SENJA DIKALA ITU
Disini, aku
terdiam dalam kebisuan
Bertanya dalam
beribu bahasa
dan dalam
beribu hasrat yang membuncah
Tapi aku bisa
apa? Kami bisa apa?
Kami disini
hampir kehilangan kepercayaan kami
Lihatlah,
mereka semua yang ada disana lupa
Lupa pada
janji mereka, lupa pada sumpah mereka
Yang
sebelumnya mereka umbarkan pada rakyat..
Kalau sudah
seperti ini akan sulit bukan?
Kehilangan
kepercayaan sama dengan kehilangan kekuatan
Sama dengan
hilangnya persatuan
Dan sama
dengan hilangnya rasa memilki..
Saudaraku, maukah
kalian menengok kebelakang sebentar?
Mari sama-sama
kita lihat, melihat hakikat dasar kita
Menjadi
seorang khalifah bukan?
Menjadi seorang
pemimpin di muka bumi ini..
Tapi pemimpin
yang bagaimana?
Mungkinkah kita
telah kelihangan sosok seorang pemimpin?
*BETAPA MERINDUNYA KAMI DENGAN MU WAHAI RASUL*
Pada suatu
senja, duduk seorang kakek dengan seorang anak laki-laki yang masih belia.
Mereka duduk di bawah sebuah pohon yang teduh. Kakek itu duduk termenung tanpa
menghiraukan celoteh sang anak.
“Kakek, kenapa
akhir-akhir ini kakek sering termenung? Padahal aku selalu berceloteh dan
mengumbar berbagai macam pertanyaan, tapi tak satupun pertanyaanku yang kau
jawab dengan penuh perhatian.” Protes sang anak
Kakek itu
hanya tersenyum simpul seraya merangkul bahu sang anak.
“Wahai,
pahlawanku maukah kau menceritakannya padaku?” rajuk sang anak. “Apa yang
membuatmu kini termenung kakek?”
Kakek itu pun
menarik nafasnya dalam-dalam lalu tersenyum simpul seraya berkata “Aku
merindukan seseorang anakku, sangat rindu hingga aku memimpikan kehadirannya
kembali di dunia ini”
“Kau
merindukan siapa kek? Nenek?” Namun kakek hanya menggelengkan kepalanya.
“Lalu siapa
yang kau rindukan kek?” Tanya sang anak, penasaran.
“Aku rindu
akan hadirnya seorang pemimpin anakku, pemimpin yang memiliki jiwa sebagai
seorang pemimpin, layaknya Nabi kita Muhammad saw.”
“Aku tahu
tentang Nabi Muhammad, tapi bukankah tidak ada yang bisa menyamai beliau kek?”
Tanya sang anak
“Ya, kau
benar. Tapi kita bisa mendekatinya, tidak akan sama seperti beliau tapi kita
bisa mendekati jiwa kepemimpinannya dalam memimpin umat” jawab kakek
“Memangnya
siapa saja yang dapat menjadi pemimpin?”
“Semuanya
anakku, semua manusia di bumi ini bisa menjadi seorang pemimpin”
“kalau begitu
aku mau menjadi pemimpin kek, apa yang harus aku lakukan agar dapat menjadi
pemimpin kelak?”
Kaget
mendengar pernyataan sang anak, kakek pun bertanya kembali, “Kau sungguh ingin
menjadi seorang pemimpin?”
“Sungguh kek,
karena aku ingin seperti Nabi Muhammad, jelaskan padaku tentang apa itu
kepemimpinan?” Tanya sang anak dengan mata berbinar penuh dengan rasa ingin
tahu.
Kakek
tersenyum melihat sang anak yang demikian besar rasa ingin tahunya. “Lihatlah,
berada dimana kita sekarang? Di bawah pohon bukan? Lihat ini anakku, akar pohon
ini sungguh besar manfaatnya dalam menopang kelangsungan hidup daun dan
rantingnya. Nah, pemimpin itu ibarat akar pohon, ia menopang segalanya, ia
adalah inti dari semuanya, ia selalu memberi agar pohon tumbuh menjadi pohon
yang memiliki daun, bunga dan buah yang banyak hingga bermanfaat bukan hanya
untuk pohon itu sendiri melainkan untuk
makhluk lain, untuk kita berteduh, untuk para burung membuat sarang mereka, dan
juga untuk para ulat bertahan hidup, ia ada untuk melayani bukan untuk
dilayani, ia tersembunyi karena memang begitu sangat pentingnya dia, karena
tanpa akar sebuah pohon tidak dapat berdiri kokoh dan tumbuh menjadi pohon yang
besar.”
“Pemimpin yang
baik adalah pemimpin yang mampu membuat keadaan sekitarnya menjadi lebih baik,
bagaikan pohon yang selalu memberikan banyak manfaat untuk sekitarnya dan
peduli pada sekitarnya. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang tetap tegar dan
kokoh dikala cobaan mengguncang, bagaikan akar yang mencengkram tanah dikala
angin kencang meniup batang dan daunnya yang rapuh. Pemimpin yang baik adalah
pemimpin yang tegas, layaknya akar yang dengan tegas tidak mensuplai makanan
pada daun yang telah rusak dimakan ulat lalu membiarkan daun itu terjatuh ke
tanah.”
“Menjadi
seorang pemimpin tidak mudah anakku, kau harus dapat memimpin dirimu sendiri
sebelum kau memimpin orang lain, dan sanggupkah kau menopang segalanya tanpa
rasa pamrih?” Tanya kakek kepada sang anak.
“Ya kek, aku
siap, lalu adakah hal lain yang paling penting untuk menjadi seorang pemimpin
yang baik?”
“Ingat ini
nak, pemimpin yang baik adalah pemimpin yang selalu mendengar pendapat para
anggotanya serta selalu berusaha untuk bersikap bijak. Terakhir dan yang paling
penting, pemimpin yang baik itu adalah pemimpin yang selalu melibatkan Tuhan
dalam setiap langkahnya, tanpa terkecuali. Kuncinya disini nak, jika kau
benar-benar ingin menjadi seorang pemimpin yang baik seperti Nabi Muhammad
saw.”
“Aku paham kek, mungkin sekarang aku masih belum cukup umur untuk berperan sebagai pemimpin, tapi sore ini kala senja menyapa kita, aku berjanji, aku akan belajar menjadi seorang pemimpin yang baik, agar setidaknya aku dapat menjadi pemimpin atas diriku sendiri terlebih dahulu.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar