Kamis, 02 Juli 2015

Rumah adalah Tempat Pertama dan Terbaik untuk Pendidkan Anak



Teringat perbincangan dengan rekan sesama guru beberapa waktu lalu, saya dan beberapa guru senior (hihihi saya junior ya, karna saya masih muda dan belum berpengalaman serta masih mencoba belajar :D ) membicarakan tentang anak-anak yang bermasalah. Tidak ada habisnya ya jika kita membicarakan hal ini, saya rasa setiap sekolah pasti ada saja anak-anak yang memiliki latar belakang kurang baik atau bermasalah.

Saya sebagai seorang wali kelas pun ikut merasakan hal itu, karna saya juga punya anak yang kurang baik. Menilik kembali permasalahan di atas, bapak-bapak dan ibu-ibu guru pun mempunyai beberapa penarikan kesimpulan faktor apa saja yang paling mempengaruhi sikap seorang anak.

Pertama-tama, lingkungan pergaulan. Ya lingkungan pergaulan amat sangat mempengathi sikap seorang anak. Apalagi dengan umur yang masih labil atau lebih tepatnya ingin selalu dibilang keren, banyak anak-anak yang berani melakukan hal yang dianggap keren namun seungguhnya tidak cukup pantas untuk dilakukan hanya untuk menunjukkan bahwa dirinya ada atau dengan kata lain “show off”. Banyak contoh perilakunya, ya mungkin kalian lebih tahu kal ya dari pada saya.

Namun yang tidak kalah pentingnya menurut perbincangan kami adalah Rumah. Menurut beberapa guru senior, rumah bukan hanya berarti lingkungan rumahnya saja namun kembali lagi kepada proses awal mula kemunculan sang anak. Wahh, kenapa bisa begitu ya? Jadi hal pertama yang kita harus telaah sebagai orang tua dan calon orang tua itu adalah proses pembuatan sang anak :D hahaha kenapa jadi ke sini ya, :p

Dalam agama kita, niat merupakan segalanya. Segala sesuatunya itu berdasarkan niatnya atau “innamal a’malu bin niat” (mudah-mudahan bener tulisannya), nah jadi ketika proses pembuatan sang anak, kita sebagai orang tua atau calon orang tua haruslah meluruskan niat kita, bahkan niat awal kita saat ingin menikah, hal tersebut adalah cikal bakal dari pembentukan pribadi anak, maka sebaiknya dimulai dengan berdo’a, dengan membaca do’a, meminta perlindungan yang terbaik dari sang khalik serta diniatkan untuk yang baik maka proses awal atau cikal bakal terbentuknya sang anak diharapkan anak melahirkan seorang anak yang baik pula.

Setelah anak melihat dunia, masuklah peranan kondisi lingkungan yang ada di dalam rumah. Sebagai orang tua dan calon orang tua, dengan segala keterbatasan yang kita miliki, kita harus belajar dan menanamkan dasar pemahaman yang baik untuk seorang anak. Jangan ketika anak mendadak ngambek karna tidak dibelikan sesuatu kita langsung membujuknya dan memanjakannya, ada baiknya kita beri pemahaman sedikit demi sedikit bahwa tidak ada sesuatu yang instan. Hal ini bertujuan untuk mencegah agar anak kelak tidak bersikap menyepelekan seuatu dan tidak sebentar-sebentar ngambek atau besar kepala.

Karna rumah adalah tempat pertama anak belajar maka semoga kita bisa menjadi orang tua dan calon orang tua yang dapat menjadi contoh untuk anaknya, yang mampu mengajarkan hal baik pada anaknya, karna anak akan dengan mudah cepat meniru tingkah laku kita dan apa saja yang kita bicarakan. Rumah juga merupakan tempat terbaik untuk belajar anak, ya itu benar, karna di dalam rumah kita mampu melihat dan mengawasi perkembangannya, ajak anak untuk bercerita bersama, untuk mengaji, ajari dia sedikit demi sedikit tentang hal yang baik maupun yang kurang baik. Karna ketika kondisi rumah nyaman disitu pula anak akan merasakan kenyamanan yang tidak akan ia dapatkan di tempat lain.

Buat rumah menjadi tempat komunikasi yang terbaik yang ia rasakan sehingga kelak, ketika dewasa sang anak melihat keluar dan berada di suatu lingkungan atau keaadan yang tidak baik ia akan selalu memiliki naluri bahwa rumahnyalah yang paling nyaman. Karena kepribadian dasar seorang anak berawal dari rumahnya.

Semoga kita bisa menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kita kelak~ ;;)
 
Rumah, 3 Juli 2015 13:15 PM

MENDIDIK DAN MENGAJAR



Menjadi seseorang yang berprofesi dengan sebutan “guru” tidaklah mudah, kenapa? Karena pada hakikatnya seorang guru yang baik adalah guru yang dapat menjadi contoh yang baik untuk anak didiknya. Di era seperti saat ini, dengan begitu banyak budaya yang telah masuk dan membaur pada pola kehidupan kita, saya rasa sudah sedikit banyak ada pergeseran sikap dari seorang guru itu sendiri.

Saya sendiri pun terkandang berkata apakah saya sudah menjadi sosok seorang guru yang pantas untuk digugu dan ditiru? Terkadang saya masih berkaca, perilaku keseharian saya baik dalam bergaul dengan rekan guru, gaya berbicara, bahkan update-an di media sosial, saya rasa saya masih sering khilaf dan salah dalam memposting sesuatu atau berperilaku sesuatu. Saya masih harus belajar, belajar meletakkan sesuatu pada tempatnya apalagi dengan profesi saya yang notabene katanya pekerjaan yg mulia. :D

Kembali ke mendidik atau mengajar? Anak didik atau anak ajar? Hhmm, saya rasa tidak ada ya istilah anak ajar? Dan apa bedanya antara mendidik dan mengajar?. Menurut saya, ketika ada seseorang mentransfer pengetahuannya kepada orang lain itu sudah bisa disebut dengan mengajar. Pada saat seseorang memberikan apa yang ia ketahui kepada orang lain lalu orang lain itu jadi tahu, itulah yang dinamakan dengan proses belajar dan mengajar. Sesimpel itu bukan mengajar?

Lohh, kalau gitu sama saja dengan proses pembelajaran di kelas? Guru menerangkan lalu anak diberikan latihan, ulangan harian, dan sebagainya beres dong yah? Tapi tidak, tidak sesimpel itu menjadi seorang guru bagi saya. Kembali lagi dengan kata mendidik atau mengajar? Lalu pendidikan atau pengajaran? Jika mengajar itu adalah proses mentrasfer ilmu pengetauan, tapi mendidik bukanlah hanya sekedar mentransfer ilmu pengetahuan yang kita punya.

Pada hakikatnya pendidikan merupakan proses untuk memanusiakan manusia, ketika ada  yang bertanya, lohh mba, kenapa manusia harus dimanusiakan? Jawabannya simple, karna jika seseorang yang tidak tahu apa-apa hanya diajarkan apa yang harus diketahui tanpa dasar pemahaman yang baik, penanaman sikap yang baik, apa yang akan terjadi? Ia hanya akan menjadi seseorang yang tahu tapi tanpa tahu mana yang baik untuk dilakukan mana yang tidak.

Saya rasa mendidik itu jauh lebih pas daripada kata mengajar, karna sebagai seorang guru kita tidak hanya dituntut untuk mengajarkan materi pelajaran saja melaikan mengajarkan dan menanamkan karakter yang baik di dalam diri anak didik kita. Makanya saya berkata menjadi seorang guru itu tidak mudah, karna bagi saya seorang guru itu dikatakan berhasil dalam mendidik bukan hanya ketika semua anak didiknya mempunyai nilai yang bagus melainkan ketika dapat membentuk karakter yg terbaik pada diri anak didiknya. Sebagai seorang guru alangkah lebih baik ketika kita tidak hanya berorientasi kepada nilai, melaikan harus memperhatikan juga bagaimana anak didik kita mengalami proses perubahan sikap, dari yang kurang baik agar menjadi lebih baik lagi.

