Hujan
dan nara..
Gadis
itu duduk terdiam dengan tatapannya yang kosong, ia tidak tahu bahwa ada
sepasang mata yang mengintainya. Cahaya mata gadis itu, bukan cahaya mata yang
biasa ia tunjukkan dalam kesehariannya, cahaya mata itu begitu dalam, seolah
mencoba menelan bulat-bulat sesuatu yang pahit, sorotnya tajam tapi tampak di
dalamnya tergambar keperihan yang sangat dalam yang sepertinya ia coba buang
jauh-jauh dan ia hanyutkan hingga ke dasar samudra. Entah apa yang ada
dipikirannya, hanya sesaat ia seperti itu lalu kembali ia mendangahkan
kepalanya seolah telah tersadar dari mimpinya dan kembali lagi, ya sorot
matanya telah kembali lagi, sorot mata yang berapi-api, sorot mata yang penuh
dengan kegairahan tentang mimpi, tentang hidup, keceriaan, sorot mata yang
begitu jernih, bersinar, seperti mata bidadari. Namun ia benar-benar tidak
menyadari sepasang mata yang memperhatikannya, yang sejak saat itu akan selalu
mengintainya dan memergokinya setiap kali ia memancarkan sorot matanya yang
lain itu.
Namanya
Bianara khairani
Dan ketika keadaan
memaksa kita untuk menjadi kuat, maka tak ada jalan lain selain menjadi kuat
atau kau akan dihempaskan begitu saja oleh keadaan..
Juli 2011, @anonym café
“selamat datang miss,
ada yang bisa saya bantu?”, Tanya seorang pramusaji sesaat setelah seorang
gadis masuk melewati pintu utama café
mereka. “hahaaha, terlalu berlebihan deh ih, kaya sama siapa aja, nanti juga
kalo mau mesen gw panggil, duduk aja belum ber.” Sapa gadis itu ramah. “yee,
kan ceritanya biar sopan bi, biar dikata elo udah langganan disini tapi kita
kan harus tetep sopan, hehe.” gadis itu tertawa renyah, “biasa ya ber, hot
cappuccino, thanks.” Lalu pergi meninggalkan pramusaji yang bernama Beri tadi
menuju best position miliknya.
Anonym café, café bernuansa cokelat itu merupakan café langganan bian, café yang
mempunyai luas sekitar 18 x 10 meter itu nampak terlihat seperti chocolate cake
jika dilihat dari luar, atapnya yang datar dan berwarna putih dengan sebuah
bola lampu warna merah ditengahnya didesign khusus agar terlihat seperti fla
dan buah cerinya, dinding luarnya berwarna coklat tua yang diselingi dengan
garis berwarna krem setebal 10 centi meter pada setiap 50 centi meternya
sehingga nampak seperti cake berwarna
coklat yang berlapis fla berwarna krem
lalu dilapisi dengan cake coklat lagi
hingga terlihat seperti tumpukan chocolate cake sungguhan.
Karena letaknya yang
berada disudut jalan, maka café ini mempunyai 2 buah pintu, pintu utamanya
terletak ditengah dengan dua daun pintu yang terbuat dari kaca, pintu yang
satunya lagi ada disamping, dengan satu daun pintu yang terbuat dari kaca juga,
sirkulasi udara dalam café ini cukup baik, karena terkadang AC tidak diperlukan,
hal ini dikarenakan mereka mempunyai jendela besar yang dapat dibuka
lebar-lebar sehingga udara yang masuk terasa segar.
Best position milik
bian teletak di pojok kanan café, tepat bersebelahan dengan jendela kaca yang
besar dan terbuka lebar. Ia biasa menumpukan lengannya pada jendela dan menatap
keluar.
Aku
terbiasa menelan bulat-bulat rasa inginku,
Aku
terbiasa menelan pahitnya ketidaksetujuan,
Aku
terbiasa dengan dinginnya komentar,
Dan
aku terbiasa menjadi kerdil atas diriku sendiri..
Aku ingin marah, ingin berteriak,
ingin bersuara,
Aku ingin didengar dan aku ingin
diberi dukungan,
Aku tidak meminta lebih untuk
hal-hal yang tidak bermanfaat,
Aku tidak pernah meminta agar aku
seperti anak lain,
Aku hanya ingin menyalurkan apa
yang aku suka..
Tidak
untuk menjadi orang-orang yang hebat,
Tapi
untuk mengetahui dan melihat lebih dekat orang-orang hebat itu,
Aku
hanya ingin berkumpul dengan mereka,
Lalu
mengambil hikmah dari kehebatan mereka..
