengangkat kepala, melihat Rio yang mengangguk ke meja kami. Aku ikut
tersenyum, basa-basi membalas anggukan.
Dan itu benar-benar jadi ‘bahan
pembenaran’ ilusi Putri kalau Rio memang sengaja atas berbagai lirikan tersebut
saat kami kembali ke kostan.
“Apa yang aku bilang semalam, dia
memang sengaja melihat ke meja kita, kan. Dia memang sengaja melirik gw?” Putri
berkata antusias. Pipinya merona. Membayangkan kemungkinan terindah yang ada di
benaknya.
“Biasa saja lagi, Put…. Lu aja yang
keseringan ngelirik dia…. Jadi dia reflek mengangkat kepalanya. Siapapun yang
sedang diperhatikan pasti reflek menoleh ke orang yang sedang menatapnya, kan?
Itu logis! Rio hanya merasa lu terlalu sering memperhatikannya. Jadi dia juga
sering melirik lu…. Mahasiswa psikologi tahun pertama saja tahu analisis
aksi-reaksi sederhana seperti itu, Non!” Aku mengangkat bahu, pura-pura tidak
memedulikan.
“Lu kenapa sih nggak suka lihat
teman senang?” Putri melemparku lagi dengan bantal. Sebal.
Aku tertawa.
“Lagi pula lu lihat sendiri apa yang
gw bilang soal Rio pasti ada di Kelambu, eh, Bambu, eh Bubu tadi. Benar, kan?
Dia ada di sana! Dia pasti sengaja menyempatkan datang buat bertemu lagi, kan.
Sama seperti…. Eh, maksudku sama seperti kita!” Putri bersemu merah.
Aku tertawa lebih lebar. Maksud
Putri sebenarnya sama seperti dirinya yang maksa-maksa datang lagi ke Bubu.
Lazimnya kalau kalian memang ditakdirkan berjodoh, terus ada feeling
satu-sama lain saat pertama kali bertemu, esok-lusa kalian biasanya akan
memaksakan diri untuk kembali ke tempat pertemuan pertama. Itu lumrah. Seperti
ada sesuatu yang mengendalikan perasaan kalian. Tapi kasus Putri beda banget.
Aku malas menjelaskan kalau
sebenarnya Rio memang setiap malam berkunjung ke Bubu. Bahkan jauh-jauh hari
sebelum aku terbiasa datang ke sana (juga) setiap malam. Tapi malam itu aku tak
bisa berhenti berpikir. Jangan-jangan Putri benar. Tidak biasanya Rio melirik
ke meja tempatku duduk selama ini, kan? Jangan-jangan dia naksir….
Jelas-jelas pasti bukan naksir
Putri…. Aku mengusir jauh-jauh kemungkinan
itu.
***
Kejadian Ketiga. Malam berikutnya. Seperti yang kalian duga, aku dan Putri
kembali berkunjung ke Bubu. Kali ini dengan semangat pembuktian. Tadi
sepanjang siang aku menggodanya: “Itu hanya perasaan lu dong, Put!” Dan
Putri yang marah, mengajakku untuk membuktikannya malam ini.
Yups! Rio sudah duduk rapi di meja
seperti biasanya. Dan dua jam itu benar-benar berubah menjengkelkan bagiku.
Putri menyikut, menginjak kaki, mencubit, bahkan hampir menarik rambutku setiap
kali melihat Rio melihat ke meja kami.
“Biasa saja dong, Put!” Aku mendesis
bete.
“Dia ngelihatin gw, tuh!” Putri
berbisik dengan wajah sempurna merah.
“Gimana dia nggak akan balik
ngelihatin lu, kalau lu nggak sedetik pun berhenti menatapnya….” Aku menjawab
mengkal.
Rio di seberang meja menganggukkan
kepala. Tersenyum. Aku pura-pura ikut tersenyum. Basa-basi melambaikan tangan.
“Bisa nggak sih lu bersikap biasa
saja? Rio mungkin saja risih dengan kelakuan lu yang menatapnya terus!” Aku menarik
tangan Putri yang melambai ‘genit’.
