Minggu, 29 Juli 2012

Hujan dan Nara


Hujan dan nara..

Gadis itu duduk terdiam dengan tatapannya yang kosong, ia tidak tahu bahwa ada sepasang mata yang mengintainya. Cahaya mata gadis itu, bukan cahaya mata yang biasa ia tunjukkan dalam kesehariannya, cahaya mata itu begitu dalam, seolah mencoba menelan bulat-bulat sesuatu yang pahit, sorotnya tajam tapi tampak di dalamnya tergambar keperihan yang sangat dalam yang sepertinya ia coba buang jauh-jauh dan ia hanyutkan hingga ke dasar samudra. Entah apa yang ada dipikirannya, hanya sesaat ia seperti itu lalu kembali ia mendangahkan kepalanya seolah telah tersadar dari mimpinya dan kembali lagi, ya sorot matanya telah kembali lagi, sorot mata yang berapi-api, sorot mata yang penuh dengan kegairahan tentang mimpi, tentang hidup, keceriaan, sorot mata yang begitu jernih, bersinar, seperti mata bidadari. Namun ia benar-benar tidak menyadari sepasang mata yang memperhatikannya, yang sejak saat itu akan selalu mengintainya dan memergokinya setiap kali ia memancarkan sorot matanya yang lain itu.
Namanya Bianara khairani
Dan ketika keadaan memaksa kita untuk menjadi kuat, maka tak ada jalan lain selain menjadi kuat atau kau akan dihempaskan begitu saja oleh keadaan..
Juli 2011, @anonym café
“selamat datang miss, ada yang bisa saya bantu?”, Tanya seorang pramusaji sesaat setelah seorang gadis masuk melewati pintu utama café mereka. “hahaaha, terlalu berlebihan deh ih, kaya sama siapa aja, nanti juga kalo mau mesen gw panggil, duduk aja belum ber.” Sapa gadis itu ramah. “yee, kan ceritanya biar sopan bi, biar dikata elo udah langganan disini tapi kita kan harus tetep sopan, hehe.” gadis itu tertawa renyah, “biasa ya ber, hot cappuccino, thanks.” Lalu pergi meninggalkan pramusaji yang bernama Beri tadi menuju best position miliknya.
Anonym café, café bernuansa cokelat itu merupakan café langganan bian, café yang mempunyai luas sekitar 18 x 10 meter itu nampak terlihat seperti chocolate cake jika dilihat dari luar, atapnya yang datar dan berwarna putih dengan sebuah bola lampu warna merah ditengahnya didesign khusus agar terlihat seperti fla dan buah cerinya, dinding luarnya berwarna coklat tua yang diselingi dengan garis berwarna krem setebal 10 centi meter pada setiap 50 centi meternya sehingga nampak seperti cake berwarna coklat  yang berlapis fla berwarna krem lalu dilapisi dengan cake coklat lagi hingga terlihat seperti tumpukan chocolate cake sungguhan.
Karena letaknya yang berada disudut jalan, maka café ini mempunyai 2 buah pintu, pintu utamanya terletak ditengah dengan dua daun pintu yang terbuat dari kaca, pintu yang satunya lagi ada disamping, dengan satu daun pintu yang terbuat dari kaca juga, sirkulasi udara dalam café ini cukup baik, karena terkadang AC tidak diperlukan, hal ini dikarenakan mereka mempunyai jendela besar yang dapat dibuka lebar-lebar sehingga udara yang masuk terasa segar.
Best position milik bian teletak di pojok kanan café, tepat bersebelahan dengan jendela kaca yang besar dan terbuka lebar. Ia biasa menumpukan lengannya pada jendela dan menatap keluar.
Aku terbiasa menelan bulat-bulat rasa inginku,
Aku terbiasa menelan pahitnya ketidaksetujuan,
Aku terbiasa dengan dinginnya komentar,
Dan aku terbiasa menjadi kerdil atas diriku sendiri..
Aku ingin marah, ingin berteriak, ingin bersuara,
Aku ingin didengar dan aku ingin diberi dukungan,
Aku tidak meminta lebih untuk hal-hal yang tidak bermanfaat,
Aku tidak pernah meminta agar aku seperti anak lain,
Aku hanya ingin menyalurkan apa yang aku suka..
Tidak untuk menjadi orang-orang yang hebat,
Tapi untuk mengetahui dan melihat lebih dekat orang-orang hebat itu,
Aku hanya ingin berkumpul dengan mereka,
Lalu mengambil hikmah dari kehebatan mereka..
            Tapi kamu selalu menolak inginku,
Entah apa yang ada dipikiran kamu,
Kamu bilang aku tidak pantas untuk ikut kegiatan seperti itu,
Kegiatan itu hanya untuk orang-orang yang berada,
Dan aku tidak akan pernah bisa menjadi seperti mereka..
Karena aku teramat menghargai kamu,
Aku teramat menyayangi kamu,
Dan aku teramat menghormatikamu
Aku selalu mematikan dan membunuh hampir seluruh inginku..
Tapi kamu tidak akan pernah tahu,
Betapa pedih dan sakitnya aku, sangat sakit rasanya,
Seperti luka yang ditaburi garam,
Layaknya luka yang belum mengering lalu ditambahkan luka lagi,
Tapi untuk kali kesekiannya aku tak dapat berbuat apa-apa..
Kadang aku berpikir, aku layaknya boneka,
Boneka yang hanya diberi satu tujuan hidup,
Karena aku tak boleh melihat kearah yang lain,
Bahkan untuk mengintip saja aku tidak boleh..
Kadang kamu mengaitkan alasanmu hanya karena faktor uang,
Aku menyukai sosial, aku hanya ingin bekerja sosial,
Bertemu dengan orang-orang yang besar hatinya,
Apakah untuk peduli itu sungguh yang dibutuhkan hanyalah uang?
Tapi kamu selalu seperti itu, atau kamu takut aku tidak lulus kuliah kah?
Aku ingin jujur saat ini, bosan menyimpannya di dalam otak,
Aku menyukai ‘teater’, aku menyukai perkumpulan ‘utan kayu’,
Aku ingin sedikit saja bisa mengenal dan dekat dengan kedua hal itu,
Tapi kamu berkata tidak, dan kamu selalu berkata tidak..
            Betapa sakit rasanya mendengar kata itu,
            Aku tidak pantas bersama orang-orang itu,
            Begitu katamu, setiap kali aku mengutarakan inginku,
            Apakah aku seburuk itu hingga tak pantas bergaul dengan orang luar?
            Tangisan pun takkan sanggup mengungkap sakitnya..
Aku selalu tertawa, tersenyum, hingga tak ada yang tahu hal ini,
Tapi aku juga manusia, ada kalanya aku mengasihani diriku,
Kasihan karena kamu tak mau melihat inginku,
Menengok pun tidak mau, bagaimana aku bisa mendapatkan dukungan..
            Aku selalu bersemangat ketika aku mengutarakan inginku,
            Tapi kamu selalu mematahkan semangat itu,
            Menjatuhkan aku, seakan aku ini pemimpi yang naïf,
            Tak pernah terdengar lantunan semangat dari kamu,
            Lalu semuanya akan terasa gelap bagiku, semua terasa kebas..
Perasaan kebas itu layaknya teman karib,
Aku bilang aku sudah terbiasa dengan persaan kebas itu,
Apakah ini dapat termasuk dalam kategori pembunuhan jati diri?,
Atau termasuk dalam pembunuhan karakter? Atau hak asasi?
            Rasanya jahat sekali jika aku menuduh seperti itu,
            Tetapi aku, tidakkah ada yang bisa melihat aku disni?
            Adakah yang mau memberiku celah untuk itu?
            Membantuku untuk setidaknya melihatnya sesekali saja,
            Tapi, akankah ada yang datang dan memahami inginku?
            Paling tidak sekedar memahami dan berdiri disampingku,
            Membantu aku melupakan semua dan tertawa lepas..
            Membantu aku membesarkan hati ini..
Gadis itu, bangkit dari duduknya setelah hampir 1 jam ia disana, waktu yang singkat, karena biasanya ia bisa menghabiskan waktunya hingga 2 jam lebih di tempat itu untuk membaca buku, mengerjakan soal matematika atau hanya sekedar melepas penat.
***
Pagi itu, bian menilik Hpnya yang bergetar, ternyata Cuma sms dari Dika, teman cowok satu jurusan di kampusnya. “ternyata bukan dari rino” keluh bian.
Bian dan rino, mereka tumbuh bersama, persahabatan mereka dimulai sejak saat itu. 


#sampai saat ini belum bisa melanjutkan ini, pengen banget nyelesaian, tapi belum sempet.. maaf ya masih sepenggal.. *permintaan maaf untuk diri sendiri*.. :( :(

Aku, Rasa dan Dalam Diam..


Diam tak bergeming,
Memikirkan tentang semua, tapi aku tak tahu apa yang harus dilakukan,
Bergelut dengan rasa, dengan hati dan dengan akal,
Aku ingin teriak,
Meneriakkan apa yang aku rasa,
Tak peduli apakah ada yang mendengar atau tidak,
Tapi aku juga kepingin nangis,
Rasanya aku kini terpojok,
Tersudut karna aku yang mereka lihat bukan aku yang sebenarnya,
Aku mau berbicara,
Tapi lidah ini kelu, kelu sekali,
Hingga otakkupun  tak mampu membuatnya angkat bicara,
Aku sudah berkali-kali berbicara,
Tapi tetap tak ada beda,
Tak ada yang dapat benar-benar merasakan apa yang aku rasa,
Tahukan kalian,
Sungguh aku kini benar-benar merasa tersakiti,
Tidak, bukan, lebih tepatnya aku merasa limbung,
Limbung layakknya kertas yang terombang-ambing diudara karena tiupan angin,
Benar-benar merasa sperti orang linglung,
Tahukah kamu,
Aku ingin membicarakan tentang rasa,
Ya, tentang rasa,
Apa itu rasa?
Aku, kamu dan mereka tahu akan rasa,
Tapi akankah aku, kamu dan mereka dapat merasakan rasa yang sama?
Kamu bilang, ya, aku tahu apa yang kau rasa,
Mereka juga bilang, ya, kami tahu apa yang kau rasa,
Tapi sungguh itu bukan berarti kalian benar-benar dapat merasakannya,
Rasa, rasa yang ada pada setiap orang itu berbeda,
Tak ada yang benar-benar sama, apalagi identik,
Rasa, rasa tak dapat diukur, tak dapat disentuh, tak dapat dilihat,
Rasa hanya dapat dirasakan,
Rasa itu jauh berbeda dengan perasaan,
Rasa itu layaknya atom,
Karena rasa itu merupakan unsur terkecil yang tak dapat dibagi-bagi lagi,
Hanya ada satu rasa utuk satu orang,
Layaknya fungsi satu-satu pada pemetaan,
Beda halnya dengan perasaan,
Perasaan dapat dibagi, ia dapat telihat dan dapat berwujud,
Tawa, tangis, keduanya merupakan wujud dari perasaan,
Dimana di dalam tawa dan tangis ada perasaan bahagia dan sedih,
Namun tak ada yang tahu pasti seberapa besarnya,
Dan rasa terletak di dalam perasaan itu sendiri,
Rasa menjadi bagian terkecil dari perasaan yang ada,
Menjadi landasan dari semua perasaan yang terwujud,
Dan tak pernah ada orang yang benar-benar me-rasa-kan rasa yang sama,
Sekalipun mereka kembar identik,
Rasa diciptakan Tuhan layaknya Tuhan menciptakan manusia,
Tak ada yang sama, dan tak kan pernah sama,
Namun mengapa begitu sulit untukku saat ini,
Sangat sulit untukku menentukan rasa yang ada,
Sungguh, aku tak dapat mendefinisikannya lebih jauh,
Dan disini,
Aku hanya dapat terdiam,
Tak bergeming, tak bergerak, tak berbicara,
Karena sungguh, rasanya sangat sesak,
Dan aku takut terjatuh, takut mengambil keputusan,
Dan semua ketidakpastian ini,
Akankah aku dapat mengubahnya menjadi pasti,
Aku tidak tahu,
Bukan, lebih tepatnya aku belum tahu..