Postingan ini, merupakan tugas UTS saya dari dosen teori belajar matematika, saat saya masih semester 3, beliau memberikan kami membuat tugas semacam ini yang bertujuan untuk melatih kami dalam membuat portofolio perjalanan kami sebagai calon guru yang akan menu menjadi guru yang sesungguhnya, amin.. :) kata beliau nanti ini dapat membantu kami dalam proses sertifikasi. hhe..
di bawah ini adalah portofolio saya.. :)
Menjadi seorang pengajar, lebih tepatnya seorang pendidik. Yang dapat mendidik anak didiknya menjadi orang yang tidak hanya berilmu tetapi juga bermoral dan berakhlak yang baik, merupakan cita-cita saya saat ini dan akan menjadi cita-cita saya kelak. Mungkin sekitar 2 tahun yang lalu, sewaktu saya masih duduk dibangku SMA kelas 3 semester 2 awal, cita-cita menjadi seorang pendidik bukanlah cita-cita yang masuk dalam daftar cita-cita saya saat itu. Jujur saja, waktu itu saya tidak tertarik akan profesi sebagai guru, karena saya ingin menjadi ahli astrronomi, ahli arkeologi, ahli kimia atau minimal menjadi insinyur.
Awalnya karena keinginan orang tua, rasanya sakit sekali karena saya tidak diizinkan mengambil jurusan yang saya inginkan, saya hanya diberikan satu pilihan, yaitu menjadi seorang guru. Tapi saat ini bahkan seumur hidup saya, saya tidak akan pernah menyesal karena pilihan kedua orang tua saya dan saya berjanji pada diri saya sendiri untuk memberikan yang terbaik yang saya bisa lakukan untuk mereka. Alasan mereka ingin saya menjadi guru hanya karena saya seorang perempuan, yang kelak akan menjadi seorang ibu dan istri yang mempunyai tanggung jawab yang besar dalam mengurus rumah tangga dan karena seorang guru bisa pulang lebih siang untuk mengurus keluarganya, tidak harus bekerja dari pagi hingga petang. Dan saat ini saya telah benar-benar paham akan maksud perkataan kedua orang tua saya. Tidak ada salahnya menjadi seorang guru, karena menjadi seorang guru sama saja seperti menebar kebaikan untuk orang banyak.
Belajar, saya akan belajar semampu saya dan sampai saya benar-benar tidak dapat belajar lagi, salama saya masih dapat berdiri di atas kedua kaki saya dan selama mata saya masih dapat terbuka walaupun sakit menerjang tubuh ini, jika saya masih mampu berjalan saya akan belajar dan menunaikan kewajiban saya sebagai seorang siswa, tanpa ada rasa ingin menjadi orang lain tetapi harus menjadi diri saya sendiri dalam mengemban tugas yang diberikan, belajar dengan siapa saja dan dari siapa saja, tidak hanya di sekolah atau universitas, dimanapun, kapanpun, tidak hanya dari buku, dari orang-orang terpelajar bahkan dari seorang pemulung atau bahkan tukang bakso, tukang pembuat tempe, sampai supir dan kondektur metromini pun, saya dapat belajar dari mereka,bahkan saya pun masih dapat belajar dari anak didik saya. Saya dapat belajar memahami sifat orang lain, belajar tentang ketekunan, belajar tentang semangat hidup, ketegaran, tentang keadaan sosial orang lain dan sebagainya. Mungkin terlihat agak berlebihan namun satu yang pasti semua ini adalah makna belajar yang saya yakini hingga saat ini.
Megajar, saya lebih suka menyebutnya mendidik dari pada mengajar, karena seorang pendidik tidak hanya memikirkan bagaimana cara agar anak didiknya menjadi anak yang pintar tetapi memikirkan bagaimana anak didiknya dapat menjadi seorang yang tidak hanya pintar namun berkarakter, bermoral dan seorang pendidik biasanya akan membuka mata sang anak didik untuk melihat bagaimana kehidupan dunia, akan memberikan gambaran luas tentang permasalahan hidup tidak hanya mengajarkan mata pelajaran yang ia ajarkan. Dalam mendidik anak didik saya, saya akan memberikan yang terbaik yang bisa saya berikan untuk mereka, sesulit apapun mata pelajaran yang saya ajarkan, saya akan berusaha sekeras mungkin untuk mencari cara agar mereka tidak kesulitan atau setidaknya tingkat kesulitan mereka agak berkurang dalam mempelajarinya. Karena tujuan saya mendidik anak didik saya bukanlah sekedar agar mereka dapat mencapai standarisasi nilai tetapi untuk menjadikan mereka orang-orang yang dapat mengubah dunia, setidaknya dunia mereka sendiri, mereka tidak perlu menjadi seorang yang genius layaknya Einstein tapi mereka cukup menjadi orang yang percaya akan kemampuan diri mereka sendiri, orang yang mempunyai semangat juang yang tinggi, dan menjadi orang yang kuat yang mampu berdiri lagi ketika mereka terjatuh dalam roda kehidupan. Sebersit harapan saya yang mungkin menurut anda akan sangat konyol, tetapi setiap manusia itu boleh bermimpi dan berangan-angan dan inilah mimpi saya sebagai seorang pendidik.
Mengajar bidang studi matematika, bidang studi yang rata-rata anak-anak SMP atau SMA kurang menyukainya. Saya ingin menunjukkan kepada anak didik saya bahwa matematika itu tidak membosankan, matematika itu seru, dan agar mereka semangat dalam mempelajari matematika, saya akan memberi gambaran tentang peran matematika dalam kehidupan. Seperti, peran matematika dalam pengembangan ilmu statistika untuk menghitung sensus penduduk dan sebagainya, menggunakan animasi-animasi dalam praktek pengajaran di kelas agar mereka dapat menerima pelajaran saya dengan perasaan senang. Dengan ini saya harap mereka tidak hanya mempelajari matematika agar mereka lulus ujuan akhir namun agar mereka paham untuk apa mereka mempelajari matematika. Karena sejauh ini yang saya lihat bahwa, para siswa SMP atau SMA mempelajari matematika hanya agar mereka lulus ujian akhir.
Dalam praktek di kelas, saya lebih suka menggunakan perpaduan antara metode ceramah, tanya jawab serta metode diskusi. Karena saya suka jika suasana kelas itu terasa hangat karena adanya proses timbal balik antara guru dengan siswa maupun siswa dengan siswa. Siswa tidak tegang dalam mengikuti mata pelajaran saya, saya hanya akan mejelaskan materi secukupnya, kurang lebihnya saya ingin siswa yang bertanya kepada saya pada bagian mana saja yang ia tidak mengerti, jika tidak ada yang bertanya, saya akan memberikan pertanyaan atau soal kepada mereka, dan dalam kondisi ini saya akan mengizinkan mereka berdiskusi dengan temannya, dalam proses diskusi ini akan dapat terlihat sampai dimana pemahaman mereka tentang materi yang saya ajarkan, dalam diskusi ini pula terjadi proses dimana anak yang lebih pintar menjelaskan kepada temannya yang kurang mengerti. Pada tahap ini, saya sebagai seorang pendidik bertindak sebagai pemerhati, saya memperhatikan anak-anak mana saja yang paham dan anak-anak mana yang kurang paham. Dan saya akan memilih anak yang kurang paham untuk maju kedepan untuk menyelesaikan soal, hal ini bertindak sebagai penguatan agar apa yang sebelumnya ia pelajari dari temannya yang sudah paham dapat dikuatkan kembali. Kenapa saya tidak memilih anak yang sudah paham, karena anak yang sudah paham ini telah diberikan penguatan secara tidak langsung melalui temannya yang kurang paham. Saat ia mengajarkan cara penyelesaian soal kepada temannya, disinilah penguatan untuk anak yang sudah paham, ia telah mengasah kemampuannya dengan menjelaskan apa yang ia ketahui kepada temannya.
Hubungan yang dibangun antara guru dan murid biarkanlah mengalir dengan apa adanya, jika di kelas saya bertindak layaknya seorang guru, di luar kelas saya bertindak sebagai ibu sekaligus teman mereka. Jika mereka membutuhkan bantuan saya, saya akan membantunya sebisa mungkin namun hal ini tidak berlaku untuk di dalam kelas, di dalam kelas saya tetap hanya guru mereka dan mereka harus tetap mengikuti aturan saya dalam kelas, tidak ada yang boleh merasa sok dekat dengan saya atau apapun itu. Terkadang dari hubungan sebagai seorang ibu atau teman di luar kelas, saya mendapatkan banyak manfaat apalagi jika ada anak yang tiba-tiba semangat belajarnya menurun, atau ada anak yang memang sudah dari sejak awal tidak tertarik akan belajar. Saya dapat mendapatkan informasi sebanyak mungkin mengenai anak-anak yang agak bermasalah dan secepat mungkin dapat mengusahakan bagaimana caranya agar anak-anak ini kembali semangat belajarnya atau mau belajar lagi. Karena sebagai seorang guru, sebaiknya tidak langsung mengambil suatu kesimpulan bahwa anak ini malas, anak ini nakal atau sebagainya, jika hanya melihat dari tingkah laku anak di sekolah, semua tingkah laku yang mereka tunjukkan pasti mempunyai alasan mengapa mereka bertingkah seperti itu. Karena hakikatnya, setiap seorang anak mempunyai berbagai macam cara untuk mengekspresikan berbagai persaannya, dan disinilah peran seorang guru untuk dapat melihat secara dalam apa penyebab anak dapat berlaku demikian. Jika sudah tahu penyebabnya, disnilah guru bertindak sebagai seorang motivator untuk sang anak didik, memberinya arahan, mengayominya layaknya anak-anak sendiri, tidak melihat mereka sebagai seorang anak yang nakal, malas dan sebagainya. Bertindak sebagai pembangun semangat dan pemberi kepercayaan untuk sang anak didik bahwa mereka bisa menjadi seorang yang lebih baik lagi.
Saya orang yang suka memperhatikan tingkah laku orang lain secara diam-diam, jadi dalam penilaian saya tidak hanya mengambil kesimpulan bahwa anak ini cerdas, anak ini kurang cerdas dari hasil belajarnya atau tugas –tugas yang dikumpulkannya, tapi dari bagaimana mereka menunjukkan kesungguhannya dalam mengerjakan tugas tersebut, bagaimana proses mereka ingin menjadi lebih baik, bagaimana sikap mereka kepada temanya yang kurang cerdas (hal ini untuk anak yang cerdas khususnya), bagaimana cara ia memperoleh nilai yang bagus apakah mereka bertindak jujur atau tidak. Karena dari penilaian inilah saya dapat melihat sejauh mana pengajaran yang saya lakukan, apakah berhasil atau belum sepenuhnya berhasil.
Terakhir, menurut saya menjadi seorang pendidik itu bukan hanya bertugas mengajarkan mata pelajaran di sekolah agar anak didiknya mencapai standarisasi nilai, namun menjadi seorang pendidik juga layaknya seorang psikolog yang mempunyai berbagai macam pasien yang mempunyai latar belakang permasalahan yang berbeda. Begitu juga dengan seorang pendidik, seorang pendidik juga harus berlaku sebagai seorang psikolog, selain sebagai seorang pengajar, ia juga dituntut untuk mengetahui keadaan anak yang didiknya, bagaimana memecahkan masalah anak didiknya agar anak didiknya dapat menjadi seorang yang lebih baik untuk kedepannya. Dan disinilah kehebatan dari seorang guru atau pendidik, hebat bukan, selain sebagai seorang pengajar tetapi ia juga harus bertindak sebagai seorang yang dapat mengelola kadaan anak-anak di kelasnya. Dan menjadi seorang guru sangatlah menyenangkan karena saat mengajar siswa di kelas saat itu pula ilmu kita bertambah (khususnya untuk saya sendiri), bukan hanya ilmu dalam mata pelajaran, melainkan ilmu memahami orang lain, ilmu sabar dalam menghadapi orang lain, dan ilmu bagaimana menyikapi orang lain. Banyak sekali hikmah yang bisa didapatkan oleh seorang guru. Untuk itulah saya bangga menjadi seorang guru, dan saya akan belajar dengan sungguh-sungguh untuk saat ini, menjadikan diri saya sebagai seorang yang kreatif, inovatif dan imajinatif demi mencapai tujuan saya menjadi seorang pendidik yang dapat mendidik anak didiknya menjadi seorang yang dapat mengubah dunianya tanpa melupakan asas kemanuasian, agama, dan moral.
9desember2008.
Semoga saya dapat memberikan yang terbaik yang bisa saya berikan untuk ke depannya, amin..