Putri hanya mendesis. Mencubit
pahaku. Ampun, dah! Lumrah kan kalau Rio berkali-kali menatap Putri. Lah, Putri
‘melotot’ tak henti melihatnya. Malam itu aku mulai jengkel.
Celakanya, saat kami beranjak pulang
(aku lama membujuk Putri agar mau pulang), Putri tidak sengaja meninggalkan
selembar berkas PR-nya di meja. Rio berseru memanggil saat kami hampir tiba di
pintu keluar Bubu.
“Kertasnya ketinggalan, Put!” Rio
tersenyum.
“Eh…. Eh-iya, lupa….” Putri sedikit
salah-tingkah.
“Kan repot kalau gw mesti antar
kertas ini ke kostan lu…. Gw kan nggak tahu kostan lu….” Rio tertawa lebar.
Putri mendadak gagap menjawabnya.
Menerima kertas itu dengan tangan sedikit bergetar. “Makacih….” Berkata
pelan.
Aku sudah menariknya buru-buru.
Sebelum Putri melakukan hal-hal yang memalukan, hihi. Dan Putri benar-benar
buncah saat kami tiba di kamar kostan.
“Apa lagi coba maksudnya.
Jelas-jelas dia nanya alamat kostan gw, kan?” Putri berseru riang, sibuk
‘menganalisis’ kejadian sekaligus kalimat Rio barusan.
“Kenapa lu nggak sebut saja
alamatnya tadi? Biar dia bisa ngelihat kelakuan aneh lu sekarang!” Aku menjawab
malas. Masa’ sih kalian bisa menyimpulkan kalimat Rio tadi sebagai tanda: boleh
aku tahu alamat rumahmu?
“Dasar anti-sosial!” Putri
menimpukku dengan bantal, “Lu, emang nggak pernah senang lihat orang lain
bahagia, Tin! Bukannya lu tadi yang narik gw buru-buru pergi!“
Aku tertawa lebar. Come-on!
Jelas-jelas kalimat Rio barusan nggak ada maksudnya! Hanya bergurau. Bagaimana
mungkin Putri menganggapnya se-serius itu?
Malam itu aku lebih banyak lagi
berpikir. Rio tahu nama Putri? Jangan-jangan apa yang disangka Putri benar, Rio
naksir Putri. Aku mengumpat langit-langit kamar. Itu tidak mungkin. Jelas-jelas
maksud kalimat Rio tadi ke aku, kan? Hanya saja ia merasa jauh lebih
nyaman kalau menyampaikannya lewat Putri. Aku tersipu malu. Melempar guling
sembarangan….
***
Kejadian Keempat. Kali ini benar-benar membuatku jengkel sekaligus bingung.
Hari keempat. Itu persis hari ulang-tahun Putri. Malam itu kami tidak ke Bubu,
meski Putri sengotot apapun hendak pergi ke sana. Lagi pula Putri memang tidak
merencanakan pergi ke sana.
Kami merayakan ulang-tahun Putri di
salah-satu warung tenda yang banyak memadati sepanjang jalan. Soto Konro. Aku,
Sari dan beberapa teman sekostan ramai memenuhi meja panjang. Putri yang
traktir. Sepanjang makan kami bukannya bilang terima-kasih, kami justru sibuk
menggoda Putri dengan gumpal perasaannya itu. Putri mengkal banget saat
aku lagi-lagi bilang tentang itu hanya perasaannya doang. Dan semua teman yang
lain mengamini-ku.
Putri mendesis kalau ia dan Rio
memang benar-benar ada feeling satu sama lain saat bertemu di Bubu. Aku
tertawa lebar. Teman-teman yang lain ikut tertawa. Tetapi, astaga! belum habis
tawa-ku, belum lenyap suara riuh-rendah itu, entah bagaimana penjelasannya, Rio
mendadak muncul di warung tenda itu. Dengan jaket tebal keren. Sek-si!
“Hei…. Allo semua…. Eh, kalian
sedang ada di sini? Lagi kumpul semuanya? Kebetulan banget.” Rio tersenyum amat
gagah-nya. Membuat keributan terhenti sejenak.
Dan kalian bisa membayangkan apa
yang terjadi malam itu di kamar kostanku. Aku kehabisan peluru untuk memutar
balik semua kalimat Putri.
“Itu kebetulan, Put! Kan Rio juga
bilang kebetulan—” Aku mulai putus asa.
“Sengaja, Tin! Nggak mungkin dia
kebetulan doang datang ke tenda itu tadi, semua orang di planet ini juga tahu
kalau gw ulang-tahun malam ini….” Putri memotong, tersinggung.
“Oke sengaja…. Tapi belum
tentu juga pengin nemuin lu, kan? Bisa jadi sengaja ingin bertemu dengan orang
lain—“
“Siapa?” Putri memotong galak.
Aku terdiam menggigit bibir.
Putri menatapku tajam. Menyelidik.
“Ah— Gw ngerti kenapa lu selama ini
selalu membantah seluruh kalimat gw…. Lu juga naksir Rio, kan? Ayo ngaku!”
Putri mendadak tertawa.
Aku buru-buru menggeleng. Meski muka
bersemu merah.
“Ayo ngaku, Tin! Lu juga naksir dia,
kan? Aduh, Tina cayang…. Kacian…. ternyata Rio naksir gw…. Jangan
patah-hati ya….” Putri tertawa amat lebarnya. Senang dengan fakta baru
tersebut. Malam itu aku yang menimpuk Putri dengan bantal guling. Menyebalkan.
***
Kejadian Kelima. Dan sejak malam ulang-tahun Putri, tidak ada lagi diskusi
menarik antara aku dan Putri soal Rio. Aku bukan hanya semakin jengkel dengan
laporan Putri atas hal-hal sepele yang seolah-olah pertanda cinta terbesar
miliknya. Aku juga semakin jengkel karena Putri balas membalik kalimatku, “Lu
nggak terima ya kalau Rio ternyata beneran naksir aku?”
Dan kalimat itu sungguh
membuatku salah-tingkah. Baiklah, kuakui saja kalau aku memang naksir Rio. Tapi
setidaknya aku masih bisa berpikir logis. Mana yang sebenarnya pertanda cinta,
mana yang hanya sekadar kebetulan, dialog biasa, atau sejenisnyalah! Aku juga
berharap selama ini Rio akan memberikan pertanda isi hatinya, tapi bukan
berarti aku akan ngarang-ngarang pertanda itu. Membiarkan hati membuat ilusi.
Membiarkan hati menyimpulkan hal keliru (yang aku tahu benar itu semua semu).
Putri hanya tertawa cekikikan saat aku mati-matian membela diri dan menjelaskan
teori itu.
Aku mengumpatnya sebal. Semoga Putri
tidak sakit-hati saat tahu kalau sebenarnya segala lirikan Rio, senyuman Rio,
dan juga pertemuan tidak sengaja di ulang-tahunnya itu sebenarnya untukku.
Bukan untuknnya. Aku berseru jengkel. Putri malah bertingkah semakin
menyebalkan.
Maka datanglah kejadian kelima itu.
Yang benar-benar membuat Putri menyadari kalau ia selama ini keliru. Tadi pagi
aku dan Putri bertemu Rio di kampus. Seperti biasa aku pikir Putri berlebihan
bersikap. Kami membicarakan urusan biasa-biasa saja. Kuliah, dosen, dan sebagainya.
Yang aku yakin nanti bisa-bisanya Putri menterjemahkannya jadi luar-biasa.
Tapi kali ini Putri tidak
berkesempatan lagi. Entah mengapa pembicaraan mendadak menyinggung konser musik
esok-malam di JHCC. “Aku punya dua tiket, lu mau ikut?” Rio menunjukkan dua
tiket miliknya.
Putri semangat banget mengangguk.
Ya ampun, yang diajak ternyata aku.
Senyap menggantung. Tamat sudah riwayatnya. Aku tidak tahu harus bilang apa
saat Rio mengajakku. Apakah aku bahagia? Apakah aku sedih? Lihatlah, Putri
hanya terdiam sepanjang sisa pertemuan di kampus. Malamnya juga mengurung diri
di kamar. Patah-hati. Aku memutuskan untuk tidak pura-pura sok-baik bersimpati
padanya malam ini. Lihatlah, saat ilusi itu terkena cahaya kebenaran yang
tersisa hanyalah kesedihan. Sendu. Besok-besok kalau sempat aku akan
membujuknya untuk melupakan seluruh perasaan itu.
Rio mengajakku nonton? Nah, kalau itu jelas sudah pertanda cinta yang luar-biasa.
Itu benar-benar menjelaskan kenapa ia selalu tersenyum dan melambai setiap
melihatku di Bubu. Selalu sembunyi-sembunyi menatap meja bacaku. Juga datang sengaja
ke ulang-tahun Putri. Itu menjelaskan semuanya….
Aku bersenandung riang memikirkan
hal tersebut.
***
Esok malamnya. Aku menyiapkan gaun
terbaik. Berdandan semenarik mungkin. Lantas riang menuju jalanan depan kostan.
Menunggu Rio menjemput di depan Bubu. Putri menatapku dengan mata terluka dari
balik jendela. Entahlah! Aku tidak sempat memperhatikannya.
Rio seperti biasa tersenyum
lebar menemuiku. Gagah sekali. Dan Sek-si. Aku benar-benar bangga bersanding
bersamanya. Inilah yang disebut dengan sebenar-benarnya pertanda cinta. Bukan
bualan hati yang mereka-reka. Rio melambai memanggil taksi biru. Kami melaju
menuju JHCC. Bukan main. Ini akan jadi kencan yang hebat.
“Tin, aku boleh tanya sesuatu,
nggak?” Rio memutus senyum manyunku. Dia menatapku sambil tersenyum lebar.
Aku mengangguk (cepat). Tersipu
malu. Sesuatu?
“Tapi kamu jangan tertawa, ya?” Rio
bersemu merah.
Ya Tuhan, bagaimana mungkin aku
mentertawakannya. Aku semakin buncah oleh perasaan menunggu. Akhirnya—
Hening sejenak. Rio mematut-matut
apa yang akan dikatakannya. Aku tertawa melihat muka tegangnya.
“Tuh, kan…. Kamu sudah tertawa
duluan!”
“Sorry…. Nggak deh. Aku nggak akan
tertawa!”
Rio mengusap wajahnya yang
berkeringat.
Aku menunggu dengan hati
berdebar-debar.
“Eh…. Ergh…. Sari tuh sudah punya
pacar belum?”
Seketika aku mematung.
“Sa-ri?”
“Ya, Sari…. Satu kost sama lu dan
Putri, kan?”
Seketika luntur seluruh kebahagiaan
itu.
Kepalaku mendadak pusing.
Berkunang-kunang. Aku sungguh tidak bisa mendengarkan lagi kalimat Rio
berikutnya.
“Tin, aku sudah lama banget naksir
Sari. Tiga hari lalu waktu lihat lu, Putri dan Sari di Bubu, aku nggak bisa
menahan diri untuk berhenti meliriknya…. Menatap wajah cantiknya…. Aku dari
dulu sudah mau nanya-nanya ke lu, tapi selalu cemas lu bakal ngetawain….
Sayang, pas gw bilang nggak tahu kostan Putri di mana, lu nggak mau jawab,
malah kabur….
Kepalaku semakin pusing…. Ternyata,
ini semua maksudnya….
“Waktu Putri ulang-tahun aku juga
sengaja datang, Tin…. Biar ketemu Sari…. Ampun, kenapa gw jadi malu-maluin
gini, ya? Harusnya gw bisa ngajak Sari ngobrol langsung malam itu, kan…. Tapi
sudahlah…. Malam ini gw ngajak lu nonton konser sebenarnya pengin nanya-nanya
soal Sari…. Lu nggak keberatan kan, Tin?”
Aku tidak lagi mendengarkan kalimat
Rio. Aku sudah terkapar di atas kursi mobil taksi. Ilusi itu! Ya Tuhan, aku
sempurna tertikam oleh ilusiku sendiri. Pengkhianatan oleh hatiku yang sibuk
menguntai simpul pertanda cinta.
Putri! Hiks! Ternyata kita senasib….
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar