31-06-2011
Hidup itu butuh perjuangan, hidup itu tidak selalu diwarnai oleh tawa. Katanya kalau belum merasakan terjatuh, kita belum mencecap apa itu sari pati dari yang namanya kehidupan, ketika itu rasanya akan teramat pahit. Mungkin Tuhan memang menciptakan rasa pahit disela-sela rasa manis yang ada, rasa sakit ditengah rasa bahagia yang ada, rasa terpuruk karena dijatuhkan disaat kita menaruh rasa kepercayaan pada orang lain. aku belum tahu pasti mengapa ada itu semua, mungkin semua itu diibaratkan sebagai suatu penyeimbang dalam kehidupaan, layaknya yin dan yang dalam mitologi orang china.
Aku tidak pernah menyalahkan Tuhan untuk masalah yang menimpaku ini. Yang aku tahu, pasti itu semua karena Dia teramat menyayangiku. Tetapi maaf Tuhan, aku masih merasakan yang namanya sakit, rasanya sakit sekali seperti aku telah dijatuhkan dari lantai atas gedung pencakar langit yang tertinggi di dunia.
Setiap Detik dalam Hidupku
Setiap detik dalam hidupku diwarnai pengkhianatan
Terlalu kejam tuk jadi kenyataan
Terlalu buruk tuk jadi mimpi buruk
Dan tangisan pun tak sanggup menggambarkan apapun
Lagu-lagu mengalunkan nada empati
Seolah tahu perasaan apa ini
Seandainya semudah itu menerima kenyataan
Seandainya ia tak merampas seluruh nafasku
Seandainya ia menyisakan sedikit untukku
Agar setidaknya ku bisa berdiri lagi
Benar kiasan menyayat hati
Teriris tipis dan tertusuk tombak dalam-dalam
Bilamana darah yang tak terhenti
Mengucur dari irisan nadiku
Seperti itulah sakit yang abadi
Napasku direnggutnya
Nyawaku dicurinya
Ia mengambil semuanya
Setiap detik dalam hidupku
(silvia arinie-life-11)
30juni2011
Untuk kali keduanya, aku benar-benar terjatuh lagi, kali ini jatuhnya benar-benar cukup membuatku sakit. Lebih sakit dari sebelumnya. Aku bukanya meratapi atau melebih-lebihkan tentang keadaan yang ada, tapi pernahkah kalian rasakan terjatuh dua kali hanya dalam jangka waktu enam bulan. Aku telah salah memilih dan mempercayakan hati ini untuk orang yang salah lagi. Aku pikir percuma aku mencoba berbuat baik kepada orang lain lagi kalau kenyataanya seperti ini. Sebelumnya aku belajar dari kesalahanku saat menjalani hubungan dengan mantan-mantanku, nyaris hampir dibilang aku berubah 180 derajat untuk mencoba bersikap baik, manis dan menjadi seorang ‘pacar’ yang baik untuknya. Salah satu hal yang sekarang aku pikir bodoh sekali kenapa aku harus melakukan hal itu beberapa waktu yang lalu.
Satu kata untuk kamu yang sejak lama ingin aku katakan, kamu benar-benar dan sungguh-sungguh berhasil mengalahkan aku dalam urusan hati, sehingga hati ini dulu pernah jatuh dan mempercayakan kamu mengisi ruang kosong dihatiku. Terserah apaupun alasan yang kamu ucap, aku benar-benar tak percaya apalagi setelah aku melihat kenyataan yang ada. Maaf Tuhan, bukannya aku berprasangka yang tidak baik terhadap orang lain, tapi sejauh mata memandang memang yang terlihat seperti itu. Entah itu benar atau tidak, aku tidak peduli dan sudah tidak mau tahu lagi. Mungkin ini terdengar naïf, tapi terserah akupun sudah tidak peduli lagi apa kata orang lain bahkan apa kata teman-temanku. Karena sesungghuhnya mereka belum tentu dapat menjalani hal yang sama seperti apa yang aku alami. Pengkhianatan besar-besaran yang aku lihat di depan mataku.
Jangan pernah merasa besar kepala, karena aku bukan menagisi kepergian kamu, tapi yang aku tangisi adalah kesalahan yang telah aku perbuat. Ya, sejauh ini kamu adalah kesalahan paling besar yang telah aku perbuat. Cerobohnya aku karena aku telah mengabaikan keraguan yang ada sejak awal. Ragu akan kebenaran atas kata ‘cinta’ dan ‘sayang’ yang kamu ucapkan. Tapi aku juga sudah mengakuinya bukan, saat itu, saat dimana terjadi suatu percakapan besar, aku berkata “aku kalah sama kamu, kamu memang telah berhasil menumbuhkan rasa dihatiku namun semua itu tergantung keputusan dia”. Tidakkah kalian tahu, sungguh bingung berada dalam posisiku saat itu, aku mengakui akan keberadaan rasa itu namun aku sungguh masih ragu. Dan bodohnya aku, aku lebih memilih mengabaikan rasa ragu itu dan memlih mencoba berhubungan dengan kamu.
Semuanya memang telah terjadi, dan aku tak kan bisa memutar waktu kembali hanya agar aku tidak mengambil keputusan itu. Dan saat itu aku benar-benar dibuat percaya olehmu, atau lebih tepatnya aku benar-benar mencoba percaya pada apa yang kamu katakan dan apa yang kamu lakukan. Dan untuk pertama kalinya aku mengambil keputusan untuk menggunakan relationship with … in facebook, suatu hal yang aku tidak suka tapi aku mengabaikan rasa tidak sukaku hanya karena aku takut mengulang kesalahan yang lalu dan takut kamu merasa tidak diakui. Rasanya ingin sekali aku tertawa sambil meneriaki betapa bodohnya keputusanku yang satu itu. Dan kebodohan lainnya yang merupakan kebodohan paling bodoh yang aku lakukan adalah saat aku mulai membiarkan rasa yang ada dihatiku itu tumbuh karena aku pikir kamu bisa dipercaya.
Yang namanya pertemuan pasti ada perpisahan, untungnya slogan itu sejak awal aku pegang. Aku menggenggam erat kata-kata itu dan aku selalu berdo’a dalam tiap sujudku kepada Tuhan. “Tuhan jika orang itu baik untukku maka biarkanlah ia tetap ada disampingku namun, jika orang itu tidak baik untukku dan hanya mempunyai niat yang kurang baik untuk kehidupanku maka secepatnya jauhkanlah ia dari diriku dan jagalah hati ini agar tidak terlalu dalam untuk memberikan rasa yang lebih kepadanya dan agar aku tidak jatuh terlarut jika ia pergi”.
Rasa itu memang aku biarkan tumbuh hingga yang namanya rasa ‘sayang‘ itu pernah ada untuk kamu. Tapi tetap rasa itu tidak bisa menuju ke rasa yang lebih dalam yaitu ‘cinta’, karena cinta adalah rasa yang penuh dengan harapan, harapan untuk bisa bersama selamanya dengan orang yang kita kasihi. Dan Alhamdulillah, tidak pernah terbesit satupun bayangan tentang aku akan bersama dengan kamu selamanya, tentang harapan di masa depan, karena yang aku tahu saat itu hanya, “ya dijalanin aja dulu apa yang ada, jangan mikir yang muluk-muluk, toh masih jauh perjalanan, umur masih kecil, aku masih ingin mengejar cita-citaku dan aku masih punya mimpi yang jauh lebih penting daripada hanaya sekedar urusan cinta”. Disamping aku mengakui saat itu memang aku ‘sayang’ sama kamu tapi aku tidak mau berharap yang lebih tentang aku dan kamu.
Aku memang merasakan sakit hati, aku memang kecewa, dan aku memang menangis saat mendengar pernyataan kamu yang katanya “mama nyuruh aku balikan sama mantan aku, katanya, buat apa pacaran lama-lama kalo akhirnya putus juga, pokoknya mama gag mau tau kamu harus udah balikan sebelum bulan puasa, nanti kita juga kesana ketemu sama keluarganya, kalo sama yang sekarang kan baru sebentar, jadi pasti lebih mudah buat pisahnya”. Hello, baru kali ini aku diginiin, seumur-umur aku pacaran baru kali ini yang namanya putus karena orang tua. Wow, ketemu sama aku aja mama kamu belum pernah, udah maen ngejudge aku kaya gini aja. Kalo kata aku ini tuh udah menyangkut sama yang namanya harga diri, seenak jidadnya aja ngomong kaya gitu, kaya anaknya paling baik seantero dunia aja. Ampun deh, saking emosinya tuh aku sampe kepikiran hal kaya gitu, astaghfirullah sempet su’udzon aku sama nyokapnya dia. Sempet mikir, kalo nyokapnya tuh gag punya persaan bisa ampe ngomong kaya gitu. Dan sebagai pelampiasannya, tuh malem aku ceramahin aja dia panjang lebar mengenai tanggungjawab, kepercayaan, sikap, dan sebagainya. Saat itu aku memang ngga ngelakuin hal aneh seperti marah-marah atau nangis-nangis, aku bener-bener jadi orang yang menggurui dia tentang yang namanya hidup.
Saat itu aku bener-bener merasa telah dipermainkan sama dia. dari a sampe z, bener-bener deh tuh aku menggurui dia, karena menurut aku orang kaya dia memang harus digurui, terserahlah nanti kedepannya dia mau kaya gimana. Tapi kalo udah digituin masih sama aja mah itu emang berarti dianya aja yang bebel, gag tau malu.
Aku tidak mau berkata bahwa aku tidak menangis, munafik jika aku bilang bahwa aku tidak menangis. Karena malamnya, aku benar-benar menangis, ya menangis karena aku merasa aku telah dipermainkan, merasa kecewa, merasa dikhianati, merasa bodoh karena aku telah salah memilih kamu, semua perasaan bercampur menjadi satu, dan aku memang tak dapat membendung air mataku lagi. Tapi saat itu aku tahu, sangat tahu, bahwa tidak pantas aku menangisinya, sangat tidak pantas, dan aku berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan menangisi kamu lagi maksimal dalam jangka waktu 2 hari, ya hanya untuk hari ini dan esok, namun tidak untuk hari selanjutnya, karena aku tahu, bahwa senuanya kini telah jelas.
Semua kini telah jelas
Amat jelas, hingga luka itu tak mungkin kututupi lagi
Tapi air mata ini hanya akan menetes hari ini
Tapi luka ini hanya akan melukaiku detik ini
Aku sungguh telah merelakanmu
Karena kau kini sungguh adalah masa laluku
Boleh saja aku kini menangis,
Tapi air mata itu hanya untuk saat ini
Boleh saja aku bersedih,
Tapi aku berjanji akan bangkit kembali
Aku sungguh telah merelakanmu
Karena kau kini sungguh telah menjadi kenangan
Untukku
Sepenuh hati kulepaskan dirimu,
sepenuh hati kumenangisimu kini,
tapi tidak lagi esok, tidak lagi lusa, dan tidak lagi untuk selamanya..
Irin Sintriana (I bros U – 217/218)
1juli2011
Semua kembali seperti biasanya, karena aku tahu, aku dapat berdiri tegar dan aku masih harus berjuang dengan penuh peluh untuk masa depanku, ya, semangatku kembai berapi-api karena seminggu lagi sudah memasuki masa UAS. Dan aku tidak mau ketinggalan untuk belajar lebih giat dan menyegerakan tugas-tugas yang harus dikumpulkan diminggu tenang ini agar sesegera mungkin selesai. Tidak ada waktu untuk memikirkan atau bahkan mengingat kamu, tidak ada kata untuk menjelaskan apa yang terjadi pada orang lain. karena setiap orang bertanya “emang beneran putus?” Aku hanya menjawab dengan entengnya, “ya, emang harus putus dan emang beneran putus”. Setiap mereka mendesakku utnuk menjawab kenapa aku putus, ya aku hanya bisa bilang yang sebenarnya terjadi “dia disuruh sama nyokapnya buat balikan lagi sama mantannya ”. Udah aku gag pernah menambahkan atau mengurangi dan aku pun malas untuk cerita panjang lebar kalo gag didesak untuk cerita, cape juga kan ditanyain mulu.. hehe.
Sampai satu ketika, disaat aku sudah bosan dan lelah mendengar pertanyaan dari orang lain yang aku rasa memang sudah tidak perlu dibahas lagi, karena sudah basi menurutku, tepatnya pada hari ke-2 atau ke-3 UAS, aku mendengar cerita dari orang yang menurutku bisa dipercaya kebenaran kata-katanya, bahwa kamu membicarakan aku mengenai hal-hal yang menurut aku terlalu bersifat pribadi dan menurutku hal itu tidak pantas dibicarakan, dan itu tidak benar adanya. Kamu benar-benar seperti anak kecil, dan jujur saat itu aku benar-benar muak dengan kamu, muak semuak-muaknya!!!.
Aku tidak pernah berniat untuk menyalahkan kamu atas apa yang terjadi karena memang tidak ada gunanya lagi untuk menyalahkan, tapi aku sungguh kecewa dengan apa yang telah kamu lakukan. Dan, ada yang pernah bilang padaku kalau kamu pernah berkata, kamu termotivasi dari kata-kata ‘si anu’ karena dia bilang, “aku tuh gag mungkin suka sama kamu dan kamu tuh bukan tipenya aku, kamu sama aku tuh gag cocok”, tahukah kamu, mendengar hal itu, aku benar-benar merasa marah, ya marah karena jika hal itu benar adanya berarti selama ini dari awal kamu memang sudah berniat hanya ingin mempermainkan aku. Sepicik itukah kamu?, Dan apakah kamu merasa puas sekarang?, kamu merasa menang?, kamu merasa hebat?, merasa bahwa kamu itu bisa mendapatkan apa yang kamu mau termasuk mendapatkan aku? ingin rasanya aku mencak-mencak dan langsung bicara sama kamu, lebih tepatnya ingin memaki diri kamu. Jika bisa malah rasanya aku ingin membelah otakmu agar dapat mengetahui apa sih jalan pikiran kamu dan apa sih yang kamu mau? Satu hal yang aku ambil dari hal-hal ini, bahwa ternyata kamu benar-benar MUNAFIK dan SEPERTI ANAK KECIL.
Sempet kesal sekali rasanya, tapi ya sudahlah mau diapain lagi, anggap saja ini semua sebagai bentuk ujian kesabaran dari Tuhan kepadaku. Tapi aku tidak tinggal diam, aku berdo’a pada Tuhan, “Ya Rabb, engkau yang maha tahu atas segala sesuatu yang terjadi dimuka bumi ini, dan atas apa yang terjadi padaku, aku takkan mengeluh jika ia berkata yang macam-macam tentangku, tapi aku mohon Ya Rabb, sabarkanlah aku, tunjukkanlah kebenaran yang ada, aku yakin, yakin seyakin yakinnya bahwa kamu tidak buta dan tidak tuli Tuhan, dan cepat atau lambat, disadari ataupun tidak ia sadari ia akan mendapatkan balasan yang setimpal dari-Mu, dan aku yakin itu”. Ini untuk pertama kalinya aku berdo’a yang seperti ini kepada Tuhan, karena aku benar-benar merasa dicurangi, maaf jika menurut kalian ini berlebihan, tapi kalian tidak akan pernah tahu bagaimana perasaanku saat itu.