Saya masih percaya bahwa kemapuan seseorang dapat terbentuk dari pemahaman serta karakternya dalam kehidupan sehari-hari. Karna kemampuan itu dapat berkembang, diasah seiring dengan berjalannya waktu dan hanya orang-orang yang memiliki pemahaman baikalah yang mau mengasah kemampuannya. Saya rasa kalian juga setuju ketika saya bilang, kemampuan itu lebih penting daripada nilai/angka yang tercetak dengan baik bukan? Pilih mana seseorang yang cerdas yang memiliki nilai baik tapi memiliki karakter perusak / annoying dibanding dengan anak yang biasa saja tapi memiliki karakter yang baik?

Saya rasa setiap orang pasti inginnya memilih seseorang yang cerdas dengan karakter yang baik bukan? Disitulah tugas kita sebagai seorang pendidik, apakah kita mampu mendidik setiap anak kita dengan baik? Setiap guru pasti akan melakukan yang terbaik bukan? Ya, setidaknya mari kita lalukan yang terbaik yang bisa kita lakukan, dan terakhir mari kita mendidik jangan hanya mengajar! ;)

Semoga kita bisa menjadi pendidik yang lebih baik lagi, \=d/
 
Rumah, 3 Juli 2015 11:45 AM

Kamis, 07 Mei 2015

Sendiri di Keramaian itu Nyaman

Helloo, sudah lama ya saya gag pernah menulis lagi di sini :D

Hhmmm, banyak sekali yg terjadi akhir-akhir ini, bukan akhir" ini si, tapi lebih tepatnya selama ini, *curcol lagi ya* hahaha

Akhir-akhir ini, entah kenapa saya lagi asyik menikmati yg namany sendirian di tempat ramai. Berlatar dari pengalaman lalu, saya juga tidak paham kenapa org yg tidak suka sendirian seperti saya bisa nyaman ditempat ramai sendirian.

Dulu saya tidak percaya diri ketika harus membeli sesuatu sendirian, tapi sekarang saya justru menikmatinya, meskipun terkadang masih juga merasa aneh tapi saya tetap nyaman. Eits tapi jangan mikir kalo saya itu jomblo ya, percaya atau tidak saya bukan single loh ya saya punya kok yg namany pacar.. Hihihi

Nahh, kalo ada yg tanya kenapa kok gag minta ditemenin pacarnya? Hhmm saya cuma bisa ketawa aja sih ya, apa karna saya org yg gengsian atau emg saya udh males pake cara" kebanyakan wanita jaman sekarang yg sering ngerengek minta ditemenin sama cowokny, kalo saya pribadi malah gag enak kalo harus bgtu, karna berasa ngerepotin.. Hehe

Buat saya selama bisa sendiri atau sama temen ya sudah lakuin aja, cukup sekali aja bilangny, kalo ditemenin syukur kalo lupa ya udahlah~ hahaha (pasrah bgt ya saya :D ). Tapi jelekny disisi lain justru kadang malah jadi bikin yg namanya racap saya itu cuek sih, hahaha *balik lagi ke yasudahlah ya~ :D x_x

Eitss back to nyaman di tempat ramai, sekarang saya bisa enjoy loh ya ketika saya mau ke sini, mau makan ini itu, ya selama bisa dijangkau, saya PD aja jalan sendiri dan duduk atau makan sendiri di suatu tempat, terkadang malah saya nonton film sendiran kalo teman" lagi gag ada yg bisa gabung.

Ahh tapi lama lama saya ngerasa senang saja ketika duduk ditempat ramai, lalu makan makanan yg emg lagi di-pengenin, tau gag apa yg saya suka? Saya senang aja ngekiat tingkah laku anak" sekarang dan semua org yg ada di tempat itu, terkadang banyak hal lucu dan ada juga hal yg dapat kita ambil pelajaran dari suatu kejadian.

Intinya si yah, saya lagi suka aja duduk duduk sendirian di suatu tempat yg ramai lalu memperhatikan keramain tersebut, entah karna hal apa dan entah akan sampai kapan seperti ini.. :)

Selamat malamm~ selamat atas postingan barunya (ini sih selamatnya buat saya)

Salam dari Guru Matematika yg Masih belajar Matematika~ :*

Minggu, 29 Juli 2012

Hujan dan Nara


Hujan dan nara..

Gadis itu duduk terdiam dengan tatapannya yang kosong, ia tidak tahu bahwa ada sepasang mata yang mengintainya. Cahaya mata gadis itu, bukan cahaya mata yang biasa ia tunjukkan dalam kesehariannya, cahaya mata itu begitu dalam, seolah mencoba menelan bulat-bulat sesuatu yang pahit, sorotnya tajam tapi tampak di dalamnya tergambar keperihan yang sangat dalam yang sepertinya ia coba buang jauh-jauh dan ia hanyutkan hingga ke dasar samudra. Entah apa yang ada dipikirannya, hanya sesaat ia seperti itu lalu kembali ia mendangahkan kepalanya seolah telah tersadar dari mimpinya dan kembali lagi, ya sorot matanya telah kembali lagi, sorot mata yang berapi-api, sorot mata yang penuh dengan kegairahan tentang mimpi, tentang hidup, keceriaan, sorot mata yang begitu jernih, bersinar, seperti mata bidadari. Namun ia benar-benar tidak menyadari sepasang mata yang memperhatikannya, yang sejak saat itu akan selalu mengintainya dan memergokinya setiap kali ia memancarkan sorot matanya yang lain itu.
Namanya Bianara khairani
Dan ketika keadaan memaksa kita untuk menjadi kuat, maka tak ada jalan lain selain menjadi kuat atau kau akan dihempaskan begitu saja oleh keadaan..
Juli 2011, @anonym café
“selamat datang miss, ada yang bisa saya bantu?”, Tanya seorang pramusaji sesaat setelah seorang gadis masuk melewati pintu utama café mereka. “hahaaha, terlalu berlebihan deh ih, kaya sama siapa aja, nanti juga kalo mau mesen gw panggil, duduk aja belum ber.” Sapa gadis itu ramah. “yee, kan ceritanya biar sopan bi, biar dikata elo udah langganan disini tapi kita kan harus tetep sopan, hehe.” gadis itu tertawa renyah, “biasa ya ber, hot cappuccino, thanks.” Lalu pergi meninggalkan pramusaji yang bernama Beri tadi menuju best position miliknya.
Anonym café, café bernuansa cokelat itu merupakan café langganan bian, café yang mempunyai luas sekitar 18 x 10 meter itu nampak terlihat seperti chocolate cake jika dilihat dari luar, atapnya yang datar dan berwarna putih dengan sebuah bola lampu warna merah ditengahnya didesign khusus agar terlihat seperti fla dan buah cerinya, dinding luarnya berwarna coklat tua yang diselingi dengan garis berwarna krem setebal 10 centi meter pada setiap 50 centi meternya sehingga nampak seperti cake berwarna coklat  yang berlapis fla berwarna krem lalu dilapisi dengan cake coklat lagi hingga terlihat seperti tumpukan chocolate cake sungguhan.
Karena letaknya yang berada disudut jalan, maka café ini mempunyai 2 buah pintu, pintu utamanya terletak ditengah dengan dua daun pintu yang terbuat dari kaca, pintu yang satunya lagi ada disamping, dengan satu daun pintu yang terbuat dari kaca juga, sirkulasi udara dalam café ini cukup baik, karena terkadang AC tidak diperlukan, hal ini dikarenakan mereka mempunyai jendela besar yang dapat dibuka lebar-lebar sehingga udara yang masuk terasa segar.
Best position milik bian teletak di pojok kanan café, tepat bersebelahan dengan jendela kaca yang besar dan terbuka lebar. Ia biasa menumpukan lengannya pada jendela dan menatap keluar.
Aku terbiasa menelan bulat-bulat rasa inginku,
Aku terbiasa menelan pahitnya ketidaksetujuan,
Aku terbiasa dengan dinginnya komentar,
Dan aku terbiasa menjadi kerdil atas diriku sendiri..
Aku ingin marah, ingin berteriak, ingin bersuara,
Aku ingin didengar dan aku ingin diberi dukungan,
Aku tidak meminta lebih untuk hal-hal yang tidak bermanfaat,
Aku tidak pernah meminta agar aku seperti anak lain,
Aku hanya ingin menyalurkan apa yang aku suka..
Tidak untuk menjadi orang-orang yang hebat,
Tapi untuk mengetahui dan melihat lebih dekat orang-orang hebat itu,
Aku hanya ingin berkumpul dengan mereka,
Lalu mengambil hikmah dari kehebatan mereka..
            Tapi kamu selalu menolak inginku,
Entah apa yang ada dipikiran kamu,
Kamu bilang aku tidak pantas untuk ikut kegiatan seperti itu,
Kegiatan itu hanya untuk orang-orang yang berada,
Dan aku tidak akan pernah bisa menjadi seperti mereka..
Karena aku teramat menghargai kamu,
Aku teramat menyayangi kamu,
Dan aku teramat menghormatikamu
Aku selalu mematikan dan membunuh hampir seluruh inginku..
Tapi kamu tidak akan pernah tahu,
Betapa pedih dan sakitnya aku, sangat sakit rasanya,
Seperti luka yang ditaburi garam,
Layaknya luka yang belum mengering lalu ditambahkan luka lagi,
Tapi untuk kali kesekiannya aku tak dapat berbuat apa-apa..
Kadang aku berpikir, aku layaknya boneka,
Boneka yang hanya diberi satu tujuan hidup,
Karena aku tak boleh melihat kearah yang lain,
Bahkan untuk mengintip saja aku tidak boleh..
Kadang kamu mengaitkan alasanmu hanya karena faktor uang,
Aku menyukai sosial, aku hanya ingin bekerja sosial,
Bertemu dengan orang-orang yang besar hatinya,
Apakah untuk peduli itu sungguh yang dibutuhkan hanyalah uang?
Tapi kamu selalu seperti itu, atau kamu takut aku tidak lulus kuliah kah?
Aku ingin jujur saat ini, bosan menyimpannya di dalam otak,
Aku menyukai ‘teater’, aku menyukai perkumpulan ‘utan kayu’,
Aku ingin sedikit saja bisa mengenal dan dekat dengan kedua hal itu,
Tapi kamu berkata tidak, dan kamu selalu berkata tidak..
            Betapa sakit rasanya mendengar kata itu,
            Aku tidak pantas bersama orang-orang itu,
            Begitu katamu, setiap kali aku mengutarakan inginku,
            Apakah aku seburuk itu hingga tak pantas bergaul dengan orang luar?
            Tangisan pun takkan sanggup mengungkap sakitnya..
Aku selalu tertawa, tersenyum, hingga tak ada yang tahu hal ini,
Tapi aku juga manusia, ada kalanya aku mengasihani diriku,
Kasihan karena kamu tak mau melihat inginku,
Menengok pun tidak mau, bagaimana aku bisa mendapatkan dukungan..
            Aku selalu bersemangat ketika aku mengutarakan inginku,
            Tapi kamu selalu mematahkan semangat itu,
            Menjatuhkan aku, seakan aku ini pemimpi yang naïf,
            Tak pernah terdengar lantunan semangat dari kamu,
            Lalu semuanya akan terasa gelap bagiku, semua terasa kebas..
Perasaan kebas itu layaknya teman karib,
Aku bilang aku sudah terbiasa dengan persaan kebas itu,
Apakah ini dapat termasuk dalam kategori pembunuhan jati diri?,
Atau termasuk dalam pembunuhan karakter? Atau hak asasi?
            Rasanya jahat sekali jika aku menuduh seperti itu,
            Tetapi aku, tidakkah ada yang bisa melihat aku disni?
            Adakah yang mau memberiku celah untuk itu?
            Membantuku untuk setidaknya melihatnya sesekali saja,
            Tapi, akankah ada yang datang dan memahami inginku?
            Paling tidak sekedar memahami dan berdiri disampingku,
            Membantu aku melupakan semua dan tertawa lepas..
            Membantu aku membesarkan hati ini..
Gadis itu, bangkit dari duduknya setelah hampir 1 jam ia disana, waktu yang singkat, karena biasanya ia bisa menghabiskan waktunya hingga 2 jam lebih di tempat itu untuk membaca buku, mengerjakan soal matematika atau hanya sekedar melepas penat.
***
Pagi itu, bian menilik Hpnya yang bergetar, ternyata Cuma sms dari Dika, teman cowok satu jurusan di kampusnya. “ternyata bukan dari rino” keluh bian.
Bian dan rino, mereka tumbuh bersama, persahabatan mereka dimulai sejak saat itu. 


#sampai saat ini belum bisa melanjutkan ini, pengen banget nyelesaian, tapi belum sempet.. maaf ya masih sepenggal.. *permintaan maaf untuk diri sendiri*.. :( :(

Aku, Rasa dan Dalam Diam..


Diam tak bergeming,
Memikirkan tentang semua, tapi aku tak tahu apa yang harus dilakukan,
Bergelut dengan rasa, dengan hati dan dengan akal,
Aku ingin teriak,
Meneriakkan apa yang aku rasa,
Tak peduli apakah ada yang mendengar atau tidak,
Tapi aku juga kepingin nangis,
Rasanya aku kini terpojok,
Tersudut karna aku yang mereka lihat bukan aku yang sebenarnya,
Aku mau berbicara,
Tapi lidah ini kelu, kelu sekali,
Hingga otakkupun  tak mampu membuatnya angkat bicara,
Aku sudah berkali-kali berbicara,
Tapi tetap tak ada beda,
Tak ada yang dapat benar-benar merasakan apa yang aku rasa,
Tahukan kalian,
Sungguh aku kini benar-benar merasa tersakiti,
Tidak, bukan, lebih tepatnya aku merasa limbung,
Limbung layakknya kertas yang terombang-ambing diudara karena tiupan angin,
Benar-benar merasa sperti orang linglung,
Tahukah kamu,
Aku ingin membicarakan tentang rasa,
Ya, tentang rasa,
Apa itu rasa?
Aku, kamu dan mereka tahu akan rasa,
Tapi akankah aku, kamu dan mereka dapat merasakan rasa yang sama?
Kamu bilang, ya, aku tahu apa yang kau rasa,
Mereka juga bilang, ya, kami tahu apa yang kau rasa,
Tapi sungguh itu bukan berarti kalian benar-benar dapat merasakannya,
Rasa, rasa yang ada pada setiap orang itu berbeda,
Tak ada yang benar-benar sama, apalagi identik,
Rasa, rasa tak dapat diukur, tak dapat disentuh, tak dapat dilihat,
Rasa hanya dapat dirasakan,
Rasa itu jauh berbeda dengan perasaan,
Rasa itu layaknya atom,
Karena rasa itu merupakan unsur terkecil yang tak dapat dibagi-bagi lagi,
Hanya ada satu rasa utuk satu orang,
Layaknya fungsi satu-satu pada pemetaan,
Beda halnya dengan perasaan,
Perasaan dapat dibagi, ia dapat telihat dan dapat berwujud,
Tawa, tangis, keduanya merupakan wujud dari perasaan,
Dimana di dalam tawa dan tangis ada perasaan bahagia dan sedih,
Namun tak ada yang tahu pasti seberapa besarnya,
Dan rasa terletak di dalam perasaan itu sendiri,
Rasa menjadi bagian terkecil dari perasaan yang ada,
Menjadi landasan dari semua perasaan yang terwujud,
Dan tak pernah ada orang yang benar-benar me-rasa-kan rasa yang sama,
Sekalipun mereka kembar identik,
Rasa diciptakan Tuhan layaknya Tuhan menciptakan manusia,
Tak ada yang sama, dan tak kan pernah sama,
Namun mengapa begitu sulit untukku saat ini,
Sangat sulit untukku menentukan rasa yang ada,
Sungguh, aku tak dapat mendefinisikannya lebih jauh,
Dan disini,
Aku hanya dapat terdiam,
Tak bergeming, tak bergerak, tak berbicara,
Karena sungguh, rasanya sangat sesak,
Dan aku takut terjatuh, takut mengambil keputusan,
Dan semua ketidakpastian ini,
Akankah aku dapat mengubahnya menjadi pasti,
Aku tidak tahu,
Bukan, lebih tepatnya aku belum tahu..