MIMPI-MIMPI
SI PATAH HATI
MMSPH
1: Kutukan Kecantikan Miss X
oleh Darwis Tere Liye pada 01 September 2011 jam 19:04
Kutukan Kecantikan Miss X
Aku menuangkan dua sachet sekaligus
gula rendah kalori ke dalam gelas plastik medium size di hadapanku, lantas
mengaduknya perlahan-lahan hingga sempurna bercampur dengan aroma teh yang
menyengat. Arloji di tangan menunjukkan pukul tujuh seperempat. Memang masih
terlalu pagi untuk ukuran kelaziman, duduk sarapan di salah satu kedai fast
food yang banyak berjejer diantara toko-toko souvenir di pelataran ruang tunggu
ini.
Musim penghujan membuat suasana hati
terasa dingin dan lengang. Tapi sepagi dan sedingin ini, aktivitas bandara
telah terlihat begitu sibukmencengangkan. Tak pernah terbayangkan kapasitas dua
puluh juta penumpang per tahun itu harus segera ditambah karena semakin
merakyatnya angkutan udara.
Pesawat dari Frankurt yang membawa Bagus,
sahabat dekatku, baru akan tiba tepat satu jam lagi. Waktu yang sangat lama
untuk menunggu, lagi-lagi menurut ukuran kebiasaanku. Tapi tak mengapa,
sebenarnya aku memang membutuhkan suasana ini sebelum bertemu dengannya. Ada
banyak hal yang bisa diingat dengan nyaman selama satu jam ini. Barusan, dengan
hanya melihat kembali fotonya yang tertawa lebar sambil memeluk istrinya yang
menggendong bayi mereka, sepuluh menit menunggu pramusaji mengantarkan teh dan
sepiring donut berlalu seperti angin lembut menyenangkan. Bagus mengirimkan
foto itu sebagai attachment email terakhirnya minggu lalu, dan aku segera
mencetaknya di atas kertas terbaik dengan setting kualitas super printer foto
tercanggih milikku.
Ia bercerita soal kedatangannya ke
kota kami, salah satu kota terindah di dunia. Istrinya, Anna yang seratus
persen asli Jerman sebenarnya memang sudah lama mendesak untuk berkunjung, “Ia
bilang ingin sungkeman dengan mertuanya, tapi aku tahu ia sebenarnya ingin
sekalian plesir,” tergelak Bagus menceritakannya dalam email enam bulan lalu.
Dan sekarang kebetulan dalam suasana tahun baru, mereka bisa mengambil cuti
akhir tahun yang cukup panjang.
Apalagi Anton, bayi mereka sudah
berumur setahun lebih, sudah tidak terlalu merepotkan lagi untuk diajak terbang
berjam-jam melintasi benua.
Aku pertama kali mengenal Bagus
sebenarnya dalam situasi yang tidak menyenangkan, sepuluh tahun silam. Saat itu
kami sama-sama sedang teraniaya di “ruang dosa” ospek kampus baruku, dan dalam
suasana seperti itu orang-orang senasib seperti kami dengan segera bisa menjadi
sahabat baik. Meskipun berbeda fakultas dengan jarak gedung kelas berjauhan,
bisa dibilang hampir setiap hari kami bertemu, karena ternyata aku dan Bagus
tinggal di rumah pondokan yang sama. Hingga lulus dan kemudian bekerja, kami
memutuskan untuk tetap “menetap” di tempat tersebut.
Tak pelak lagi, setiap malam adalah
malam-malam percakapan, perdebatan, hingga curhat dan saling olokmengolok.
Awalnya topik pembicaraan kami hanya berkisar soal kesibukan kuliah, aktivitas
kampus, hobi masing-masing atau permasalahan ringan lainnya.
Semakin ke sini, filosofi kehidupan,
perjalanan percintaan, cita-cita hidup dan topik yang lebih berat serta beragam
lainnya mulai bermunculan.
Bagus adalah teman terbaik dalam
berdiskusi. Ia adalah pendengar yang baik, walaupun bisa dibilang selama ini
akulah yang banyak mengambil inisiatif obrolan atau menceritakan masalah. Ia
sangat terlatih untuk mencari solusi dalam segala persoalan, kecuali yang satu
itu: soal wanita.
***
Aku ingat sekali, malam itu jam
sembilan kurang seperempat, laiknya serdadu perang tanpa salam apalagi ketuk
pintu, Bagus menyerbu masuk ke dalam kamarku.
“Cantik, cantik banget, Rik!” ia
bahkan belum sempat melepas kaos kaki dan pakaian necis kerjanya seharian ini.
Aku yang sudah sepuluh menit terpekur di hadapan laptopku, buntu mencari ide
tulisan, menoleh dan menanggapi dengan ekspresi seadanya.
“Siapa?”
“Lu gak bakalan percaya. Lu tahu
kan, hari ini gue dipindah ke HQ Sudirman, jadi tadi pagi gue naik bus 102. Lu
tau apa yang gue temukan? Cewek, man. Gile! Sebelas dari nol sampai sepuluh,”
aku merasa antusias Bagus membuat air mukanya terlihat bercahaya.
Dengan sigap ia menjulurkan sepuluh
jarinya,tentu saja bukan sebelas. Aku tersenyum, menutup laptop. Saatnya
sekarang untuk membalas kebaikan yang selama ini sering ia lakukan untukku.
Menjadi pendengar yang baik.
Miss X, begitulah nama gadis itu.
Ini kata Bagus di hari ke sepuluh semenjak malam ia menceritakannya untuk
pertama kalinya. Tentu, aku yakin nama aslinya tak sependek itu, tapi karena
hingga hari itu, ia belum berani juga menegurnya, apalagi bertanya soal
namanya, maka untuk mempermudah penyebutan terpaksa kami menggunakan nama itu
di percakapan rutin malam.
Berambut sebahu, lurus bagai
di-rebonding, hitam legam bercahaya. Matanya tajam dan indah dengan alis yang
sempurna. Hidungnya elok dan proporsional. Bibirnya mungil merekah bagai buah
merah delima. Kulitnya putih mulus berseri, dan ia memiliki tahi lalat kecil di
dagunya yang belah, membuatnya berpadu semakin aduhai dengan lesung pipitnya.
Gadis ini selalu mengenakan blouse warna gelap dengan rok di bawah lutut yang
sewarna. Dan selalu duduk di kursi dekat jendela kiri baris dua bus patas AC
tersebut.
Deskripsi yang sangat baik untuk
ukuran seseorang yang hanya sempat melirik selintas ketika melewatinya menuju
kursi bagian belakang bus yang masih kosong. Akan tetapi jangan tanya soal
tinggi tubuhnya dan parfum yang dipakainya, Bagus belum pernah melihatnya
berdiri, karena ia turun lebih dulu dibandingkan gadis itu, dan ia juga belum
pernah berkesempatan duduk di dekatnya, karena tempat duduk bagian depan
biasanya sudah terisi penuh setiba di halte kampus.
Meski aku tidak terlalu percaya
dengan deskripsinya, masak iya ada cewek secantik itu, aku membesarkan hatinya
dengan cerita-cerita percintaanku selama ini yang mengharu biru, tentang
perasaanku ketika aku jatuh cinta pada pandangan pertama, walaupun di sana-sini
lebih banyak olokolok yang kulemparkan padanya, karena sebenarnya aku selalu
jatuh cinta pada pandangan pertama dengan gadis-gadis cantik yang kukenal.
Dan Bagus menerimanya seperti anak
kecil yang begitu senang didongengkan tentang sebuah epik. Nampaknya prospek
topik pembicaraan malam kami satu bulan ke depan tidak akan bergeser dari isu
Miss X ini, dan sialnya menilik keberanian Bagus selama ini serta dari
cerita-ceritanya aku pesimis dengan sebuah kemajuan yang berarti dalam waktu
dekat.
Akan tetapi diakhir bulan, ternyata
Bagus menceritakan sebuah perkembangan baru.
“Lu tau gak Rik, tadi pagi gue berangkat
jam enam pagi?”