Dan untuk kedua kalinya, aku mencoba untuk bersikap seolah tidak ada apa-apa lagi, aku telah meredam kemarahanku, lagipula untuk apa aku marah kalau hanya buang-buang energy aja, lebih baik beralih pada kegiatan yang lebih positif. Dan aku tidak mau memikirkan hal-hal ini, karena hanya akan mengotori pikiran saja, we must go on gusy. J
Aku ingat, ingat sekali kata-kata dari seorang teman yang bener-bener menurut aku keren.. heheh
Jangan takut,
Biarin orang lain berkata apapun tentang diri lo han,
Toh dia belum tentu bisa ngejalanin hidup yang sama seperti apa yang elo jalanin,
Mereka hanya bisa berbicara,
Abaikan semua hal yang tidak meninggikan lo,
Yang berusaha menghancurkan dan merendahkan lo,
Semangat” han.. J
By:R
Dan untuk saat ini sampai nanti, saya hanya akan bersikap sewajarnya, karena initnya mah kan cuma “CUKUP TAU AJA”, jadi sebisa mungkin saya akan bersikap sewajarnya, karena saya itu tipe orang yang kalau sudah tahu bahwa sifat si anu seperti ini, saya akan merasa kurang respek kepada apapun yang berbau hal tentang orang itu (dalam pengecualian untuk hal-hal positif, biar gw gag demen sama seseorang tapi kalo untuk ngelakuin hal-hal yang positif pasti bakal gw tahan-tahanin deh ampe hal-hal positif itu terlaksana, apalagi itu untuk kebaikan banyak orang, gw telen-telenin deh tuh rasa gag demen gw, hehe). jadi jangan pernah ada yang menyalah artikan sikap saya ya, karena saya tidak mau dibilang munafik atau apalah, karena sungguh saat ini saya sudah benar-benar tidak ada rasa apapun untuk dia, kecuali hanya untuk berteman (pengecualian, tidak mungkin bisa persis seperti dulu ya..). Mari kita mulai hidup baru kawan.. J
The last, untuk kamu, kamu memang benar-benar berhasil mengalahkan aku dalam urusan hati saat itu. Tapi kamu tidak akan pernah bisa benar-benar berhasil mengalahkan aku untuk urusan bertahan, dan semangat dalam menjalani hidup, kamu tidak akan bisa menjatuhkan aku hanya karena semua hal yang telah kau lakukan padaku, karena sampai kapanpun aku takkan pernah membiarkan siapapun termasuk kamu merusak dan mencabik-cabik setiap untaian usahaku dan sulaman prinsip-prinsipku dalam menjalani hidup ini. Karena aku akan berjuang sampai titik darah penghabisan untuk mempertahankan usaha dan prinsipku dalam menjalani kehidupan ini. Berjuang untuk hidup di dunia dan juga untuk hidup di akhirat. J
yampunn segitu marahnya kayanya sama dia, pdahal kn dendam itu ga boleh, dan menurut aku kamu itu wanita yg luar biasa baiknya, jadi sangat disayangkan kalo di dlem hati kamu tersimpan rasa dengki. dan mudah-mudahan kamu dapet sosok yang bisa menumbuhkan cinta di hatimu,.
BalasHapusAmin..:)
maaf ya, anda itu belum tau saya jadi tolong jangan bicara tentang sesuatu yang tidak anda ketahui, karena saya gag pernah menyimpan dendam ataupun marah saya kepada siapapun termasuk dia, kalaupun anda tau saya, apakah anda tau bagaimana dulu saya berjuang untuk meredam semua emosi saya? it's really so hard to make it real guys, but i know, since some month ago i can real it, step by step i can controlled it, karena saya paham dan sangat tahu itu bukan untuk kebaikan siapapun, itu kebaikan yang saya lakukan untuk diri saya sendiri, karena saya mencintai dan menghargai diri saya serta Tuhan yang menciptakan saya..
BalasHapuskalau dulu saya marah itu wajar kan? aneh namanya kalau saya gag marah, kelainan mungkin, karena segala sesuatu itu butuh proses kawan, dan alhamdulillah saya udah lewat dari proses yang satu itu, entah ke depannya saya akan diberikan proses yang seperti apa dari Tuhan, kita gag pernah tau kan?
tapi tetap, segala sesuatu kejadian yang telah didiferensialkan akan sulit untuk diintegralkan kembali, bisa tapi tetap tidak akan kembali seperti awal, layaknya gelas yang sudah pecah berkeping-keping sekalipun bisa dikembalikan seperti semula baik itu dengan lem telur sekalipun pasti akan masih ada bekasnya, sama seperti kepercayaan yang telah ditorehkan dengan setitik saja ketidak jujuran ia tak kan pernah bisa kembali seutuhnya meskipun usaha untuk memperbaikinya ada..
terimakasih untuk sarannya, dan kesediannya mau berkunjung, terimakasih juga untuk do'anya, amin..
(nb: never judge me guys, because you don't know me)