Tapi kamu selalu menolak inginku,
Entah apa yang ada dipikiran
kamu,
Kamu bilang aku tidak pantas
untuk ikut kegiatan seperti itu,
Kegiatan itu hanya untuk
orang-orang yang berada,
Dan aku tidak akan pernah bisa
menjadi seperti mereka..
Karena
aku teramat menghargai kamu,
Aku
teramat menyayangi kamu,
Dan
aku teramat menghormatikamu
Aku
selalu mematikan dan membunuh hampir seluruh inginku..
Tapi kamu tidak akan pernah tahu,
Betapa pedih dan sakitnya aku,
sangat sakit rasanya,
Seperti luka yang ditaburi garam,
Layaknya luka yang belum mengering
lalu ditambahkan luka lagi,
Tapi untuk kali kesekiannya aku
tak dapat berbuat apa-apa..
Kadang
aku berpikir, aku layaknya boneka,
Boneka
yang hanya diberi satu tujuan hidup,
Karena
aku tak boleh melihat kearah yang lain,
Bahkan
untuk mengintip saja aku tidak boleh..
Kadang kamu mengaitkan alasanmu
hanya karena faktor uang,
Aku menyukai sosial, aku hanya
ingin bekerja sosial,
Bertemu dengan orang-orang yang
besar hatinya,
Apakah untuk peduli itu sungguh
yang dibutuhkan hanyalah uang?
Tapi kamu selalu seperti itu,
atau kamu takut aku tidak lulus kuliah kah?
Aku
ingin jujur saat ini, bosan menyimpannya di dalam otak,
Aku
menyukai ‘teater’, aku menyukai perkumpulan ‘utan kayu’,
Aku
ingin sedikit saja bisa mengenal dan dekat dengan kedua hal itu,
Tapi
kamu berkata tidak, dan kamu selalu berkata tidak..
Betapa sakit rasanya mendengar kata
itu,
Aku tidak pantas bersama orang-orang
itu,
Begitu katamu, setiap kali aku
mengutarakan inginku,
Apakah aku seburuk itu hingga tak
pantas bergaul dengan orang luar?
Tangisan pun takkan sanggup mengungkap
sakitnya..
Aku
selalu tertawa, tersenyum, hingga tak ada yang tahu hal ini,
Tapi
aku juga manusia, ada kalanya aku mengasihani diriku,
Kasihan
karena kamu tak mau melihat inginku,
Menengok
pun tidak mau, bagaimana aku bisa mendapatkan dukungan..
Aku selalu bersemangat ketika aku
mengutarakan inginku,
Tapi kamu selalu mematahkan semangat
itu,
Menjatuhkan aku, seakan aku ini
pemimpi yang naïf,
Tak pernah terdengar lantunan
semangat dari kamu,
Lalu semuanya akan terasa gelap
bagiku, semua terasa kebas..
Perasaan
kebas itu layaknya teman karib,
Aku
bilang aku sudah terbiasa dengan persaan kebas itu,
Apakah
ini dapat termasuk dalam kategori pembunuhan jati diri?,
Atau
termasuk dalam pembunuhan karakter? Atau hak asasi?
Rasanya jahat sekali jika aku
menuduh seperti itu,
Tetapi aku, tidakkah ada yang bisa
melihat aku disni?
Adakah yang mau memberiku celah
untuk itu?
Membantuku untuk setidaknya
melihatnya sesekali saja,
Tapi, akankah ada yang datang dan
memahami inginku?
Paling tidak sekedar memahami dan
berdiri disampingku,
Membantu aku melupakan semua dan
tertawa lepas..
Membantu aku membesarkan hati ini..
Gadis itu, bangkit
dari duduknya setelah hampir 1 jam ia disana, waktu yang singkat, karena
biasanya ia bisa menghabiskan waktunya hingga 2 jam lebih di tempat itu untuk
membaca buku, mengerjakan soal matematika atau hanya sekedar melepas penat.
***
Pagi itu, bian
menilik Hpnya yang bergetar, ternyata Cuma sms dari Dika, teman cowok satu
jurusan di kampusnya. “ternyata bukan dari rino” keluh bian.
Bian
dan rino, mereka tumbuh bersama, persahabatan mereka dimulai sejak saat itu. #sampai saat ini belum bisa melanjutkan ini, pengen banget nyelesaian, tapi belum sempet.. maaf ya masih sepenggal.. *permintaan maaf untuk diri sendiri*.. :( :(