“Tahu, kamar lu udah sepi pas gue
berangkat. Memangnya lu di pindah ke cabang jauh sana?”
“Tetap HQ, fren. Gue tadi pagi nggak
nyetop bus di halte kampus. Gue ke terminal dulu”
“Loh bukannya nggak praktis seperti
yang lu sering ceramah-in ke gue?” Aku malas sebenarnya mengajukan pertanyaan
ini, karena sebenarnya aku tahu persis alasannya kenapa ia tiba-tiba memilih
untuk berangkat lebih pagi, dan “membakar” setengah jam waktu paginya yang
berharga, sesuatu yang amat dibencinya selama ini.
Apalagi kalau bukan soal Miss X.
Menunggu di terminal dan mencari kesempatan untuk duduk di sampingnya saat ia
naik bus adalah strategi lumrah yang biasa aku lakukan selama ini untuk mencari
cara berkenalan dengan wanita-wanita komuter, ini istilahku untuk wanita teman
satu busku. Sayangnya ketika aku bertanya apakah ia akhirnya berhasil duduk di
sebelah Miss X.
“Gue nggak berani, Rik,” jawab Bagus
mengenaskan.
Bah!
***
Aku salah besar.
Topik pembicaraan ini ternyata
menguasai dengan sempurna malam-malam diskusi kami di kost-kostan selama enam
bulan berikutnya. Tiga bulan pertama sebenarnya masih mengasyikkan mendengar
kepolosan Bagus menceritakan perasaannya yang galau, lantas aku
memperolok-oloknya. Akan tetapi lama-kelamaan aku kehilangan kesabaran dan
selera bermain-main lagi.
Untuk ukuran kelazimanku, tingkah
laku Bagus soal yang satu ini sangat memalukan. Aku bisa menerima alasan bahwa
memang tidak mudah untuk menjalin hubungan dengan seorang gadis yang cantik,
apalagi itu cinta pertama. Akan tetapi fakta bahwa ia menyadari sangat menyukai
Miss X, dan berkali-kali berkata, “Tak bisa hidup tanpanya, Rik” ternyata tidak
mampu membuatnya untuk membuat kemajuan yang berarti, selain menceritakan hal
yang itu-itu saja (kecuali soal tinggi Miss X yang 160 cm, kurang lebih
sedagunya—Bagus akhirnya memutuskan untuk membuntutinya hingga ia turun di
salah satu halte jalan Thamrin) membuatku jengkel setengah mati.
Aku kehilangan kesabaran atas
kepengecutannya. Dan lebih gemas lagi ketika ia mencoba mencari-cari alasan
untuk menjelaskan kepengecutannya itu. Capai sudah aku menceramahinya soal
Tania, macan kampus yang dulu aku taklukan dengan nekad berdiri di depan
rumahnya berhari-hari, atau Dewi anak kost-kostan seberang rumah yang kupikat
dengan pura-pura menyukai serial teleivisi Friends lantas mendapatkan alasan
untuk meminjam koleksi DVD original miliknya. Belum lagi gadis-gadis lain yang
pernah menjadi pacarku selama ini yang sebenarnya belum pernah kuceritakan ke
orang lain. Tak kurang pula berpuluhpuluh buku referensi soal beginian
kulemparkan ke kamarnya.
Bulan depan, genap setahun malamku
dihabiskan untuk membahas Miss X. Dan ketika aku dicemaskan kemungkinan setahun
penuh ini malam-malamku mubazir dihabiskan hanya menjadi pendengar yang baik,
malam itu Bagus datang ke kamarku, membahas soal lain. Minggu depan ia akan
tugas belajar ke Jerman. Aku tercengang, bukan karena surprise terbebaskan dari
topik yang selama ini menjengkelkanku, tapi lebih karena teramat mendadak.
“Nggak juga sih Rik, sebenarnya sudah
hampir enam bulan ini gue merencanakannya. Tapi, selama ini gue emang nggak
sempat cerita ke lu,”
Bah! Tentu saja tidak akan pernah
sempat.
***
Semenjak itu, pembicaraan kami soal
Miss X tutup buku. Benar-benar tutup buku. Bagus bahkan tak pernah membahasnya
dalam email-email yang dikirimkannya setelah ia benar-benar berangkat ke
Jerman. Hanya ada satu email yang sempat menyinggung soal Miss X ini, dan itu
dikirimkannya ketika ia mulai mengenal Anna sebagai partner risetnya di
universitas Jerman enam bulan setelah ia berada di sana.
“Rik, setelah gue pikir-pikir, gue
rasa gue bukanlah cowok pengecut seperti yang selama ini lu olok-olokkan.
Buktinya sekarang gue dengan mudah bisa mengenal dan dekat dengan Anna.
Semuanya berjalan begitu lancar, gue sendiri nggak pernah merasa perlu
menggunakan tips-tips dari lu.
“Tapi kenapa waktu itu sangat sulit
ya??? Gue juga nggak tahu persis kenapa. Mungkin gue pikir dialah yang menjadi
masalahnya. Sosoknya terlalu kuat, fren, terlalu mempesona, membuat gue begitu
terdeterminasi. Rik, gue berani bertaruh: semua pria yang pernah mengenalnya
dan memiliki perasaan suka dengannya juga mengalami kejadian seperti gue.
Mungkin dia adalah kutukan yang sempurna atas sebuah kecantikan.”
Aku tersenyum sambil nyengir hambar
sekaligus getir.
***
Sekarang pukul delapan lewat dua
puluh lima menit. Cangkir tehku yang kedua juga sudah habis. Pesawat yang
membawa sahabat baikku sepuluh menit lalu sudah mendarat. Dan sekarang pasti
Bagus sedang menggandeng istrinya sambil mendorong kereta bayinya menyelusuri
lorong-lorong bandara. Aku berdiri beranjak meninggalkan kedai fast food.
Kuletakkan selembar uang dua puluh ribuan sebagai tips di atas meja. Hari ini
aku sedang ingin berbagi kebaikan.
Apa yang pertama kali akan
kulakukan? Tersenyum lepas menyapa dan memelukya? Sekadar bersalaman menanyakan
kabar? Atau mengungkapkan segala kejadian yang ia tidak ketahui setelah ia
pergi ke Jerman? Tiba-tiba aku berdiri dengan sebuah perasaan yang tak kukenali
lagi di depan pintu keluar penumpang itu.
Ah, seandainya Bagus tahu, hari ini
tepat dua tahun lamanya aku juga tersiksa. Seandainya ia tahu apa yang telah
terjadi sehari setelah aku mengantar kepergiannya di bandara waktu itu.
Aku begitu terpukul melihat air
mukanya yang sangat kecewa saat itu, dan satu-satunya penyebab kekecewaan itu
apalagi kalau bukan persoalan Miss X. Kesedihan itu semakin dalam karena Bagus
tidak pernah lagi berkata-kata soal ini selama seminggu sebelum
keberangkatannya, benarlah kata orang terkadang sembilu lebih tajam tanpa dihujamkan,
dan karena itulah aku tiba-tiba menjadi begitu benci, begitu dendam pada gadis
itu. Aku memutuskan untuk menemuinya di atas bus patas AC 102 pagi hari
kemudian. Harus ada “perhitungan” berarti dengannya.
Tetapi ternyata kamu benar Gus,
gadis itu adalah sebuah kutukan. Hingga hari ini genap sudah dua tahun aku
selalu “terpaksa” naik bus itu, padahal kamu tahu persis kantor redaksi
majalahku bagaikan langit dan bumi dengan arah bus itu. Ada obsesi yang selalu
memaksaku untuk melirik kursi dekat jendela sebelah kiri baris kedua dari depan
itu. Ada berjuta kebahagiaan aneh-mengendalikan yang datang meski sebatas hanya
memandang sekilas wajahnya yang begitu…. Ada sebuah ekstase di sana…..
Dan ternyata aku tak mampu
melakukannya lebih dari itu, hingga hari ini, meskipun sekadar untuk berkata,
“Hi. Saya Erik, boleh kenalan?”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar