Teringat perbincangan
dengan rekan sesama guru beberapa waktu lalu, saya dan beberapa guru senior
(hihihi saya junior ya, karna saya masih muda dan belum berpengalaman serta
masih mencoba belajar :D ) membicarakan tentang anak-anak yang bermasalah. Tidak
ada habisnya ya jika kita membicarakan hal ini, saya rasa setiap sekolah pasti
ada saja anak-anak yang memiliki latar belakang kurang baik atau bermasalah.
Saya sebagai seorang wali
kelas pun ikut merasakan hal itu, karna saya juga punya anak yang kurang baik. Menilik
kembali permasalahan di atas, bapak-bapak dan ibu-ibu guru pun mempunyai
beberapa penarikan kesimpulan faktor apa saja yang paling mempengaruhi sikap
seorang anak.
Pertama-tama,
lingkungan pergaulan. Ya lingkungan pergaulan amat sangat mempengathi sikap
seorang anak. Apalagi dengan umur yang masih labil atau lebih tepatnya ingin
selalu dibilang keren, banyak anak-anak yang berani melakukan hal yang dianggap
keren namun seungguhnya tidak cukup pantas untuk dilakukan hanya untuk
menunjukkan bahwa dirinya ada atau dengan kata lain “show off”. Banyak contoh
perilakunya, ya mungkin kalian lebih tahu kal ya dari pada saya.
Namun yang tidak kalah
pentingnya menurut perbincangan kami adalah Rumah. Menurut beberapa guru
senior, rumah bukan hanya berarti lingkungan rumahnya saja namun kembali lagi
kepada proses awal mula kemunculan sang anak. Wahh, kenapa bisa begitu ya? Jadi
hal pertama yang kita harus telaah sebagai orang tua dan calon orang tua itu
adalah proses pembuatan sang anak :D hahaha kenapa jadi ke sini ya, :p
Dalam agama kita, niat
merupakan segalanya. Segala sesuatunya itu berdasarkan niatnya atau “innamal a’malu
bin niat” (mudah-mudahan bener tulisannya), nah jadi ketika proses pembuatan
sang anak, kita sebagai orang tua atau calon orang tua haruslah meluruskan niat
kita, bahkan niat awal kita saat ingin menikah, hal tersebut adalah cikal bakal
dari pembentukan pribadi anak, maka sebaiknya dimulai dengan berdo’a, dengan membaca
do’a, meminta perlindungan yang terbaik dari sang khalik serta diniatkan untuk
yang baik maka proses awal atau cikal bakal terbentuknya sang anak diharapkan
anak melahirkan seorang anak yang baik pula.
Setelah anak melihat
dunia, masuklah peranan kondisi lingkungan yang ada di dalam rumah. Sebagai orang
tua dan calon orang tua, dengan segala keterbatasan yang kita miliki, kita
harus belajar dan menanamkan dasar pemahaman yang baik untuk seorang anak. Jangan
ketika anak mendadak ngambek karna tidak dibelikan sesuatu kita langsung
membujuknya dan memanjakannya, ada baiknya kita beri pemahaman sedikit demi
sedikit bahwa tidak ada sesuatu yang instan. Hal ini bertujuan untuk mencegah
agar anak kelak tidak bersikap menyepelekan seuatu dan tidak sebentar-sebentar
ngambek atau besar kepala.
Karna rumah adalah
tempat pertama anak belajar maka semoga kita bisa menjadi orang tua dan calon
orang tua yang dapat menjadi contoh untuk anaknya, yang mampu mengajarkan hal
baik pada anaknya, karna anak akan dengan mudah cepat meniru tingkah laku kita
dan apa saja yang kita bicarakan. Rumah juga merupakan tempat terbaik untuk
belajar anak, ya itu benar, karna di dalam rumah kita mampu melihat dan
mengawasi perkembangannya, ajak anak untuk bercerita bersama, untuk mengaji,
ajari dia sedikit demi sedikit tentang hal yang baik maupun yang kurang baik. Karna
ketika kondisi rumah nyaman disitu pula anak akan merasakan kenyamanan yang
tidak akan ia dapatkan di tempat lain.
Buat rumah menjadi
tempat komunikasi yang terbaik yang ia rasakan sehingga kelak, ketika dewasa
sang anak melihat keluar dan berada di suatu lingkungan atau keaadan yang tidak
baik ia akan selalu memiliki naluri bahwa rumahnyalah yang paling nyaman. Karena
kepribadian dasar seorang anak berawal dari rumahnya.
Semoga kita bisa
menjadi orang tua yang baik untuk anak-anak kita kelak~ ;;)
Rumah, 3 Juli 2015 13:15 PM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar